Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

Salah satu proyek pertambangan Adaro. Foto: DEFRIZAL

Diversifikasi jadi Penguat Kinerja Adaro

Parluhutan Situmorang, Rabu, 22 Januari 2020 | 09:42 WIB

JAKARTA, investor.id - Perkiraan berlanjutnya penurunan harga jual batubara masih menjadi tantangan berat PT Adaro Energy Tbk (ADRO) hingga akhir tahun ini. Sedangkan berlanjutnya diversifikasi usaha diharapkan menjadi faktor penguat kinerja keuangan perseroan di masa mendatang.

Outlook fluktuasi harga jual batubara cenderung turun tahun ini mendorong sejumlah analis untuk memperkirakan penurunan kinerja keuangan Adaro Energy sepanjang tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019.

Danareksa Sekuritas memperkirakan penurunan laba bersih menjadi US$ 428 juta pada 2020, dibandingkan perkiraan tahun lalu US$ 487 juta dan perolehan tahun 2018 mencapai US$ 418 juta. Pendapatan juga diperkirakan turun menjadi US$ 3,35 miliar pada 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 US$ 3,4 miliar dan tahun 2018 sebesar US$ 3,62 miliar.

Begitu juga dengan Sinarmas Sekuritas memperkirakan penurunan laba bersih Adaro Energy menjadi US$ 419 juta pada 2020, dibandingkan tahun 2019 senilai US$ 492 juta dan realisasi tahun 2018 sebesar US$ 418 juta. Pendapatan juga diperkirakan turun menjadi US$ 3,23 miliar pada 2020, dibandingkan proyeksi tahun 2019 mencapai US$ 3,41 miliar dan raihan tahun 2018 mencapai US$ 3,62 miliar.

Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengatkan, diversfikasi bisnis diharapkan menjadi penopang kontinuitas pertumbuhan kinerja keuangan ke depan.

“Meskipun harga jual batubara sedang konsolidasi hingga tahun ini, kami tetap menyukai Adaro didukung atas diversifikasi bisnisnya tidak hanya ke sektor pembangkit listrik tapi juga batubara coking,” terangnya dalam riset tahunan yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Danareksa Sekuritas memperkirakan harga jual batu bara masih berfluktuasi tahun ini. Sedangkan harga jual batu bara kalori rendah diperkirakan relatif stabil. Terhitung sejak awal tahun hingga saat ini, rata-rata harga jual batu bara kalori rendah naik sekitar 9,9% menjadi US$ 34,1 per ton, dibandingkan dengan batu bara kalori tinggi dengan penurunan sebesar 34,8% menjadi US$ 66,50 per ton terhitung.

Penurunan harga jual batu bara kalori tinggi, terang Stefanus, dipengaruhi atas pelemahan permintaan dari Jepang, Korea Selatan, dan Uni Eropa. Penurunan tersebut dipengaruhi atas pelemahan harga jual gas alam yang mendorong negara-negara tersebut mengalihkan penggunaan batu bara menjadi gas.

Sedangkan permintaan batubara kalori rendah mengalami kenaikan didukung atas pertumbuhan impor dari Tiongkok, apalagi setelah pemerintah negara Tirai Bambu tersebut memperketat pengawasan penambangan dan kondisi cuaca yang tidak menentu.

Danareksa Sekuritas memperkirakan produksi batu bara perseroan tahun ini mencapai 54-56 juta ton atau hampir sama dengan realisasi tahun 2019.

“Kami memperkirakan volume produksi batu bara perseroan meningkat menjadi 56 juta ton tahun ini,” ujarnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ADRO dengan taarget harga Rp 1.800. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan PE tahun 2020 sekitar 9,6 kali.

Target harga tersebut mempertimbangkan peluang kinerja keuangan perseroan menjadi US$ 428 juta tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai US$ 487 juta. Pendapatan perseroan juga diharapkan turun menjadi US$ 3,35 miliar, dibandingkan ekspektasi tahun 2019 senilai US$ 3,40 miliar.

Pandangan hampir senada diungkapkan tim riset Sinarmas Sekuritas. Menurut tim tersebut, Adaro Energy sedang memasuki momentum penurunan kinerja keuangan tahun ini dipengaruhi atas penurunan harga jual batu bara. “Kami memperkirakan penurunan EPS Adaro sekitar 15% tahun ini, seiring dengan perkiraan penurunan rata-rata harga jual batu bara perseroan sebesar 6% tahun ini,”

terangnya.

Perkiraan penurunan kinerja keuangan tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral saham ADRO dengan target harga Rp 1.650. Target harga tersebut mempertimbangkan PE tahun ini sekitar 8,5 kali.

Sebelumnya, Adaro Energy Tbk telah membagikan dividen sebesar US$ 150,01 juta kepada pemegang saham akhir tahun lalu. Dividen ini berasal dari perolehan laba bersih pada 30 September 2019.

Dividen yang akan dibagikan mencakup 31,98 miliar saham. Adapun dividen per saham mencapai US$ 0,004. “Perseroan berencana melaksanakan cum dividen di pasar regular dan negosiasi pada 2 Januari 2020. Kemudian ex dividen di pasar regular dan negosiasi pada 3 Januari 2020,” ungkap perseroan.

Sementara cum dividen di pasar tunai akan dilakukan pada 6 Januari 2020. Sedangkan ex dividen di pasar tunai pada 7 Januari 2020. “Pembayaran dividen interim akan dilakukan pada 15 Januari 2020,” ungkap manajemen Adaro dalam publikasinya, baru-baru ini.

Dividen interim ini merupakan bagian dari perolehan laba bersih pada 30 September 2019. Pada periode tersebut, perseroan membukukan kenaikan laba bersih sebesar 29,8% dari US$ 313 juta menjadi US$ 406 juta.

Realisasi tersebut setara dengan 94% dari total target laba bersih tahun ini mencapai US$ 433 juta. Namun keuntungan tersebut turun dari US$ 178 juta pada kuartal II-2019 menjadi US$ 109 juta pada kuartal III-2019.

Sedangkan pendapatan perseroan justru turun tipis dari US$ 2,66 miliar hingga September 2018 menjadi US$ 2,65 miliar sampai September 2019. Penurunan pendapatan juga tercatat dari US$ 929 juta pada kuartal II-2019 menjadi US$ 879 juta pada kuartal III- 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA