Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BNI.

Bank BNI.

Kenaikan NIM Harapan Pemulihan Kinerja BNI

Parluhutan Situmorang, Minggu, 15 Maret 2020 | 13:32 WIB

JAKARTA, investor.id - Penurunan tingkat suku bunga perbankan diharapkan berimbas terhadap pemulihan pertumbuhan kinerja keuangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tahun ini. Perseroan diharapkan mampu untuk memulihkan margin bunga bersih (NIM) dan biaya pendanaan terjaga.

Analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengatkan, BNI diproyeksikan mampu untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini, meskipun diadang sejumlah isu negatif, seperti kondisi ekonomi global yang sedang berfluktuasi di tengah pandemic virus korona-19.

“Pemangkasan tingkat suku bunga oleh Bank Indonesia yang telah mencapai 125 bps terhitung sejak pertengan tahun lalu hingga kini bakal berimbas positif terhadap margin bunga bersih perbankan, khususnya BNI,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Danareksa Sekuritas memperkirakan peningkatan NIM BNI menjadi 5% tahun ini, dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar 4,9%. Perseroan juga diproyeksikan mampu mengelola biaya dana (cost of fund/CoF) di level 3% tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu mencapai 3,2%.

Faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan BNI tahun ini. Laba bersih BNI diproyeksikan naik menjadi Rp 15,59 triliun tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu senilai Rp 15,38 triliun. Laba operasional sebelum provisi juga diharapkan meningkat dari Rp 28,32 triliun menajdi Rp 29,11 triliun.

Bank BNI. Foto: DAVID
Bank BNI. Foto: DAVID

Kenaikan kinerja keuangan juga, ungkap Eka, bakal ditopang atas berlanjutnya pertumbuhan kredit dengan target mencapai 8,1% tahun ini. Namun demikian rasio kredit bermasal (NPL) kotor diperkirakan mengalami peningkat menjadi 2,7% tahun ini, dibandingkan pencapaian tahun lalu sekitar 2,3%.

“Kenaikan NPL dipengaruhi atas besarnya ekspur perseroan terhadap kredit korporasi. Sebagaiman diperkirakan segmen kredit korporasi akan terimbas perlambatan ekonomi global,” terangnya.

Ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan, ungkap dia, didukung atas tim dewan direksi dan komisaris yang dinilai memiliki kemampuan untuk mendorong kinerja lebih baik ke depan. Apalagi dengan penunjukan Komisaris Utama BNI Agus Martowardoyo diharapkan mampu utnuk memperkuat tingkat kehati-hatian dalam mengucurkan kredit. Berbagai faktor tersebtu mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga direvisi turun dari Rp 9.000 menjadi Rp 8.000 per saham.

Target harga ini merefleksikan perkiraan PB tahun ini sekitar 1,2 kali. Saham BBNI juga bisa menjadi pilihan teratas, menyusul harganya sudah turun terlalu dalam.

Ekspektasi berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan BNI di tengah kondisi ekonomi global yang sedang lesu juga diungkapkan analis CIMB Sekuritas Leonardo Tukiman dan Laurensius Teiseran.

Menurut analis tersebut, BNI diperkirakan mampu untuk memulihkan laba per saham (EPS) tahun ini setelah pertumbuhan perseroan tahun lalu tergolong rendah.

“Kami memperkirakan laba bersih perseroan tumbuh 10,5% tahun ini dan ROE diharapkan pulih menjadi 15%. Sedangkan biaya kredit diperkriakan tetap terjaga dengan baik,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Namun demikian, dia mengatakan, BNI kemungkinan mengalami tekanan NIM seiring dengan penignkatan restrukturisasi kredit akhir tahun lalu. NIM perseroan diperkirakan hanya stabil di level 4,7% tahun ini atau sama dengan realisasi tahun lalu dan lebih rendah dibandingkan perolehan tahun 2018 sekitar 5%.

Hal ini dipengaruhi atas penurunan bunga pinjaman dan yield perbankan yang cenderung masih rendah.

Jajaran direksi Bank BNI di Kantor Bank BNI, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Foto: dok. BNI
Jajaran direksi Bank BNI di Kantor Bank BNI, Jakarta, Rabu (22/1/2020). Foto: dok. BNI

Terkait pertumbuhan kredit, CIMB Sekuritas memperkirakan, BNI diperkirakan mencapai level 10-12% tahun ini, dibandingkan realisasi tahun lalu mencapai 8,2%. Peningkatan permintaan kredit diharapkan datang dari permintaan belanja modal perusahaan dan ekspektasi disahkannya Undang Undang Omnibus Law.

Pertumbuhan kredit diharapkan berasal dari korporasi sektor konstruksi, pertanian, listrik, gas, dan air. Berdasarkan perkiraan manajemen perseroan bahwa pertumbuhan kredit sektor tersebut kemungkinan minimal sama dengan realisasi tahun lalu.

Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Sekuritas untuk mempertahankan target kenaikan laba bersih BNI menjadi Rp 16,99 triliun tahun ini, dibandingkan perolehan tahun lalu mencapai Rp 15,38 triliun. Pendapatan bunga bersih juga diharapkan tumbuh dari Rp 36,60 triliun menjadi Rp 38,49 triliun.

Berbagai faktor tersebut mendorong CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi add saham BBNI dengan target harga direvisi turun dari Rp 8.600 menjadi Rp 8.400.

Revisi turun target harga mencerminkan pemangkasan target laba bersih perseroan tahun ini dari Rp 17,7 triliun menjadi Rp 17 triliun, seiring dengan pertumbuhan kredit dipangkas, meski naik dari perolehan tahun lalu dan asumsi NIM yang cenderung stagnan tahun ini.

Tahun lalu, BNI membukukan kenaikan laba bersih sebesar 2,5% menjadi Rp 15,38 triliun, dibandingkan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 15,01 triliun. Sedangkan pendapatan bunga bersih naik dari Rp 35,44 triliun menjadi Rp 36,60 triliun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Young Juni mengatakan, real sasi laba bersih BNI pada kuartal IV-2019 senilai Rp 3,41 triliun sudah sesuai target. Perolehan tersebut merefleksikan 90,5% dari target yang ditetapkan Mirae Asset Sekuritas terhadap kinerja keuangan BNI pada kuartal terakhir 2019.

Terkait pertumbuhan kredit perseroan sebesar 8,6%, menurut dia, tercatat sebagai level terendah dalam beberapa tahun terakhir.

“Kami mengharapkan kinerja keuangan bertumbuh lebih pesat tahun ini didukung atas perkiraan pertumbuhan kredit perseroan sebesar 10-12%. Target tersebut juga sudah mempertimbangkan peluang kenaikan provisi sebesar 12,5% tahun ini,” ujarnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham BBNI dengan target harga Rp 8.800. Target harga tersebut juga mempertimbangkan fokus perseroan untuk mengembalikan NIM ke 5% atau setidaknya sama dengan perolehan tahun 2019 sekitar 4,9%.

Sebelumnya, BNI telah menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Tahunan untuk Tahun Buku 2019 di Jakarta, Kamis (20/2/2020). Dalam RUPS tersebut telah disetujui penggunaan laba bersih perseroan Tahun Buku 2019 sebesar Rp 15,38 triliun, untuk Dividen sebesar 25% dari Laba Bersih atau senilai Rp 3,85 triliun atau sebesar Rp 206,24 per lembar saham.

Adapun sebesar 75% dari Laba Bersih atau Rp 11,54 triliun akan digunakan sebagai Saldo Laba Ditahan. Selain menyetujui nilai dividen, RUPS juga menyetujui Laporan Tahunan Perseroan termasuk Laporan Tugas Pengawasan yang telah dilaksanakan oleh Dewan Komisaris untuk tahun buku 2019, dan mengesahkan Laporan Keuangan Konsolidasian Perseroan untuk tahun buku 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN