Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Mandiri.Foto: Investor Daily/DAVID

Bank Mandiri.Foto: Investor Daily/DAVID

Dampak Pandemi Korona terhadap Kinerja Bank Mandiri

Parluhutan Situmorang, Rabu, 25 Maret 2020 | 13:26 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) akan menghadapi sentimen negatif perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh pandemi virus Korona atau Covid-19. Terlebih, mayoritas penyaluran kredit perseroan ke segmen korporasi. Kondisi ini bakal berimbas terhadap perlambatan pertumbuhan kredit dan kenaikan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL).

Analis Maybank Kim Eng Sekuritas Rahmi Marina dalam risetnya, mengungkapkan, potensi pelemahan permintaan kredit Bank Mandiri dipengaruhi oleh perkiraan penurunan konsumsi dan aktivitas bisnis setelah ekonomi global terpengaruh pandemi Covid-19. Permintaan kredit ekspansi perseroan juga diasumsikan lebih rendah tahun ini dan pemulihan diperkirakan cenderung mendatar hingga tahun depan.

Berdasarkan perhitungan Maybank Kim Eng Sekuritas, rata-rata pertumbuhan kredit Bank Mandiri, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) diperkirakan mencapai 7,5% tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu sekitar 8,8%.

Petugas bank menghitung uang di Bank Mandiri Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis (19/3/2020).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Petugas bank menghitung uang di Bank Mandiri Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia (BEI), di Jakarta, Kamis (19/3/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sektor perbankan ini diperkirakan tetap mengalami tantangan berlanjutnya likuiditas pendanaan, apalagi LDR hampir bank besar telah mendekati level 94%.

Meski demikian, pelemahan pertumbuhan kredit diharapkan menghindarkan bank dari kompetisi ketat dalam memperebutkan dana murah masyarakat.

Perlambatan ekonomi global dan domestik akibat dampak pandemi Covid-19 mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas untuk menurunkan proyeksi kinerja keuangan Bank Mandiri tahun ini. Perkiraan pertumbuhan kredit direvisi dari 10,2% menjadi 9% tahun ini.

NPL diperkirakan meningkat menjadi 3,2% tahun ini dibandingkan proyeksi semula 2,5%. Begitu juga dengan perkiraan laba bersih Bank Mandiri tahun 2020 yang direvisi turun sebesar 16,2% dari Rp 30,59 triliun menjadi Rp 25,64 triliun. Target laba bersih tersebut terkoreksi dibandingkan realisasi tahun lalu yang senilai Rp 27,48 triliun.

Sedangkan laba sebelum provisi diharapkan meningkat dari Rp 48,53 triliun menjadi Rp 53,47 triliun.

Terkait pemangkasan kredit, menurut Rahmi, bakal dipengaruhi oleh perlambatan perekonomian nasional tahun ini. Apalagi, mayoritas kredit Bank Mandiri dikucurkan ke sektor korporasi atau mencapai 45% dari total penyaluran kredit perseroan.

Sedangkan sisanya kredit sebesar 18% untuk sektor komersial, usaha kecil dan menengah mencapai 25%, dan sisanya consumer sebesar 12%.

“Perkiraan perlambatan ekonomi global, jatuhnya harga minyak, dan berlanjutnya pelemahan nilai tukar rupiah akan berimbas terhadap penurunan permintaan kredit nasional tahun ini. Hal ini tentu juga berimbas negatif terhadap Bank Mandiri,” ungkap Rahmi.

Didorong perlambatan ekonomi, Maybank Kim Eng Sekuritas memperkirakan, sebesar 30% pinjaman dengan perhatian khusus (special mention loans/SML) Bank Mandiri berpeluang turun menjadi bad debt, sehingga berimbas terhadap peningkatan NPL dari 2,4% tahun lalu menjadi 3,2% tahun  ini. Perseroan juga kemungkinan menaikkan provisi untuk menghadapi permasalahan kredit tersebut.

Salah satu kantor cabang Bank Mandiri. Foto: IST
Salah satu kantor cabang Bank Mandiri. Foto: IST

Hal ini mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas menurunkan target harga saham BMRI dari Rp 7.500 menjadi Rp 6.700 dengan rekomendasi dipertahankan beli. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan PBV tahun ini sekitar 1,1 kali dan ROE tahun 2020-2022 diproyeksikan mencapai 14,5%.

Sementara itu, kinerja keuangan Bank Mandiri sepanjang tahun lalu sudah sesuai dengan ekspektasi sejumlah analis.

Analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, pertumbuhan Bank Mandiri tahun ini diperkirakan tetap rendah dipicu oleh masih ketatnya likuiditas dana dan ekspektasi kondisi perekonomian dalam negeri. Bank Mandiri membukukan kenaikan laba bersih konsolidasi sebesar 9,87% menjadi Rp 27,48 triliun hingga akhir 2019 dibandingkan perolehan tahun 2018 sebesar Rp 25,01 triliun.

Pertumbuhan tersebut didukung oleh pertumbuhan bunga bersih (net interest income/NII) sebesar 6,83% secara tahunan (year on year/ yoy) menjadi Rp 61,25 triliun dan perbaikan kualitas kredit. Perseroan mencatat pertumbuhan laba bersih tahun 2019 lebih rendah dibandingkan tahun 2018 dengan kenaikan 21,2% (yoy).

Perlambatan pertumbuhan itu akibat penurunan pendapatan berbasis komisi (fee based income) sebesar 3,45% dari Rp 28,33 triliun menjadi Rp 27,35 triliun. Perlambatan pertumbuhan juga dipicu oleh penurunan NIM menjadi 5,56% tahun lalu dibandingkan tahun 2018 yang mencapai 5,66%.

Penurunan laba juga dipengaruhi oleh ketatnya persaingan penyaluran kredit yang terlihat dari pertumbuhan kredit konsolidasi Bank Mandiri yang mencapai 10,65% tahun 2019 dan pembiayaan dari offshore yang mengalir deras kepada korporasi.

“Penurunan NIM Bank Mandiri sebesar 6 bps menjadi 5,46% sepanjang tahun lalu tergolong rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen memiliki kemampuan mengelola aset dan liabilitas dengan baik di tengah agresifnya pemangkasan suku bunga Bank Indonesia,” ungkap Eka.

Danareksa Sekuritas memberikan pandangan positif atas keberhasilan manajemen Bank Mandiri dalam menerapkan manajemen risiko. Hal ini membantu perseroan untuk mendeteksi debitur bermasalah, sehingga kredit perseroan dapat dikelola dengan baik di tengah kondisi makro ekonomi dalam dan luar negeri yang dinamis.

Di lain pihak, perseroan juga berhasil memangkas biaya kredit (credit cost) menjadi 143 bps tahun lalu dibandingkan posisi tahun 2018 yang sebesar 200 bps. Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan beli saham BMRI dengan target harga Rp 9.000. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PBV tahun 2020 sebesar 1,9 kali.

Target tersebut juga mempertimbangkan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 27,5 triliun tahun lalu. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan berlanjutnya kenaikan laba bersih Bank Mandiri menjadi Rp 28,81 triliun tahun ini dan PPOP diharapkan meningkat menjadi Rp 53,94 triliun.

Target tersebut juga telah mempertimbangkan proyeksi perkiraan CoF perseroan tahun ini mencapai 3,1%.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN