Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di pabrik Kalbe Farma. Foto: IST

Salah satu kegiatan di pabrik Kalbe Farma. Foto: IST

Dampak Virus Korona bagi Kalbe Farma

Parluhutan Situmorang, Rabu, 4 Maret 2020 | 05:31 WIB

JAKARTA, investor.id - Merebaknya wabah Virus Korona ditambah penurunan margin keuntungan berpotensi memperlambat tingkat pertumbuhan kinerja keuangan PT Kalbe Farma Tbk (KLBF) tahun ini. Wabah Virus Korona diproyeksikan mengganggu suplai bahan baku produksi obat perseroan. Wabah tersebut juga memicu fluktuasi nilai tukar rupiah.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin mengungkapkan, Kalbe mencatat pertumbuhan tipis laba bersih tahun ini akibat penurunan margin kotor (gross margin) perseroan dari 46,7% menjadi 45,2%.

Sedangkan margin keuntungan bersih turun dari 11,7% menjadi 11% tahun ini. Penurunan margin keuntungan dipengaruhi atas peningkatan penjualan obat tidak bermerek atau generic dan divisi distribusi.

“Tingkat pertumbuhan keuntungan perseroan yang mengecewakan tersebut mendorong kami untuk memangkas turun target kinerja keuangan perseroan tahun 2020. Mengecewakannya pertumbuhan laba dipengaruhi atas peningkatan sumbangan penjualan obat generik dan pertumbuhan bisnis distribusi dan logistis yang cepat,” tulis Mimi dalam risetnya, baru-baru ini.

Kalbe Farma. Foto ilustrasi: dok B1
Kalbe Farma. Foto ilustrasi: dok B1

Revisi target pertumbuhan kinerja keuangan, ungkap dia, juga dipengaruhi atas peningkatan ketidakpastian pasar. Hal ini dipicu atas perkiraan perlambatan pertumbuhan ekonomi global setelah wabah Virus Korona melanda lebih dari 60 negara di dunia. “Wabah Virus Korona kemungkinan mempengaruhi ekonomi Indonesia. Hal ini mendorong kami untuk memperkirakan pertumbuhan divisi obat resep, consumer health, nutrisi, dan distribusi masing-masing 7%, 5%,8%, dan 7% sepanjang 2020,” terangnya.

Merebaknya Virus Korona telah memicu fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing. Impor bahan baku obat juga kemungkinan terganggu, apalagi sebagian besar bahan baku perseroan masih diimpor.

Begitu juga dengan penjualan consumer health akan terganggu akibat peluang penurunan daya beli masyarakat. Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas memangkas target laba bersih Kalbe Farma tahun ini dari Rp 2,78 triliun menjadi Rp 2,64 triliun.

Sedangkan proyeksi pendapatan direvisi turun sebesar 1,7% dari Rp 24,64 triliun menjadi Rp 24,21 triliun. Revisi turun kinerja keuanga tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi turun target harga saham KLBF dari Rp 1.800 menjadi Rp 1.600 dengan rekomendasi beli. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan PE tahun ini sekitr 25,9 kali.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, tingkat pertumbuhan kinerja keuangan Kalbe Farma tahun ini akan dipengaruhi mewabahnya Virus Korona yang kemungkinan berimbas negatif terhadap perseroan. “Wabah Virus Korona kemungkingan berimbas terhadap suplai bahan baku pembuatan obat perseroan tahun ini,” jelas dia dalam risetnya.

Manajemen perseroan, menurut Natalia, memang telah mempersiapkan mitigasi, apabila perseroan mengalami kesulitan impor bahan baku, seperti menggunakan dua vendor untuk menyuplai kebutuhan bahan baku obat perseroan. Hanya saja, kemungkinan sejumlah bahan baku tetap sulit untuk didatangkan setidaknya dalam beberapa bulan ke depan.

Kalbe Farma. Foto: IST
Kalbe Farma. Foto: IST

“Meski wabah Virus Korona berimbas negatif terhadap perseroan, kami menilai bahwa kasus tersebut bisa mendatangkan keuntungan bagi perseroan, khususnya terkait peningkatan kesadaran kesehatan masyarakat setelah wabah Virus Korona ini,” terangnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham KLBF dengan target harga Rp 1.800. Target harga tersebut juga mempertimbangkan peluang kenaikan laba bersih dan pendapatan perseroan tahun ini masing-masing Rp 2,85 triliun dan Rp 24,59 triliun.

Sebelumnya, Direktur Utama Kalbe Farma Vidjongtius mengatakan, Kalbe Farma berencana menambah stok bahan baku untuk mengantisipasi dampak dari Virus Korona terhadap kinerja perseroan.

Perseroan akan membeli bahan baku dari Tiongkok, India, Jepang, dan Eropa agar stok bahan bakunya tetap terjaga. “Kami sekarang sedang menginventaris dampak, seperti bahan baku apa yang perlu ditambah persediaannya. Supaya jika seandainya wabah ini berkepanjangan, kita punya stok. Karena kita tidak tahu pasti kapan selesainya Virus Korona, kita berharap jangka pendek,” ujarnya.

Hingga kini, kinerja perseroan belum terganggu wabah Virus Korona. Namun perseroan, tetap melakukan mitigasi risiko dengan menambah stok bahan baku, agar jika nanti wabah tersebut berkepanjangan perusahaan tetap bisa berproduksi.

Perseroan memilih untuk menambah stok bahan baku, dibandingkan menghentikan produksi.

“Kalau disuruh memilih tidak produksi atau inventori naik, lebih baik inventori naik. Inventori naik kami tidak rugi, karena bahan baku dibeli hanya dari modal kerja,” jelasnya.

Di Bawah Ekspektasi

Mimi Halimin menegaskan, laporan kinerja keuangan Kalbe yang belum diaudit menunjukkan hasil pertumbuhan pendapatan tergolong baik. Namun, kenaikan laba bersih di bawah ekspektasi.

“Realisasi laba bersih perseroan tahun 2019 tersebut sudah setara dengan 97,9% dari target Mirae Asset Sekuritas dan mencapai 95,4% konsensus analis. Tingkat pertumbuhan laba bersih tergolong rendah dipicu atas penurunan margin keuntungan,” jelas dia.

Kalbe Farma mengumumkan kenaikan tipis laba bersih belum diaudit menjadi Rp 2,49 triliun dibandingkan pencapaian tahun 2018 sebesar Rp 2,45 triliun. Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan pendapatan sebesar 7,4% dari Rp 21,07 triliun menjadi Rp 22,63 triliun.

Rendahnya pertumbuhan laba bersih tahun ini dipengaruhi atas penurunan margin kotor (gross margin) perseroan dari 46,7% menjadi 45,2%.

Sedangkan margin keuntungan bersih turun dari 11,7% menjadi 11% tahun ini. Penurunan margin keuntungan dipengaruhi atas peningkatan penjualan obat tidak bermerek atau generik yang menawarkan margin keuntungan rendah.

“Tingkat pertumbuhan keuntungan perseroan yang mengecewakan tersebut mendorong kami untuk memangkas turun target kinerja keuangan perseroan tahun 2020. Mengecewakannya pertumbuhan laba dipengaruhi atas peningkatan sumbangan penjualan obat generik dan pertumbuhan bisnis distribusi dan logistis yang cepat,” tulis Mimi.

Pandangan senada juga diungkapkan Natalia Sutanto. Menurut dia, penurunan margin keuntungan dipengaruhi atas peningkatan pendapatan distribusi sebesar 15,7% diikuti dengan kenaikan penjualan obat generik. Kedua bisnis ini diketahui menawarkan margin keuntungan rendah.

“Realisasi laba bersih Kalbe Farma tahun lalu setara dengan 95,4% dari target kami dan konsensus analis. Sedangkan kenaikan pendapatan perseroan tahun 2019 setara dengan 99,7% dari target Danareksa Sekuritas dan mencapai 99,8% dari perkiraan consensus analis,” jelas dia

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN