Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Satrio Utomo, pengamat pasar modal (Foto: Ist)

Satrio Utomo, pengamat pasar modal (Foto: Ist)

Hati-hati, Rekomendasi Saham 'Influencer' Sering Menyesatkan

Kamis, 7 Januari 2021 | 08:50 WIB
Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

JAKARTA, Investor.id – Para investor di pasar saham mesti  berhati-hati  menyikapi kinerja saham suatu emiten yang "direkomendasikan" sejumlah influencer dan public figure di media sosial (medsos). Tak semua saham  yang diposting  mereka berkinerja bagus dan punya prospek cerah, baik secara teknikal maupun fundamental. Bahkan,  rekomendasi mereka sering menyesatkan.

"Selain itu, bisa saja para influencer dan public figure tersebut punya kepentingan terhadap saham-saham yang dipublikasikannya di medsos, baik untuk posisi jual maupun posisi beli," kata pengamat pasar modal, Satrio Utomo kepada Investor Daily di Jakarta, Rabu (6/1) malam.

Satrio Utomo mengungkapkan hal itu untuk merespons perilaku sejumlah influencer dan public figure, dari mulai Raffi Ahmad (artis/Youtuber), Ari Lasso (musisi), Ustaz Yusuf Mansur (pengusaha/dai), hingga Kaesang Pangarep (pengusaha muda/putra Presiden Jokowi) yang kerap me-mention saham unggulannya di medsos. Biasanya, setelah dipajang di medsos, saham-saham tersebut bergerak naik.

Bursa Efek Indonesia (BEI) dikabarkan akan memanggil mereka untuk "berdiskusi". BEI juga bakal mengingatkan para influencer dan public figure tersebut  tentang pentingnya tanggung jawab moral dan kemungkinan potensi tuntutan hukum jika ada follower yang dikecewakan akibat rekomendasi mereka.

Satrio Utomo mengakui, ada sisi positif saat para influencer dan public figure memublikasikan suatu saham emiten di medsos. Postingan mereka turut mendorong masyarakat untuk berinvestasi di pasar saham. Apalagi mereka punya banyak follower di medsos.

Meningkatnya jumlah investor ritel domestik di pasar saham, menurut Satrio Utomo, akan menjadikan pasar modal Indonesia lebih tangguh, sehat, stabil, dan tahan guncangan. Namun, ada pula sisi negatifnya.

"Sisi negatifnya, apa yang 'direkomendasikan' mereka belum tentu benar. Selain punya pengetahuan yang terbatas untuk menganalisis sebuah saham emiten, mereka bisa saja punya maksud terselubung, baik untuk mengambil posisi jual maupun posisi beli untuk saham yang 'direkomendasikan'-nya," papar Co-Founder Sahamology tersebut.

Dia mencontohkan, saat me-mention saham yang valuasi atau rasio harga terhadap laba bersih per saham (price to earning ratio/PER)-nya sudah sangat tinggi, sang influencer patut dicurigai telah melakukan aji mumpung (moral hazard) jika  terindikasi merekomendasikan beli, dengan tujuan agar harga sahamnya semakin mahal sehingga ia bisa meraup  capital gain lebih besar. Hal sebaliknya berlaku bila  influencer  ingin memborong saham dengan harga murah.

Tidak Melanggar UU

Satrio Utomo mengakui, postingan saham oleh para influencer dan public figure di medsos sejauh ini tidak mengandung indikasi pelanggaran terhadap aturan pasar modal, khususnya Undang-Undang (UU) No 8 Tahun 1995 tentang Pasar Modal. "Yang perlu dicermati mungkin indikasi moral hazard-nya," tutur dia.

Berdasarkan Pasal 35 poin a, perusahaan efek atau penasihat investasi dilarang menggunakan pengaruh atau mengadakan tekanan yang bertentangan dengan kepentingan nasabah.

Adapun poin a Pasal 35 menyatakan, perusahaan efek atau penasihat investasi dilarang merekomendasikan kepada nasabah untuk membeli atau menjual efek tanpa memberitahukan adanya kepentingan perusahaan efek dan penasihat investasi dalam efek tersebut.

"Jadi, jika mengacu Pasal 35 UU Pasar Modal, sepanjang tidak menyebut 'beli' atau 'jual', berarti tidak ada indikasi pelanggaran," ujar Satrio Utomo.

Satrio menegaskan,  para  influencer dan public figure  tidak hanya  harus mematuhi  aturan yang berlaku di pasar modal dalam negeri. Mereka juga  punya tanggung jawab moral untuk ikut membangun pasar modal domestik yang sehat,  adil,  dan kredibel, serta memberikan manfaat  optimal  bagi seluruh pemangku kepentingan (stakeholders).

Penjara 10 Tahun

Catatan Investor Daily menunjukkan, UU Pasar Modal  juga mengatur ketentuan tentang informasi menyesatkan di pasar.  Ketentuan itu antara lain termaktub dalam Pasal 91  dan Pasal 93.

Pasal 91  menyebutkan,  setiap pihak dilarang melakukan tindakan, baik langsung maupun tidak langsung, dengan tujuan menciptakan gambaran semu atau menyesatkan mengenai kegiatan perdagangan, keadaan pasar, atau harga efek di bursa efek.

Sementara itu, Pasal 93 UU Pasar Modal menggariskan, setiap pihak dilarang, dengan cara apa pun, membuat pernyataan atau memberikan keterangan yang secara material tidak benar atau menyesatkan sehingga memengaruhi harga efek di bursa efek.

Larangan itu berlaku jika  saat pernyataan dibuat atau keterangan diberikan, pihak bersangkutan mengetahui atau sepatutnya mengetahui bahwa pernyataan atau keterangan tersebut secara material tidak benar atau menyesatkan.

"Atau pihak bersangkutan tidak cukup berhati-hati dalam menentukan kebenaran material dari pernyataan atau keterangan tersebut," demikian narasi  Pasal 93 UU  Pasar Modal.

Berdasarkan penelusuran Investor Daily, UU Pasar Modal tidak memuat sanksi pidana bagi pelanggar Pasal 35. Sebaliknya, sanksi pidana berlaku bagi yang melanggar Pasal 91 dan Pasal 93 berupa ancaman pidana penjara paling lama 10 tahun dan denda maksimal Rp 15 miliar.

 

Editor : Abdul Aziz (abdul_aziz@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN