Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Japfa Comfeed Indonesia. Sumber: BSTV

Japfa Comfeed Indonesia. Sumber: BSTV

Intervensi Pasar Naikkan Prospek Japfa

Jumat, 8 Januari 2021 | 05:07 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Upaya pemerintah untuk menyeimbangkan permintaan dan penawaran pasokan ayam dan ekspektasi membaiknya perekonomian tahun ini akan menjadi faktor pendorong kinerja keuangan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA).

Pertumbuhan kinerja keuangan juga didukung perkiraan penguatan nilai tukar rupiah terhadap mata uang asing.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Emma A Fauni mengungkapkan, industri peternakan dan pakan ternak unggas diperkirakan tumbuh lebih baik tahun 2020-2021, seiring dengan komitmen pemerintah untuk tetap melanjutkan intervensi pasar untuk memulihkan industri ini.

“Pemerintah menunjukkan komitmen yang besar untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan ayam pedaging hingga anak ayam usia sehari (DOC) ke level yang masuk akal. Hal ini diharapkan membuat industri ini tetap berjalan dengan sehat tahun 2021,” tulis dia dalam risetnya.

Japfa Comfeed Indonesia. Sumber: BSTV
Japfa Comfeed Indonesia. Sumber: BSTV

Berdasarkan hasil diskuisi dengan sejumlah stakeholder industri ini, menurut dia, pemerintah menunjukkan sikap untuk melanjutkan intevensi pasar untuk memastikan harga bisa stabil selama kondisi ekonomi belum membaik.

Pemerintah berkeinginan peternak kecil untuk tetap eksis dan tidak bangkrut akibat kondisi makro yang kurang baik. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi emiten sektor ini.

Sedangkan tren permintaan daging ayam, ungkap dia, sangat dipengaruhi seberapa jauh pandemi Covid-19 terhadap kehidupan masyarakat. Pandemi telah membuat penjualan restoran, hotel, dan sejumlah kegiatan turun dalam yang berimbas terhadap penurunan permintaan daging ayam nasional.

Saat ini, penjualan daging ayam hanya ditopang konsumsi individu yang juga mengalami pelemahan daya beli.

Selain faktor tersebut, sektor peternakan diuntungkan atas ekspektasi proyeksi pelemahan nilai tukar mata uang dolar AS yang bisa berimbas positif terhadap sektor ini.

Sebagaimana diketahui, perusahaan pakan ternak mengimpor bahan baku, seperti gadum dan kedelai yang berkontribusi sekitar 25% terhadap total bahan baku pakan.

“Penguatan nilai tukar rupiah akan membantu untuk menekan biaya pengadaan bahan baku pakan ternak,” jelasnya.

Pihaknya juga menilai bahwa penguatan mata uang rupiah akan membantu untuk menekan beban keuangan. Seperti diketahui hampir semua perusahaan peternakan memiliki eksposur utang dalam dolar AS, sehingga diharapkan bisa menekan beban mata uang perseroan.

Emma juga menyebutkan bahwa kondisi terburuk bisnis pakan ternak telah terlewati, sehingga periode 2021 akan menjadi masa pertumbuhan, khususnya bagi emiten peternakan dan pakan ternak ayam terbesar di Indonesia

. Menurut dia, Japfa Comfeed akan menjadi perusahaan peternakan dan pakan ternak unggas paling cepat pulih. Hal ini mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi naik rekomendasi saham emiten sektor peternakan menjadi overweight. Target harga tersebut juga menggambarkan ekspektasi kinerja tahun ini lebih baik dibandingkan perkiraan semula. Margin keuntungan bisnis ini kian atratif selama masa pemulihan ini.

Didukung So Good

Salah satu kegiatan di Pabrik Japfa. Foto: IST
Salah satu kegiatan di Pabrik Japfa. Foto: IST

Emma menyebutkan, pertumbuhan Japfa akan didukung tuntasnya akuisisi mayoritas saham PT So Good Food.

“Kami memperkirakan perseroan akan mendapatkan tambahan keuntungan senilai Rp 261 miliar atau setara dengan 16% dari target raihan laba bersih perseroan tahun 2021 berkat akuisisi So Good Food,” ungkap dia.

Selain itu, akuisisi tersebut dilakukan dengan harga atraktif dengan merefleksikan perkiraan PE tahun 2020 sekitar 4,7 kali. Hal ini dibandingkan dengan harga divestasi perusahaan tersebut pada 2011 mencapai US$ 100 juta atau merefleksikan PE sekitar 17,2 kali.

Pihaknya juga memperkirakan Japfa akan didukung faktor penguatan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Hal ini diharapkan bisa menekan beban keuangan dan impor bahan baku. Kondisi tersebut tentu akan berimbas positif terhadap margin keuntungan perseroan sepanjang 2021.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi naik target laba bersih Japfa tahun 2020 dari Rp 400 miliar menjadi Rp 444 miliar. Sedangkan perkiraan laba bersih perseroan tahun 2021 direvisi dari Rp 1,17 triliun menjadi Rp 1,39 triliun.

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Foto: Perseroan.
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA). Foto: Perseroan.

Revisi naik target laba bersih tersebut juga merefleksikan revisi naik target pendapatan perseroan tahun 2020 dari Rp 34,48 triliun menjadi Rp 35,03 triliun.

Begitu juga dengan estimasi pendapatan perseroan tahun 2021 direvisi naik dari Rp 38,89 triliun menjadi Rp 43,14 triliun.

Potensi kinerja keuangan yang lebih baik dari perkiraan semula ditambah kuatnya pertumbuhan laba bersih perseroan tahun 2021 mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk menaikkan target harga saham JPFA menjadi Rp 2.200 dengan rekomendasi beli.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Nashrullah Putra mengungkapkan, Japfa Comfeed juga mendapat sentimen positif dari industri hotel, restoran, dan kafe yang mulai beroperasi penuh. Sementara itu, mengenai akuisisi So Good Food, hal itu dapat menguntungkan perseroan dari aspek bisnis maupun transaksi.

“Dengan mengakuisisi So Good Food, ruang lingkup bisnis Japfa Comfeed semakin lengkap mulai dari hulu sampai hilir. Secara nilai, harga pembelian tersebut tergolong menarik sebesar Rp 1,2 triliun atau setara dengan 4,9 kali PE tahun 2020,” tulis Nashrullah dalam risetnya.

Menurut dia, akuisisi So Good Food merupakan waktu yang tepat saat masyarakat dituntut untuk berdiam di rumah. Sebab, bisnis penjualan makanan olahan berpeluang bangkit dalam jangka pendek dan panjang.

Dengan ekspektasi kembalinya permintaan konsumsi daging ayam pada paruh kedua tahun ini dan didukung berlanjutnya program culling oleh pemerintah guna menyetabilkan harga jual daging ayam akan berdampak positif terhadap perseroan.

Sebab itu, Samuel Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham JPFA dengan target harga direvisi naik dari Rp 1.500 menjadi Rp 1.600.

Greenfields Dairy

Japfa Comfeed Indonesia. Sumber: BSTV
Japfa Comfeed Indonesia. Sumber: BSTV

Sementara itu, Japfa Ltd, induk usaha PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA), bersiap melepas 80% saham Greenfields Dairy Singapore Pte Ltd kepada TPG dan Northstar Group. Nilai transaksi tunai penjualan saham tersebut mencapai US$ 236 juta.

Greenfields Dairy merupakan anak usaha Japfa Ltd yang memproduksi susu dan memiliki bisnis terintegrasi, mulai dari peternakan sapi perah hingga produk susu bermerek di Asia Tenggara. Perusahan tercatat mengendalikan PT Greenfields Indonesia, Greenfields Dairy Malaysia Sdn Bhd, dan Greenfields Dairy Hong Kong Ltd.

Pada transaksi ini, Japfa menandatangani_conditional share purchase agreement (CSPA) dengan pihak yang bertindak sebagai investor, yakni Freshness Holdings Ltd, pada 6 Desember 2020.

Freshness Holdings merupakan perusahaan yang dimiliki oleh TPG dan Northstar Group. Alur transaksinya adalah Japfa akan melepas terlebih dahulu 100% saham Greenfields Dairy kepada perusahaan patungan yang khusus didirikan untuk menguasai saham Greenfields, yakni Freshness Ltd.

PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA) sepanjang Maret 2020 mengekspor berbagai produk pertanian dan perikanan ke berbagai negara seperti Amerika, Jepang, Taiwan, Republik Demokratik Timor Leste (RDTL), Singapura, Filipina, Myanmar, Vietnam, dan Malaysia.
PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JAPFA)..

Nilai transaksi pelepasan saham ini mencapai US$ 295 juta, yang terdiri atas dua komponen, yakni uang tunai US$ 236 juta dan 20% saham pada Freshness Ltd.

Alhasil, Japfa secara tidak langsung masih akan memiliki 20% saham Greenfields Dairy, setelah transaksi ini selesai. Nantinya, penyelesaian transaksi tergantung dari sejumlah syarat, yakni persetujuan pemegang saham dan kreditur Greenfields.

Perseroan menargetkan transaksi ini bisa tuntas pada Februari 2021. Credit Suisse (Singapore) Limited bertindak sebagai penasihat keuangan eksklusif Japfa Ltd. Divestasi bisnis susu di Asia Tenggara ini dinilai akan membuat manajemen Japfa fokus di pilar bisnis yang lain, yakni bisnis unggas di Indonesia serta peternakan babi di Vietnam. Japfa juga masih mengendalikan 75% bisnis susu di Tiongkok.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN