Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Wika Beton. Foto ilustrasi: IST

Wika Beton. Foto ilustrasi: IST

Dampak Implementasi PSAK 71 terhadap Wika Beton

Parluhutan Situmorang, Kamis, 12 Maret 2020 | 00:34 WIB

PT Wijaya Karya Beton Tbk (WTON) tetap berpeluang membukukan pertumbuhan yang baik hingga akhir tahun ini, meskipun perseroan mulai menerapkan Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) 71. Implementasi PSAK 71 bisa berimbas terhadap penghapusbukuan laba ditahan dan berdampak pada laba bersih perseroan.

Analis Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, Wijaya Karya Beton (Wika Beton) diperkirakan mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang tahun ini. Sedangkan penurunan nilai aset (impairment) akibat implementasi PSAK 71 bakal membuat tingkat pertumbuhan laba bersih tahun ini di bawah perkiraan semula.

“Kami memperkirakan total kontrak baru perseroan senilai Rp 9,94 triliun tahun ini atau di bawah perkiraan manajemen. Dengan target kontrak tersebut diharapkan pendapatan dan laba bersih bertumbuh masing-masing 21,6% dan 7,9%,” tulis Maria dalam risetnya, baru-baru ini.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk memangkas turun target pertumbuhan kinerja keuangan Wika Beton tahun ini. Target laba bersih perseroan direvisi turun dari Rp 574 miliar menjadi Rp 553 miliar.

Sedangkan target pendapatan tahun ini direvisi naik dari Rp 8,17 triliun menjadi Rp 8,61 triliun. Begitu juga perkiraan perolehan kontrak baru tahun 2020 direvisi naik dari Rp 8,93 triliun menjadi Rp 9,94 triliun.

Revisi turun dipengaruhi oleh ekspektasi pemangkasan perolehan margin keuntungan bersih perseroan dari 7% menjadi 6,4%. Penurunan target laba bersih juga merupakan dampak dari penerapan PSAK 71 yang berpotensi menaikkan impairment costs perseroan menjadi Rp 75 miliar dibandingkan tahun lalu senilai Rp 10 miliar.

“Tanpa inplementasi PSAK 71, pertumbuhan laba bersih perseroan berpeluang sebesar 23,9% menjadi Rp 635 miliar tahun ini. Perseroan juga berpotensi menghapusbukukan laba ditahan sebesar Rp 237 miliar sejalan dengan penerapan PSAK 71,” ungkap Maria.

Meski target laba bersih perseroan dipangkas, Maria masih mempertahankan rekomendasi beli saham WTON dengan target harga direvisi turun dari Rp 680 menjadi Rp 530. Target harga tersebut juga telah mengantisipasi dampak wabah Virus Korona (COVID- 19) yang diprediksi tidak berimbas terhadap kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Pandangan hampir senada diungkapkan analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael. Menurut dia, implementasi PSAK 71 akan memicu kerugian di luar operasi senilai Rp 75 miliar tahun ini. Perseroan juga kemungkinan menghapusbukukan laba ditahan senilai Rp 237 miliar tahun ini sejalan dengan penerapan PSAK 71.

“Penerapan PSAK 71 akan membuat beban non-operasional perseroan meningkat yang berimbas terhadap tingkat keuntungan perseroan tahun ini,” tulis Joshua dalam risetnya.

Terkait dampak negatif meluasnya wabah Virus Korona, Wika Beton kemungkinan tidak terpengaruh besar, karena mayoritas bahan baku produksi beton berasal dari dalam negeri. Sedangkan permasalahan kemungkinan pengerjaan teknik kereta api cepat Jakarta-Bandung, namun hal tersebut juga kemungkinan bisa diatasi.

Namun, dengan adanya dampak dari penerapan PSAK 71, Mirae Asset Sekuritas memangkas turun target laba bersih Wika Beton dari Rp 554 miliar menjadi Rp 530 miliar tahun ini. Begitu juga dengan perkiraan pendapatan perseroan direvisi turun dari Rp 8,44 triliun menjadi Rp 7,76 triliun.

Meski proyeksi kinerja keuangan dipangkas, menurut Joshua, saham Wika Beton berkode WTON tetap menarik untuk dikoleksi.

“Kami menilai bahwa harga WTON sekarang tidak sesuai dengan fundamentalnya. Karena itu, kami merekomendasikan beli saham WTON dengan taget harga dipangkas dari Rp 1.000 menjadi Rp 750,” jelas Joshua.

Kontrak Baru

 Wika Beton
Wika Beton

Dirut Wika Beton Hadian Pramudita mengatakan, perseroan membidik pertumbuhan kontrak baru sebesar 38% menjadi Rp 11,47 triliun pada 2020 dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 8,3 triliun. Sedangkan laba bersih setelah implementasi PSAK 71 tahun ini diharapkan mencapai Rp 561 miliar.

Menurut dia, pertumbuhan kontrak baru diharapkan menaikkan order book kontrak perseroan tahun ini menjadi Rp 17,3 triliun.

“Penetrasi dan pengembangan pasar menjadi salah satu strategi perseroan untuk mendorong pencapaian kontrak baru di 2020. Sementara itu, perseroan juga berharap mengalami peningkatan pendapatan sebesar 34% pada 2020 menjadi Rp 9,49 triliun,” ungkapnya dalam keterangan resmi.

Tahun ini, perseroan berencana melanjutkan peningkatan kapasitas produksi beton precast menjadi sebesar 4,4 juta ton.

Untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi tahun 2020, Wika Beton menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 948 miliar.

“Mayoritas capex akan digunakan untuk pembangunan pabrik tambahan di Boyolali, Jawa Tengah dan Pasuruan, Jawa Timur, serta pembangunan pabrik di lokasi baru seperti Balikpapan, Kalimantan Timur,” kata Hadian.

Hingga akhir 2019, perseroan berhasil membukukan pertumbuhan laba bersih pada 2019 sebesar 4,95% menjadi Rp 510,71 miliar, naik dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 486,64 miliar.

Sedangkan pendapatan hanya naik tipis 2,20% menjadi Rp 7,08 triliun. Tingginya pertumbuhan laba bersih ditopang atas berjalannya efisiensi perseroan yang membuat margin laba meningkat.

Marjin bersih Wika Beton pada 2019 tercatat sebesar 7,21% atau naik 19 basis poin dibandingkan 2018. Adapun, posisi kas dan setara kas perusahaan tahun 2019 mengalami kenaikan signifikan. Hal ini merupakan imbas dari raihan arus kas operasi sepanjang 2019 sebesar Rp 1,13 triliun, atau naik signifikan dibandingkan perolehan arus kas operasi 2018 sebesar Rp 733,39 miliar.

Hadian menambahkan, tahun 2019 merupakan tahun yang menantang ketika terselenggara pemilu serentak di dalam negeri. Sementara dari luar negeri, tekanan dari perang dagang memicu meningkatnya resiko ketidakpastian yang menekan pertumbuhan ekonomi global termasuk ekonomi Indonesia. Namun, laba perseroan mampu tumbuh yang disertai perbaikan kualitas.

“Dalam kondisi tekanan ekonomi, kami mampu mencatatkan pertumbuhan laba, kami berhasil meningkatkan kembali besaran margin laba, dan kami mampu membukukan arus kas operasi di atas Rp 1 triliun, naik 54% dari tahun sebelumnya,” ungkap Hadian.

Per 31 Desember 2019, total aset perusahaan tercatat sebesar Rp 10,34 triliun naik 16,44% dibandingkan tahun 2018 sebesar Rp 8,88 triliun. Kenaikan terbesar pada aset perusahaan terjadi pada kas dan setara kas perusahaan yang naik 54% menjadi Rp 1,6 triliun. Kenaikan ini meningkatkan kondisi likuiditas perusahaan.

Tahun lalu, perseroan merealisasikan belanja modal sebesar Rp 364,74 miliar yang digunakan untuk peningkatan kapasitas pabrik sebesar 69%, pengembangan quarry sebesar 15%, dan untuk peralatan divisi operasi sebesar 9%.

Perseroan juga menyerap capex 2019 untuk pengembangan ready mix concrete sebesar 5% dan untuk perlengkapan kantor sebesar 2%. Sementara itu, kontrak baru yang diperoleh pada 2019 mencapai Rp 8,3 triliun meningkat 8,14% dari realisasi 2018.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN