Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
London Sumatera. Foto: David Gita Roza

London Sumatera. Foto: David Gita Roza

Harga CPO Naik, Lonsum Paling Diuntungkan

Selasa, 8 September 2020 | 13:18 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Penurunan produksi minyak kedelai dunia akibat kondisi cuaca dan peningkatan permintaan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) India dan Tiongkok pada semester II tahun ini bisa menjadi sentimen positif terhadap PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau Lonsum. Peningkatan permintaan tersebut mendorong kenaikan rata-rata harga jual CPO dalam beberapa bulan terakhir.

Analis Danareksa Sekuritas Andreas Kenny mengungkapkan, permintaan minyak nabati dari Tiongkok dan India mulai terdongkrak naik, karena sentimen menjelang perayaan Diwali di India dan prediksi La Nina dalam waktu dekat. Kenaikan harga tersebut sesuai perkiraan Danareksa. Saat ini, selisih antara harga CPO dan minyak kedelai semakin menyempit.

“Kenaikan harga CPO diprediksi terus terjadi dalam beberapa bulan ke depan,” tulis Andreas dalam riset terbaru.

Kenaikan harga jual CPO juga dipengaruhi oleh penurunan produksi minyak kedelai di Amerika Serikat (AS) akibat cuaca kering yang melanda bumi bagian selatan. Kenaikan juga dipengaruhi oleh sentiment La Nina. Hal itu diperkirakan membuat produksi kedelai di negara tersebut turun 5% tahun ini.

Pekerja di kebun sawit. Foto ilustrasi: B1photo/Danung Arifin
Pekerja di kebun sawit. Foto ilustrasi: B1photo/Danung Arifin

Sebab itu, Danareksa Sekuritas mempertahankan rata-rata harga jual CPO di atas MYR 2.500 per ton pada semester II-2020. Saham Lonsum atau LSIP dan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) paling diuntungkan dari situasi tersebut. LSIP dan AALI direkomendasikan beli dengan target harga masing-masing Rp 1.300 dan Rp 12.500.

Di lain pihak, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, rata-rata harga jual CPO diprediksi mencapai MYR 2.500 per ton tahun ini, kemudian bakal kembali naik menjadi MYR 2.600 per ton.

Hal itu ditopang oleh permintaan CPO dari India dan Tiongkok yang cenderung meningkat pada semester II tahun ini. Prediksi kenaikan harga jual tersebut juga didukung oleh analisis produksi CPO Malaysia yang diperkirakan turun hingga 500 ribu ton menjadi 19,4 juta ton tahun ini.

Sedangkan volume produksi CPO Malaysia tahun 2021 diperkirakan naik menjadi 19,6 juta ton.

Adapun ekspor CPO Malaysia diperediksi turun tahun ini sebesar 11% menjadi 16,5 juta ton dan meningkat menjadi 17,3 juta ton pada 2021.

Begitu juga dengan produksi CPO Indonesia diperkirakan turun menjadi 42,5 juta ton akibat cuaca hujan di Kalimantan dan Sulawesi.

Sedangkan konsumsi CPO dalam negeri menunjukkan penurunan setelah pemerintah merevisi turun target konsumsi biodiesel (B30) dari 9,6 juta liter menjadi 8 juta liter setelah terimbas pandemi Covid-19.

Menurut Andy, impor CPO India diprediksi mencapai 5,8 juta ton tahun ini atau turun sebanyak 11% dari realisasi tahun lalu. Impor tersebut diprediksi meningkat menjadi 6,1 juta ton pada 2021.

Adapun impor CPO  Tiongkok diproyeksikan anjlok 15% menjadi 6,4 juta ton tahun ini dan diharapkan meningkat menjadi 6,7 juta ton pada 2021. Mirae Asset Sekuritas mempertahankan overweight saham sektor perkebunan sawit dengan pilihan teratas saham LSIP dan AALI. Saham LSIP direkomendasikan beli dengan target harga Rp 1.365 yang mengimplikasikan proyeksi PE tahun ini 16,5 kali.

Begitu juga dengan AALI dengan target harga Rp 13.400 yang merepresentasikan estimasi PE tahun ini sekitar 27,4 kali.

Neraca Kuat

Kebun sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
Kebun sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Sementara itu, analis Trimegah Sekuritas Aditya Nugraha, Samuel Mailoa, dan Sebastian Tobing mengungkapkan, Lonsum merupakan perusahaan perkebunan kelapa sawit dan CPO yang memiliki neraca keuangan paling sehat dengan posisi kas bersih senilai Rp 1,6 triliun hingga kuartal II-2020.

Sedangkan emiten sejenis, seperti Astra Agro dan PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), tercatat memiliki utang bersih.

“Posisi kas bersih kemungkinan juga dipengaruhi oleh rendahnya aktivitas penanaman baru atau penanaman kembali di lahan perseroan dalam beberapa tahun terakhir. Hal ini membuat rata-rata usia sawit tertanam perseroan dalam lima tahun terakhir meningkat dari 13 tahun pada 2015 menjadi 16 tahun pada 2019,” tulis Aditya, Samuel, dan Sebastian dalam risetnya.

Mereka juga memperkirakan bahwa kinerja keuangan Lonsum cenderung menguat pada paruh kedua tahun ini. Asumsi tersebut berdasarkan perkiraan rata-rata harga jual CPO yang meningkat menjadi MYR 2.613 per ton atau lebih tinggi 5% dari pencapaian perseroan pada kuartal I-2020.

Ekspektasi peningkatan kinerja keuangan itu juga ditopang oleh perkiraan kenaikan volume produksi dan penjualan CPO dengan peak season diperkirakan terjadi pada Juli- Oktober tahun ini.

Lonjakan tersebut berdasarkan siklus perseroan bahwa 56% volume produksi perseroan dihasilkan pada paruh kedua setiap tahun.

Trimegah Sekuritas merevisi naik target volume penjualan CPO Lonsum dari 350 ribu ton menjadi 415 ribu ton tahun ini. Begitu juga dengan produksi tandan buah segar (TBS) sawit perseroan diharapkan meningkat dari 1,53 juta ton menjadi 1,82 juta ton. Rata-rata harga jual direvisi naik dari Rp 7,65 juta per ton menjadi Rp 7,72 juta per ton.

Revisi naik kinerja operasional tersebut mendorong proyeksi pendapatan Lonsum tahun ini dinaikkan dari Rp 3,69 triliun menjadi Rp 4,35 triliun. Perkiraan EBITDA juga direvisi naik dari Rp 959 miliar menjadi Rp 1,01 triliun.

Sedangkan laba bersih tahun ini direvisi naik dari Rp 465 miliar menjadi Rp 551 miliar. Perubahan sejumlah asumsi kinerja operasional dan keuangan Lonsum tersebut.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN