Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI. Foto: DAVID

Bank BRI. Foto: DAVID

Dampak Pandemi Virus Korona, Daya Tahan BRI Paling Kuat

Parluhutan Situmorang, Selasa, 24 Maret 2020 | 06:12 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menghadapi sentimen negatif perlambatan ekonomi global yang dipicu oleh pandemi Virus Korona (Covid-19). Kondisi ini bakal mengakibatkan perlambatan permintaan kredit. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) sejumlah emiten bank diprediksi meningkat

Analis Maybank Kim Eng Sekuritas Rahmi Marina mengungkapkan, peluang pelemahan permintaan kredit dipengaruhi oleh perkiraan penurunan konsumsi dan aktivitas bisnis setelah ekonomi global terpengaruh pandemi Covid-19. Permintaan kredit ekspansi BRI juga diasumsikan lebih rendah tahun ini dan pemulihan diperkirakan cenderung mendatar hingga tahun depan.

Berdasarkan perhitungan Maybank Kim Eng Sekuritas bahwa rata-rata pertumbuhan kredit PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) diperkirakan sebesar 7,5% tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu sekitar 8,8%.

Kondisi tersebut bisa berimbas pada pemangkasan target pertumbuhan laba emiten perbankan berkisar 1-16% tahun ini.

“Meski demikian, berdasarkan hasil uji coba dengan skenario perlambatan ekonomi tersebut, BRI kemungkinan menjadi bank yang terdampak paling minim di antara sejumlah bank besar yang mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI),” tulis Rahmi dalam risetnya, baru-baru ini.

Bank BRI. Foto ilustrasi: DAVID
Bank BRI. Foto ilustrasi: DAVID

Dia menegaskan, meski sektor bank terimbas sentimen negatif akibat pandemi Covid-19, BRI diperkirakan menjadi bank dengan daya tahan paling kuat karena perseroan didukung oleh tingkat margin bunga bersih (net interest margin/NIM) paling besar yang bisa mengabsorpsi kenaikan biaya kredit.

Hal ini mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas hanya sedikit menurunkan proyeksi pertumbuhan laba bersih BRI tahun ini menjadi Rp 38,55 triliun dari perkiraan semula Rp 39,06 triliun dan pencapaian tahun 2018 yang senilai Rp 34,37 triliun. Pendapatan operasional diharapkan meningkat dari Rp 111,23 triliun menjadi Rp 119,35 triliun tahun ini.

Revisi target laba bersih tersebut telah memperhitungkan asumsi revisi turun proyeksi pertumbuhan kredit BRI tahun ini dari 9,6% menjadi 6,7%. Begitu juga dengan rasio NPL kotor direvisi turun dari semula 2,6% menjadi 3% sepanjang 2020.

“Meskipun BRI tercatat sebagai bank dengan manajemen risiko paling baik, bank pelat merah diperkirakan tidak bisa terhindar dari peluang kenaikan NPL dari kredit korporasi swasta, kredit komersial, dan usaha kecil. Ketiga segmen tersebut menyumbang sebesar 35,5% dari total kredit perseroan. Oleh karena itu, gross NPL BRI direvisi naik sekitar 40 basis poin menjadi 3% tahun ini,” ungkap Rahmi.

Berbagai faktor tersebut mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 3.900. Target harga tersebut direvisi turun dari perkiraan semula Rp 4.000. Penurunan itu didasari oleh revisi turun perkiraan kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Mesin ATM Bank BRI. Foto: DAVID
Mesin ATM Bank BRI. Foto: DAVID

Sementara itu, analis Trimegah Sekuritas Rifina Rahisa dan Willinoy Sitorus sebelumnya mengungkapkan, pencapaian kinerja keuangan BRI sepanjang 2019 sudah sesuai ekspektasi sejumlah analis. Sedangkan pertumbuhan tahun ini diharapkan lebih pesat ditopang oleh ekspektasi pertumbuhan kredit lebih pesat dan ekspektasi peningkatan margin perseroan.

BRI membukukan kenaikan laba bersih sebesar 6,15% menjadi Rp 34,41 triliun pada 2019. Pertumbuhan laba tersebut didorong oleh pendapatan bunga bersih (net interest income/ NII) yang sebesar Rp 81,71 triliun, tumbuh 5,2% (yoy).

Kemudian, pendapatan berbasis komisi (fee based income/ FBI) tumbuh 20,1% (yoy) mencapai Rp 14,29 triliun. Dengan pertumbuhan FBI yang signifikan tersebut membuat rasio fee based terhadap total pendapatan mencapai 10%.

Sedangkan faktor pendorong FBI berasal dari inovasi produk dan layanan, yaitu agen BRILink. Sebelumnya, manajemen BRI menyebutkan bahwa perlambatan pertumbuhan laba perseroan tahun lalu dipicu pelemahan hampir di semua indikator, seperti pertumbuhan kredit industri hanya 6,08%, sementara perseroan mampu tumbuh 8,44% jauh di atas industri.

Adapun menurut Rifina dan Willinoy, realisasi pertumbuhan laba bersih BRI sudah sesuai dengan ekspektasi. “Perolehan laba bersih tersebut setara dengan 97,5% dari target yang telah kami tetapkan. Sedangkan berdasarkan konsensus analis, perolehan tersebut setara dengan 99,1%,” tulis Rifina dan Willinoy dalam risetnya.

Pihaknya juga mengungkapkan kewajaran penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) perseroan menjadi 6,7% pada kuartal IV-2019 dibandingkan kuartal III-2019 yang mencapai 7%. Penurunan tersebut dipengaruhi atas ketatnya kompetisi bunga kredit di beberapa segmen.

“Kami berharap NIM dalam jangka menengah kembali meningkat didukung kredit ke segmen ultra-mikro dengan imbal hasil yang sangat tinggi,” terangnya.

Trimegah Sekuritas juga memberikan apresiasi terhadap BRI atas keberhasilannya mencetak pertumbuhan pendapatan berbasis komisi lebih tinggi, dibandingkan pendapatan bunga. Trimegah Sekuritas menyebutkan bahwa salah satu pendongkrak pertumbuhan fee base income berasal dari BRILink dan pertumbuhannya diharapkan terus berlanjut ke depan.

Terkait kinerja keuangan tahun ini, Trimegah Sekuritas menyebutkan bahwa BRI diperkirakan lanjutkan pertumbuhan tahun ini. Ditargetkan laba bersih mencapai Rp 41,98 triliun dan PPOP diharapkan meningkat menjadi Rp 71,99 triliun sepanjang tahun ini.

Tercapainya kinerja keuangan BRI sesuai ekspektasi mendorong Trimegah Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 5.400. Target tersebut juga mempertimbangkan kualitas aset perseoran yang baik dan ekspektasi berlanjutnya penurunan tingkat suku bunga perbankan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN