Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek PT PP. Foto: IST

Salah satu proyek PT PP. Foto: IST

Divestasi Aset dan Kontrak Baru Jadi Pendongkrak Kinerja PP

Parluhutan Situmorang, Jumat, 7 Februari 2020 | 23:55 WIB

JAKARTA, investor.id - Divestasi empat aset ditambah peningkatan kontrak baru akan membuat pertumbuhan kinerja keuangan PT PP Tbk (PTPP) lebih pesat sepanjang tahun 2020. Begitu juga dengan margin kotor perseroan diperkirakan kembali naik ke level 14% yang didukung oleh besarnya proyek di bidang EPC.

Samuel Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih PP menjadi Rp 1,35 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu sebesar Rp 1,01 triliun. Pendapatan juga diperkirakan naik menjadi Rp 26,77 triliun pada 2020, dibandingkan proyeksi tahun 2019 senilai Rp 24,23 triliun.

Sedangkan Danareksa Sekuritas memperkirakan laba bersih tahun 2019 senilai Rp 1,31 triliun dan tahun 2020 menjadi Rp 1,45 triliun. Pendapatan perseroan tahun 2019 diharapkan mencapai Rp 25,46 triliun dan diperkirakan bertumbuh menjadi Rp 28,06 triliun tahun ini. Tahun 2018, PP meraih pendapatan dan laba bersih masing-masing Rp 25,12 triliun dan Rp 1,5 triliun.

Analis Samuel Sekuritas Selvi Octaviani mengungkapkan, keberhasilan divestasi aset akan menjadi faktor utama pendongkrak kinerja keuangan perseroan tahun ini. Hal ini dapat dilihat dari keinginan manajemen perseroan untuk mendivestasi empat proyek sepanjang tahun ini.

“Divestasi empat aset tersebut berpotensi menaikkan laba bersih perseroan sebesar 17-50% tahun ini. Hal ini didasarkan sensitivity analysis yang kami lakukan dengan asumsi divestasi pada 1,3-1,7 kali PBV dan tingkat keberhasilan divestasi 50-100%,” jelas dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Keempat aset yang bakal dilepas tersebut, yaitu ruas tol Pandaan- Malang sebesar 25% saham, Prima Multi Terminal (Pelabuhan Kuala Tanjung) sebesar 25% saham, ruas tol Cisumdawu mencapai 14%, dan ruas tol Medan-Kualanamu sekitar 15%.

Selain itu, dia menjelaskan, pertumuhan kinerja keuanangan akan didukung ekspektasi kenaikan kontrak baru konstruksi menjadi Rp 40,5 triliun tahun ini. Target tersebut tergolong realistis dengan pertumbuhan 21% dari realisasi tahuan 2019 senilai Rp 33,5 triliun.

“Kami memperkirakan perseroan mampu untuk mencapai target kontrak tersebut didasarkan atas keberhasilan perseroan membukukan kontrak baru Rp 41 triliun pada 2017 dan mencapai Rp 43,5 triliun pada 2018,” terangnya.

Selain itu, dia menambahkan, perseroan diharapkan mampu untuk meningkatkan margin keuntungan kotor (gross margin) mencapai 14% didukung atas besarnya kontrak lanjutan di bidang EPC. Hal ini mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham PTPP dengan target harga Rp 2.100 per saham.

Pandangan berbeda diungkapkan analis Danareksa Sekuritas Maria Renata. Menurut dia, PP akan menghadapi perlambatan pertumbuhan kinerja keuangan akibat pemangkasan target kontrak baru tahun 2019 dan 2020. Pemangkasan tersebut juga berimbas terhadap penurunan target harga saham PTPP.

“Kami memperkirakan target kontrak baru dan kinerja keuangan PP akan di bawah estimasi manajemen perseroan untuk tahun 2020,” ungkap analis Danareksa Sekuritas Maria Renata dalam risetnya, baru-baru ini.

Hal ini mendorong Danareksa Sekuritas juga merevisi turun target harga saham PTPP dari Rp 2.900 menjadi Rp 2.300. Meski demikian, PTPP masih direkomendasikan beli. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PE sekitar 10,7 kali. Namun, target tersebut belum mempertimbangkan implementasi PSAK.

Bidik Rp 1 Triliun

Direktur Keuangan PP Agus Purbianto sebelumnya mengungkapkan, PP sedang bernegosiasi dengan sejumlah calon investor terkait rencana pelepasan saham di proyek investasi pelabuhan dan jalan tol tahun ini. Perseroan menargetkan mengantongi dana Rp 750 miliar hingga Rp 1 triliun dari divestasi tersebut.

Menurut dia, PP telah melakukan pendekatan dengan sejumlah investor dari dalam dan luar negeri terkait divestasi sahamnya pada Terminal Multipurpose Kuala Tanjung di Sumatera Utara. Namun, perseroan terlebih dulu menawarkan sahamnya kepada mitra perseroan di proyek tersebut, yakni PT Pelindo I.

“Kami bicara dulu dengan Pelindo I. Di luar itu, kami juga sempat berbicara dengan investor asing, tapi belum pada tahap yang signifikan,” jelasnya.

Pada aset jalan tol, Agus menambahkan, perseroan rencananya menawarkan calon investor sekitar 25% saham perseroan dalam jalan tol Pandaan-Malang. Saat ini, kepemilikan perseroan di jalan tol sepanjang 30,60 kilometer (km) tersebut sebesar 35%.

Aset tol lainnya, lanjut Agus, yang ditawarkan perseroan adalah Medan-Kualanamu-Tebing Tinggi. Saat ini, perseroan menguasai 15% saham pada jalan tol yang memiliki panjang 61,7 km tersebut.

Pada aset ini, perseroan berencana melepas seluruh kepemilikan sahamnya. Hingga kini, perseroan masih mematangkan valuasi dari setiap aset yang akan didivestasi. Sehingga perseroan belum dapat mengungkapkan target dana secara spesifik dari masing-masing aset yang akan dilepas.

“Divestasi adalah bagian dari sumber pembiayaan ekspansi di 2020. Sumber ekternal lain adalah dari instrumen surat utang, baik obligasi ataupun medium term notes,” jelas Agus.

Pada 2020, PP mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/ capex) sekitar Rp 6,7 triliun hingga maksimal Rp 8 triliun. Sebagian besar belanja modal akan digunakan untuk proyek di sektor air, jalan tol serta energi baru terbarukan (EBT) biomassa di wilayah Indonesia Timur. Perseroan juga berencana untuk membuat sistem instalasi Sea Water Reverse Osmosis (SWRO).

Sementara itu, Dirut PP Lukmah Hidayat mengatakan, laba bersih perseroan tahun lalu bisa mencapai Rp 1,2 triliun dan diharapkan meningkat menjadi Rp 1,4 triliun pada 2020.

“Berdasarkan tahun 2019, target laba bersih tahun 2020 itu sekitar Rp 1,4 triliun. Kita sedang menyusun mudah-mudahan dapat disetujui dewan komisaris,” jelasnya.

Peningkatan laba diharapkan berasal dari kenaikan perolehan kontrak baru menjadi Rp 43 triliun dan pendapatan sebesar Rp 30 triliun sepanjang 2020. Secara sektoral, sektor perumahan, kantor, dan apartemen masih akan menjadi incaran perseroan. Selain itu, perseroan membidik proyek-proyek jalan tol, baik sebagai kontraktor maupun investor.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA