Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok

peti kemas di pelabuhan Tanjung Priok

Ekonomi Tumbuh 5,05%, Sektor Perbankan & Infrastruktur Dinilai Menjanjikan

Mashud Toarik, Rabu, 7 Agustus 2019 | 12:36 WIB

Jakarta, investor.id – Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat geliat perekonomian pada kuartal dua 2019, tumbuh sebesar 5,05% bila dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Bahana Sekuritas menilai, angka ini menunjukan pertumbuhan ekonomi terendah sejak 2015, dalam periode yang sama. “Bahkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal dua lebih rendah dari pencapaian kuartal pertama yang mampu tumbuh sebesar 5,07% secara tahunan,” tulis Kepala Riset Bahana Sekuritas Lucky Ariesandi dalam keterangan resminya kepada Majalah Investor, Rabu (7/8/2019)

Lebih jauh Bahana Sekuritas menilai, sektor konsumer masih tumbuh cukup baik meskipun ada hambatan dari faktor global, masih kuatnya konsumsi masyarakat dinilai berasal dari pengeluaran negara untuk belanja pemilu serta adanya kenaikan gaji pokok pegawai negeri sipil (PNS), TNI dan Kepolisian sebesar 5% sejak Januari 2019, yang pencairannya sudah dilakukan pada April lalu.

‘’Namun perlu dicermati, apakah konsumsi masih akan tetap kuat dengan kemungkinan harga komoditas diperkirakan masih akan mengalami tekanan pada kuartal - kuartal selanjutnya, dengan perang dagang yang masih berlanjut,’’ paparnya.

Bila ditambah lagi dengan permasalahan pemadaman listrik yang sedang terjadi di wilayah Jawa, bila berkepanjangan, tentunya akan berisiko bagi pertumbuhan ekonomi pada kuartal tiga, tambahnya.

Sementara, Bank Indonesia telah memotong suku bunga acuan atau BI 7-Day Repo Rate sebesar 25 basis points (bps) menjadi 5,75% dari yang sebelumnya sebesar 6%, pada Juli untuk mendorong geliat perekonomian di tengah rendahnya perkiraan inflasi hingga akhir tahun ini. Babak baru kebijakan moneter longgar telah dimulai BI, setelah sejak Mei 2018, Bank Indonesia menempuh kebijakan moneter ketat untuk menjaga stabilitas nilai tukar.

Ke depan, Bank Indonesia menurut Lucky memandang masih terbuka ruang bagi kebijakan moneter yang akomodatif sejalan dengan rendahnya prakiraan inflasi dan perlunya mendorong momentum pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.

"Bila sebelumnya BI memperkirakan pertumbuhan ekonomi berada dibawah titik tengah kisaran 5% - 5,4%, dengan masih terbukanya penurunan suku bunga lebih lanjut, pertumbuhan ekonomi sepanjang tahun ini diperkirakan bisa berada diatas 5,2%," ujarnya.

Terkait kondisi tadi, Bahana menilai sektor perbankan khususnya bank yang memiliki current account and saving account (CASA) atau yang lebih dikenal dengan dana murah sedikit akan diuntungkan karena beban untuk biaya dana akan turun, juga bank yang memiliki loan to deposit ratio (LDR) tinggi akan mendapat dampak positif karena bunga pinjaman masih relative tinggi.

Sektor infrastruktur terkait telekomunikasi dan konstruksi juga akan mendapat keuntungan karena sektor-sektor ini memiliki utang yang cukup besar, dengan adanya trend penurunan suku bunga ini, maka beban biaya pinjaman akan turun. ‘’Sektor properti dan otomotif yang sangat sensitif terhadap suku bunga juga akan diuntungkan karena penurunan bunga kredit akan mendongkrak penjualan properti, mobil dan motor,’’ papar Lucky.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN