Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kenaikan Harga CPO Bangkitkan Astra Agro

Parluhutan Situmorang, Jumat, 10 Januari 2020 | 15:45 WIB

JAKARTA, investor.id - Tren peningkatan harga jual minyak sawit mentah (crude palm oi//CPO) akan berimbas positif terhadap kinerja keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) tahun ini, meskipun volume produksi tandan buah segar (TBS) perseroan diperkirakan masih lanjutkan penurunan.

Tren pertumbuhan kinerja keuangan tersebut didukung atas analisa tim Danareksa Sekuritas yang merevisi naik asumsi harga jual CPO dari MYR 2.400 menjadi MYR 2.600 per ton tahun ini, seiring dengan ketatnya suplai minyak dunia dan peningkatan tersebut dipicu atas pertumbuhan permintaan. Ekspektasi kenaikan harga jual tersebut telah terlihat dari rata-rata harga CPO saat ini sudah mencapai MYR 3.000 per ton.

Peningkatan harga jual minyak sawit juga didukung atas berjalannya program B-30 dan penurunan suplai TBS dalam negeri. Kenaikan harga jual juga didukung atas keputusan pemerintah India menurunkan retribusi impor CPO setelah terjadi peningkatan permintaan di negara tersebut.

“Berbagai faktor tersebut memperkuat keyakinan kami terhadap rata-rata harga jual CPO mencapai MYR 2.600 per ton tahun ini, dibandingkan perkiraan semula hanya mencapai MYR 2.400 per ton. Hal ini mendorong kami untuk merevisi naik target kinerja keuangan beberapa emiten CPO tahun ini,” tulis analis Danareksa Sekuritas Andreas Kenny dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Dampak tren peningkatan harga jual CPO tersebut, ungkap dia, bakal berimbas terhadap pertumbuhan rata-rata harga jual minyak sawit perseroan mencapai 6% tahun ini, dibandigkan perkiraan semula. Peningkatan harga jual tersebut diharapkan mampu menahan tren penurunan produksi CPO dan tandan buah segar (TBS) perseroan sepanjang 2020.

Terkait volume produksi TBS Astra Agro, dia menjelaskan, diperkirakan mengalami penurunan sebesar 6,9% tahun ini. Begitu juga dengan penjualan CPO perseroan direvisi turun sekitar 5,3% tahun ini. Pemangkasan target produksi tersebut dipengaruhi siklus produksi kebun perseroan yang sedang turun dan perkiraan kondisi cuaca kering di Kalimantan.

Meskipun volume produksi cenderung turun, dia mengatakan, perseroan diproyeksikan tetap mampu untuk menopang pertumbuhan pendapatan dan laba bersih tahun ini. Fakor utama penyelamatnya datang dari proyeksi pertumbuhan rata-rata harga jual CPO tahun ini.

Hal ini mendorong Danareksa Sekuritas menargetkan lonjakan laba bersih Astra Agro menjadi Rp 940 miliar tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun 2019 mencapai Rp 156 miliar. Pendapatan juga diharapkan meningkat menjadi Rp 20,35 triliun tahun 2020, dibandingkan proyeksi tahun lalu senilai Rp 17,67 triliun.

Tren peningkatan harga jual yang berimbas terhadap perkiraan kinerja keuangan perseroan tahun ini mendorong Danareksa Sekuritas untuk menaikkan target harga saham AALI dari Rp 14.000 menjadi Rp 15.000 per saham. Saham AALI direkomendasikan beli.

Pandangan positif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan Astra Agro juga diungkapkan analis Samuel Sekuritas Yosua Zisokhi. Menurut dia, margin keuntungan Astra Agro diperkirakan puli tahun ini yang diindikasikan tren peningkatan harga jual CPO sejak akhir tahun 2019. Kenaikan tersebut diharapkan berlanjut hingga tahun ini.

Peningkatan harga jual CPO akan membuat rata-rata harga jual CPO perseroan diproyeksikan naik berkisar 15-20% tahun ini. Perseroan juga terus melanjutkan upaya efisiensi guna memperkuat margin keuntungan laba bersih. Kedua faktor tersebut diharapkan berimbas positif terhadap kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Selain faktor tersebut, dia mengatakan, volume produksi Astra Agri diperkirakan mulai pulih tahun ini setelah terkendala akibat cuaca panas sepanjang tahun 2019. Produksi TBS kebun inti diharapkan meningkat 5,7% begitu juga dengan yield kebun berpeluang naik tahun ini.

Samuel Sekuritas juga memperkirakan belanja modal perseroan tahun ini diperkirakan tetap rendah atau hanya untuk pemeliharaan kebun. “Kami memperkirakan belanja modal tahun ini akan turun sekitar 33,3% menjadi Rp 1 triliun. Mayoritas dana tersebut dimamfaatkan untuk pemeliharaan. Sedangkan replanting diperkirakan melambat,” terangnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham AALI dengan target harga Rp 16.000 per saham. Saham AALI direkomendasikan beli. Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan PER taun ini sekitar 17,7 kali dan PBV sekitar 1,2 kali.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini, dibandingkan proyeksi tahun 2019. Pendapatan perseroan tahun ini diperkirakan meningkat menjadi Rp 19,23 triliun, dibandingkan ekspektasi tahun 2019 sebesar Rp 16,40 triliun. Laba bersih juga diharapkan bertumbuh menjadi Rp 1,41 triliun pada 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 mencapai Rp 213 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA