Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Ekspansi Vale Indonesia Berlanjut

Kamis, 26 November 2020 | 04:29 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) sedang gencar meningkatkan kapasitas produksi dan diharapkan menjadi penopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang. Sedangkan tren peningkatan permintaan nikel untuk bahan baku baterai mobil listrik bakal menjadi faktor pendongkrak harga jual komoditas tersebut dalam jangka panjang.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, Vale Indonesia sedang melanjutkan ekspansi kapasitas produksi untuk menopang pertumbuhankinerja keuangan ke depan.

Sedangkan di pasar nikel, perseroan mengindikasikan bahwa permintaan nikel kelas satu untuk bahan baku baterai tetap solid ke depan. Begitu juga permintaan nikel kelas dua untuk bahan baku pembuatanbaja nirkarat diperkirakan surplus tahun ini.

“Untuk mendongkrak produksi nikel Vale Indonesia sejalan dengan peningkatan permintaan pasar, perseroan merencanakan peningkatan kapasitas produksi nikel menjadi 90 ribu ton dari perkiraan saat ini sekitar 75-80 ribu ton. Peningkatan kapasitas akan dilakukan dengan pengembangan fasilitas pemrosesan nikel baru di Sorowako, Sulawesi Selatan,” tulis Stefanus dalam risetnya.

Vale Indonesia. Foto ilustrasi: dok. ID
Vale Indonesia. Foto ilustrasi: dok. ID

Saat ini, dia menyebutkan, manajemen Vale Indonesia sedang melakukan studi visibilitas untuk penambahan satu jalur produksi rotary kiln electric furnace (RKEF) untuk memproduksi feronikel dengan kapasitas produksi mencapai 10 ribu ton. Perseroan menargetkan peningkatan kapasitas produksi terwujud sebelum kontrak kerja berakhir tahun 2025.

Vale Indonesia juga sedang merencanakan dua proyek jangka panjang yang hingga kini masih dalam tahap studi kelayakan dan ditargetkan sudah ada kesimpulan investasinya pada akhir 2021. Proyek pertama adalah fasilitas pemrosesan RKEF di Bahodopi,Sulawesi Tengah, yang bekerjasama dengan perusahaan asal Tiongkok untuk membangun nickel pig iron (NPI).

Sedangkan proyek kedua yang sedang memasuki studi, ungkap Stefanus, adalah fasilitas pemrosesan smelter HPAL (high pressure acid leach) di Pomalaa, Sulawesi Tenggara. Perseroan bermitra dengan Sumitomo Metal Mining untuk menggarap smelter baru tersebut yang diperkirakan menelan investasi sekitar US$ 2,5 miliar. Smelter tersebut ditargetkan kapasitas produksi 40 ribu ton per tahun. Proyek ini bisa dilanjutkan dengan rata-rata harga pembelian nikel sebesar US$ 16-18 ribu per ton.

Jika investasi ini berjalan lanjar dibutuhkan waktu 4-5 tahun untuk pembangunan fasilitas. Terkait pasar nikel, menurut Stefanus, diperkirakan surplus tahun ini dengan asumsi beberapa produsen nikel beroperasi secara normal, khususnya produksi nikel kelas dua untuk baja nirkarat. Hal berbeda untuk pasar nikel kelas satu yang diprediksi tetap solid dalam jangka panjang.

“Kami memperkirakan permintaan nikel kelas satu untuk kebutuhan baterai mobil listrik akan tetap solid,” sebut dia.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham INCO dengan target harga Rp 5.200. Target harga tersebut menggambarkan ekspektasi harga nikel yang solid ke depan dan tren peningkatan kinerja keuangan yang didukung oleh pengembangan proyek di Pomalaa dan Bahodopi. Target tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2021 sekitar 30,8 kali.

Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL
Vale Indonesia. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Target harga tersebut juga mencerminkan perkiraan peningkatan laba bersih Vale Indonesia menjadi US$ 92 juta tahun ini dan diharapkan melonjak menjadi US$ 115 juta pada 2021, dibandingkan realisasi tahun lalu US$ 57 juta.

Pendapatan juga diharapkan tumbuh menjadi US$ 797 juta dan menjadi US$ 899 juta pada 2021, dibandingkan perolehan tahun lalu US$ 782 juta.

Sebelumnya, analis Trimegah Sekuritas Hasbie dan Willinoy Sitorus mengungkapkan, pertumbuhan industri mobil listrik ditambah penurunan pasokan nikel global akan menjadi faktor utama pendongkrak keuntungan bersih Vale Indonesia sepanjang tahun ini.

Kedua faktor tersebut akan menaikkan harga jual komoditas tersebut yang berdampak pada peningkatan margin keuntungan perseroan.

Sejak pelarangan ekspor bijih nikel diterapkan oleh Pemerintah Indonesia, harga jual komoditas ini berangsurangsur membaik terhitung sejak Maret 2020. Bahkan, kenaikan juga didukung oleh percepatan pemulihan ekonomi Tiongkok dan rendahnya pasokan nikel global dari Indonesia. Pelarangan ekspor nikel berimbas terhadap turunnya suplai bijih nikel di Tiongkok hingga 70% yang diimpor dari Indonesia.

Sedangkan produksi baja nirkarat Tiongkok meningkat sekitar 8,5% pada semester I-2020, seiring dengan ekonomi Tiongkok yang mulai rebound.

Selain faktor pelarangan ekspor bijih nikel dan lonjakan permintaan dari Tiongkok, peningkatan permintaan bijih nikel bakal didukung oleh lonjakan industri kendaraan listrik dengan target pangsa pasar mencapai 10% pada 2025 dibandingkan realisasi tahun 2019 sebesar 2,5%. Pangsa pasar mobil listrik diprediksi kembali bertumbuh sebesar 28% pada 2030 dan mencapai 58% pada 2040.

Target pangsa pasar mobil listrik tersebut setara dengan rata-rata pertumbuhan tahunan penjualan kendaraan listrik mencapai 26,2% dari tahun 2019 hingga 2025.

Sedangkan berdasarkan data tahun 2019, sebesar 7% dari konsumsi nikel dunia terpakai untuk baterai mobil listrik. Jika diasumsikan penjualan kendaraan listrik mencapai 8,5 juta per tahun pada 2025, maka dibutuhkan sebanyak 164 ribu ton nikel per tahun untuk mendukung kendaraan listrik tersebut. Angka tersebut setara dengan 6,9% dari total konsumsi nikel global tahun 2019.

“Peningkatan penjualan mobil listrik tentu juga harus didukung oleh penguatan infrastruktur dan harga jual yang sesuai dengan permintaan pasar. Saat ini, harga baterai mencapai US$ 160 per kwh dan diharapkan turun di bawah US$ 100 per kwh pada 2024,” tulis Hasbie dan Willinoy dalam risetnya.

Trimegah Sekuritas memproyeksikan kenaikan laba bersih Vale Indonesia menjadi US$ 93 juta tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu mencapai US$ 57 juta.

Lonjakan laba bersih akan didukung oleh peningkatan margin keuntunganbersih (net margin) perseroan dari 7,3% menjadi 12,3%.

Sedangkan pendapatan perseroan diperkirakan turun dari US$ 782 juta menjadi US$ 758 juta sepanjang 2020.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN