Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Indonesia - 2

Bank Indonesia - 2

GWM Turun, Laba Bersih Bank Berpotensi Meningkat di 2020

Mashud Toarik, Minggu, 1 Desember 2019 | 13:14 WIB

Jakarta, Investor.id – Bank Indonesia selaku otoritas moneter terus berupaya menopang pertumbuhan ekonomi dan menjaga stabilitas nilai tukar. Langkah ini dilakukan seiring kondisi perang dagang dan pelemahan global yang berkepanjangan.

Analis yakin bauran kebijakan pada semester dua tahun ini akan berdampak positif bagi industri perbankan khususnya untuk menjaga laba bersih, meski likuiditas di pasar masih cukup ketat.

Sebagaimana diketahui, Bank Indonesia telah menempuh pelonggaran moneter baik dengan menurunkan suku bunga acuan secara bertahap sejak Juli dengan total penurunan sebesar 100 basis points (bps) menjadi 5%, untuk menopang pertumbuhan ekonomi saat inflasi terjaga stabil rendah.

Sementara untuk menambah ketersediaan likuiditas di pasar dan mendorong bank untuk menyalurkan kredit, pada Juni dan November BI giro wajib minimum (GWM) rupiah untuk bank konvensional dan syariah secara total masing – masing turun sebesar 100 bps menjadi 5,5% untuk bank konvensional dan 4% untuk bank syariah.

Bahana Sekuritas menilai, dengan pelonggaran GWM yang dilakukan pada November dan yang akan berlaku pada Januari 2020, menambah likuiditas di sistem perbankan sekitar Rp 26 triliun, meski tidak terlalu besar, namun pelonggaran ini menjadi sinyal kepada pasar bahwa, BI sedang menempuh kebijakan akomodatif yang masih akan berlanjut hingga tahun depan, karena rasio kredit terhadap simpanan atau yang lebih dikenal loan to deposit ratio (LDR) masih berada dikisaran 97% hingga September 2019.

"Penurunan GWM tidak serta merta mendorong kemampuan bank untuk menyalurkan kredit, karena tambahannya bagi pertumbuhan kredit diperkirakan sekitar 0,5%, sehingga dampaknya bagi penurunan LDR hanya sekitar 40 bps, namun bagi sebagian bank besar pelonggaran ini akan berdampak positif bagi peningkatan laba bersih yang diperkirakan melebihi 1%,’’ terang Analis Bahana Sekuritas Prasetya Christy Gunadi sebagaimana dikutip Majalah Investor dari siaran pers Bahana Sekuritas, Minggu (1/12/2019).

Hingga akhir September 2019, kredit perbankan tumbuh sebesar 7,89% dibanding periode yang sama tahun lalu. Anak usaha Bahana Pembinaan Usaha Indonesia (BPUI) ini memperkirakan hingga akhir tahun ini kredit bank akan tumbuh dikisaran 9% dan akan tumbuh dikisaran 10% pada 2020, dengan telah mempertimbangkan pengaruh dari pemotongan suku bunga acuan dan pelonggaran GWM.

‘’Pemotongan GWM akan memberi ruang lebih besar bagi perbankan untuk membukukan pendapatan dari bunga kredit daripada bunga yang diperoleh dari penempatan dana di BI melalui GWM,’’ ujar Prasetya. 

Bahana merekomendasikan beli untuk saham Bank Rakyat Indonesia(BBRI) dengan target harga Rp 5.300/lembar saham, karena sebagai bank yang fokus membiayai usaha menengah kecil dan mikro (UMKM) mengenakan bunga kredit yang lebih tinggi dibanding bank besar lainnya seperti Bank Mandiri, Bank Central Asia dan Bank Negara Indonesia (BNI), dengan rasio kredit bermasalah yang terjaga. Dengan pelonggaran GWM, laba bersih BBRI diperkirakan akan naik sekitar 1,07% pada 2020.

Rekomendasi beli juga diberikan untuk Bank Mandiri, dengan target harga Rp 9.000/lembar saham, karena bank yang memiliki kode saham BMRI ini fokus untuk menjaga pendapatan bunga bersih atau net interest margin (NIM) dan memperbaiki rasio kredit bermasalah. Pelonggaran GWM diperkirakan akan membantu kenaikan laba bersih Bank Mandiri sebesar 1,04% pada 2020.  

 

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA