Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ekspansi MNC di bisnis media. Foto:  Investor Daily/IST

Ekspansi MNC di bisnis media. Foto: Investor Daily/IST

Ekspansi Besar-besaran MNC di Bisnis Digital

Parluhutan Situmorang, Selasa, 11 Februari 2020 | 19:18 WIB

JAKARTA, investor.id - Ekspansi besar-besaran bisnis digital akan menjadi mesin pertumbuhan kinerja keuangan PT Media Nusantara Citra Tbk (MNCN) dalam beberapa tahun mendatang. Sedangkan peningkatan harga iklan televisi tidak berbayar (free to air/FTA) diharapkan penopang pertumbuhan kinerja keuangan dalam jangka pendek.

Analis Danareksa Sekuritas Andreas Kenny dan Ignatius Teguh Prayoga mengungkapkan, pertumbuhan pendapatan bisnis digital bersamaan dengan peningkatan tarif iklan akan menjadi faktor utama peningkatan kinerja keuangan perseroan ke depan. “Kami memperkirakan platform digital RCTI+ akan menjadi mesin pertumbuhan perseroan tahun ini dan ke depan,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

RCTI+ merupakan layanan video on-demand dan over-the-top di Indonesia yang menawarkan jasa siaran langsung televisi FTA, perpustakaan, dan konten kreatif. Mayoritas konten kreatif RCTI+ hanya bisa diakses penggunanya terdiri atas adegan salah (bloopers), adegan di belakang layar (behind the scene), audisi, kuis, dan serial web.

Ekspektasi pertumbuhan bisnis digital tersebut, ungkap dia, ditunjukkan tren peningkatan penonton RCTI+. Bahkan, jumlahnya diharapkan bertumbuh pesat sejalan dengan rencana perseroan untuk menyiarkan program AFF dan piala EURO tahun 2020. “Platform RCTI+ berhasil mencetak pendapatan sebesar Rp 80 miliar tahun lalu dan ditargetkan melonjak menjadai Rp 300-400 miliar tahun ini. Kenaikan didukung atas peluncuran sejumlah program khusus untuk menarik penonton,” ujarnya.

Perseroan juga diperkirakan berhasil mencetak kenaikan pendapatan televisi tidak berbayar didukung rencana kenaikan tarif iklan. Menurut dia, kenaikan tarif iklan tersebut juga sejalan dengan peningkatan pangsa pemirsa sejumlah stasiun televisi perseroan, khususnya MNC TV. Hal ini diharapkan mendongkrak kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Terkait rencana perseroan menerbitkan saham baru tanpa hak memesan efek terlebih dahulu, dia mengatakan, telah disetujui pemegang saham tahun lalu. Aksi korporasi ini kemungkinan direalisasikan pada kuartal II tahun ini. Aksi korporasi ini kemungkinan mendorong harga saham perseroan bergerak positif ke depan.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham MNCN dengan target harga Rp 1.900. Target harga tersebut merefleksikan realisasi kinerja keuangan perseroan tahun 2019 di atas perkiraan. Target tersebut juga memperkirakan EV/EBITDA sekitar 7,7 kali.

Target harga tersebut juga memperkirakan kenaikan laba bersih MNC menjadi Rp 2,30 triliun tahun 2020 dan diperkirakan bertumbuh menjadi Rp 2,57 triliun pada 2021. Sedangkan pendapatan diharapkan bertumbuh menjadi Rp 8,61 triliun tahun 2020 dan senilai RP 9,18 triliun pada 2021.

Pandangan senada diungkapkan analis Samuel Sekuritas Indonesia Gusti Angga. Menurut dia, ekspansi bisnis digital melalui RCTI+ yang telah diluncurkan sejak tahun lalu diharapkan menjadi faktor utama pendongkrak kinerja keuangan ke depan. “Sejak diluncurkan, RCTI+ telah mendapatkan pelanggan aktif bulanan (monthly active users/MAU) sebanyak 3,7 juta akhir Oktober 2019,” terangnya.

Pertumuhan juga akan didukung atas peningkatan subscribers melalui saluran Youtube. Menurut dia, jumlah subscribers perseroan bertumbuh 9,4% menjadi 51,5 juta hingga akhir Oktober 2019. Sedangkan jumlah views naik menjadi 22,1 miliar atau bertumbuh 4,9% per bulan.

Dia mengatakan, pertumbuhan kinerja keuangan juga akan ditopang atas hak siar kompetisi Euro 2020 dan AFC tahun 2020-2024. “Sebagai salah satu kompetisi sepak bola internasional plaing bergengsi di Eropa dan Asia, tentu akan menarik banyak penonton stasiun televisi FTA perseroan,” terangnya.

Potensi pertumbuhan kinerja perseroan, ungkap dia, bakal datang dari kerja sama dengan iQiyi untuk mengintegrasikan konten video dan membentuk satu platform layanan dengan konten berupa data, informasi, atau multimedia melalui jaringan internet atau (over the top/OTT) di Indonesia. MNC dan iQiyi akan mengembangkan platform streaming video terbesar di Asia, seperti Tiongkok dan Indonesia.

Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham MNCN dengan target harga Rp 1.750. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan PE tahun ini sekitar 10,6 kali. Target tersebut juga merefleksikan perkiraan pertumbuhan kinerja keuangan dalam jangka panjang.

Samuel Sekuritas memperkirakan peningkatan laba bersih perseroan menjadi Rp 2,32 triliun tahun ini dan pendpatan diharapkan bertumbuh menjadi Rp 8,98 triliun. Begitu juga dengan laba bersih tahun 2021 diharapkan naik menjadi Rp 2,58 triliun dan pendapatan menjadi Rp 9,72 triliun.

Lampaui Target

Perseroan berhasil membukukan lonjakan laba bersih sebesar 46,5% menjadi Rp 2,35 triliun pada 2019, dibandingkan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 1,60 triliiun. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan kenaikan pendapatan perseroan sebesar 12,2% dari Rp 7,44 triliun menjadi Rp 8,35 triliun.

Realisasi laba bersih perseroan tersebut telah melampaui estimasi yang ditetapkan Danareksa Sekuritas atau setara dengan 105,2% dari target tahun 2019. Sedangkan pencapaian pendatan setara dengan 104,4% dari target Danareksa Sekuritas dan 101,7% dari perkiraan konsensus analis.

“Perseroan menunjukkan perbaikan kinerja seluruh divisi secara signifikan tahun lalu. Sedangkan pertumbuhan paling pesat disumbangkan bisnis digital perseroan melalui Yuotube. Begitu juga dengan bisnis portal berita berhasil merealisasikan kenaikan pendapatan,” tulis analis Andreas dan Ignatius.

Perseroan mencatatkan lonjakan pendapatan digital hingga dua kali atau mencapai 167,1% menjadi Rp 697,4 miliar tahun 2019. Sedangkan pendapatan iklan televisi tumbuh 5,5% menjadi Rp 7,4 triliun. Lonjakan pendapatan digital berasal dari konten dalam Youtube melalui multi channel network (MCN). Pertumbuhan juga didukung atas dominasi perseroan di pangsa pasar pemirsa stasiun televisi sebesar 36,1%.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA