Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu pertambangan Adaro. Foto:  DEFRIZAL

Salah satu pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

Dampak Pergantian Kontraktor bagi Adaro

Jumat, 2 April 2021 | 23:08 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Rencana PT Adaro Energy Tbk (ADRO) mengganti kontraktor penambangan batu bara dengan menggunakan kontraktor sendiri bisa menjadi katalis positif terhadap pengendalian biaya. Sedangkan volume penjualan batu bara perseroan diperkirakan masih penuh kehati-hatian.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, PT Saptaindra Sejati (SIS), anak usaha Adaro, akan menggantikan posisi PT Pamapersada Nusantara (Grup Astra), sebagai kontraktor penambangan batu bara di areal penambangan utama. SIS akan dibantu oleh PT Bukit Makmur Mandiri Utama (Buma) sebagai kontraktor.

“Pemanfaatan kontraktor batu bara sendiri akan membuat biaya penambangan perseroan lebih kompetitif. SIS akan menangani penambangan batu bara Adaro dengan porsi 75-80%. Sisanya diberikan ke Buma,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Mengenai volume penjualan batu bara, Adaro diproyeksikan tetap menghadapi tantangan, meski rata-rata harga jual batu bara cenderung lebih tinggi tahun ini dibandingkan tahun lalu.

PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Foto: Perseroan.
PT Adaro Energy Tbk (ADRO). Foto: Perseroan.

Sementara, besarnya cadangan dan berlanjutnya diversifikasi usaha menjadi tambahan faktor positif bagi perseroan.

BRI Danareksa Sekuritas mempertahankan target produksi batu bara Adaro tahun ini sebanyak 52-54 juta ton dibandingkan realisasi tahun 2020 yang sebanyak 54,5 juta ton. Target tersebut sama dengan perkiraan tahun sebelumnya.

Adapun proyeksi volume penjualan batu bara Adaro tahun ini diturunkan dari 55 juta ton menjadi 53 juta ton. Namun, perkiraan rata-rata harga jual batu bara perseroan dipertahankan US$ 70 per ton. Ke depannya, kinerja keuangan Adaro juga bakal ditopang oleh penjualan batu bara kokas melalui Adaro MetCoal Companies (AMC). Produksi tahap pertama ditargetkan mencapai 3 juta ton. Kemudian, pengembangan fase kedua dengan target produksi sebanyak 6 juta ton.

Dengan demikian, kinerja Adaro Energy tetap prospektif dalam jangka panjang. Namun, BRI Danareksa Sekuritas tetap menurunkan target harga saham ADRO dari Rp 1.800 menjadi Rp 1.600. Penurunan target harga tersebut sejalan dengan revisi turun target kinerja keuangan perseroan. Target harga tersebut juga merefleksikan perkiraan PE tahun 2021 sekitar 12,5 kali.

Harga saham ADRO satu dekade terakhir, prospek saham ADRO, dan kinerja keuangan Adaro Energy
Harga saham ADRO satu dekade terakhir, prospek saham ADRO, dan kinerja keuangan Adaro Energy

Target harga tersebut juga telah mempertimbangkan revisi turun target laba bersih Adaro me njadi US$ 292 juta tahun ini dibandingkan perkiraan semula US$ 378 juta. Begitu juga dengan perkiraan pendapatan perseroan diturunkan dari US$ 2,92 miliar menjadi US$ 2,68 miliar. Sedangkan rasio pengupasan lapisan tanah tambang (stripping ratio) perseroan direvisi naik dari 4,5 kali menjadi 4,8 kali.

Sebelumnya, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, Adaro Energy merupakan perusahaan pertambangan batu bara dengan cadangan terbesar.

“Cadangan yang besar ini akan menjadi keunggulan kompetitif bagi perseroan dalam jangka panjang,” tulis dia dalam risetnya.

Dengan mengasumsikan produksi batu bara perseroan yang mencapai 52 juta ton per tahun, jangka waktu penambangan (life time) tambang perseroan lebih dari 20 tahun. Adaro juga memiliki mesin pertumbuhan ke depan, yaitu tambang batu bara Kestrel di Australia.

Hal itu menjadi nilai tambah bagi perseroan. Andy memprediksi harga jual batu bara pada kisaran US$ 70 per ton pada 2021 dan diharapkan meningkat menjadi US$ 75 per ton pada 2022. Namun, tren kenaikan harga jual tersebut tidak diimbangi dengan produksi yang stabil. Hal itu membuat estimasi kinerja keuangan Adaro Energy pada 2021 dan 2022 lebih rendah dari perkiraan semula.

Salah satu lokasi tambang Adaro Energy
Salah satu lokasi tambang Adaro Energy

Volume produksi batu bara perseroan tahun 2021 direvisi turun dari 54 juta ton menjadi 52 juta ton. Sedangkan harga jual diperkirakan bertahan pada level US$ 70 per ton. Dengan asumsi tersebut, perkiraan pendapatan perseroan tahun 2021 diturunkan dari US$ 2,68 miliar menjadi US$ 2,54 miliar. Estimasi laba bersih juga dipangkas dari US$ 338 juta menjadi US$ 323 juta.

Andy juga memangkas target kinerja keuangan Adaro Energy tahun 2022, seiring dengan penurunan asumsi produksi batu bara perseroan dari 56 juta ton menjadi 52 juta ton dengan perkiraan harga jual US$ 75 per ton. Hal ini membuat perkiraan pendapatan perseroan tahun 2022 direvisi turun dari US$ 3,09 miliar menjadi US$ 2,93 miliar. Sebaliknya, perkiraan laba bersih direvisi naik dari US$ 348 juta menjadi US$ 362 juta.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas menaikkan rekomendasi saham ADRO menjadi beli dengan target harga Rp 1.765. Katalis jangka pendek penguatan harga ADRO berasal dari kenaikan harga jual batu bara global.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN