Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Pintu tol Jasa Marga. Foto ilustrasi: DAVID GITA ROSA

Pintu tol Jasa Marga. Foto ilustrasi: DAVID GITA ROSA

Kenaikan Tarif Lanjutkan Pertumbuhan Jasa Marga

Parluhutan Situmorang, Rabu, 5 Februari 2020 | 09:49 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Jasa Marga Tbk (JSMR) diproyeksikan mampu mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini. Pertumbuhan tersebut diharapkan bersumber dari kenaikan tarif sejumlah ruas tol milik perseroan.

Danareksa Sekuritas memperkirakan kenaikan tipis laba bersih Jasa Marga menjadi Rp 2,18 triliun pada 2020 dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 2,13 triliun dan perolehan 2018 mencapai Rp 2,20 triliun. Pendapatan perseroan juga diharapkan naik menjadi Rp 12,76 triliun pada 2020 dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 10,87 triliun dan pencapaian tahun 2018 mencapai Rp 9,78 triliun.

Analis Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, sebanyak 10 ruas tol yang dikuasai Jasa Marga ditagetkan mengalami peningkatan tarif tol tahun ini setelah mengalami penundaan tahun lalu. Kenaikan tarif tol kemungkinan dibebankan untuk kendaraan golongan tertentu, yaitu golong 1 dan 2. Sedangkan golongan lainnya mengalami penurunan tarif tol dengan tujuan untuk menekan biaya logistik.

“Meskipun kenaikan tarif hanya dikenakan untuk kendaraan golongan 1 dan 2 atau kendaraan penumpan, kami meyakini bahwa kenaikan tersebut akan memberikan dampak besar terhadap pendapatan perseroan, karena hampir 70% pendapatan ruas tol berasal dari kendaraan golongan 1 dan 2,” jelas dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Beberapa ruas tol perseroan yang ditargetkan mengalami kenaikan tarif tol, yaitu tol Gempol-Pandaan, JIRR, Bali Mandara, Surabaya-gempol, Palikanci, Belawan-Medan-Tj Morawa, Padaleunyi, dan Cipularang. Seluruh tol tersebut berkontribusi sekitaar 42% terhadap total trafik dan sebesar 34% terhadap total pendapatan tahunan. Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham JSMR dengan target harga Rp 6.800.

Sementara itu, analis CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Michael Audie Benas dan Aurelia Barus mengungkapkan, kenaikan tarif tol Jakarta Dalam Kota dan Gempol-Pandaan dari rencana semula akhir tahun lalu menjadi tahun ini akibat belum memenuhi standard pelayanan minimum (SPM) akan membuat tingkat pertumbuhan laba bersih perseroan tahun lalu kemungkinan mendatar.

Sedangkan pertumbuhan perseroan tahun ini, ungkap dia, dipengaruhi atas keterlambatan komersialisasi ruas tol Jakarta-Cikampek Elevated. Hingga kini, ruas tol tersebut belum berbayar akibat sejumlah pengerjaan yang harus dituntaskan perseroan.

“Kami memperkirakan bahwa ruas tol Jakarta-Cikampek melayang mulai berbayar pada kuartal II tahun ini. Hal ini mendorong kami untuk memangkas target EBITDA perseroan sebesar 2,4% tahun ini,” jelas Michael dan Aurelia.

Berbagai faktor tersebut mendorong CGS-CIMB Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi add saham JSMR dengan target harga dipangkas dari Rp 7.600 menjadi Rp 7.100. Target harga tersebut mempertimbangkan ekspektasi kuatnya pertumbuhan EBITDA perseroan dalam jangka panjang. Target tersebut juga telah mempertimbangkan peluang integrasi ruas tol di Indonesia.

CGS-CIMB Sekuritas menargetkan peningkatan pendapatan Jasa Marga menjadi Rp 13,79 triliun pada 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 mencapai Rp 10,85 triliun dan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 9,78 triliun. Sedangkan laba bersih perseroan diperkirakan turun menjadi Rp 1,43 triliun pada 2020, dibandingkan proyeksi tahun lalu sebesar Rp 2,17 triliun dan pencapaian tahun 2018 sebesar Rp 2,20 triliun.

Sebelumnya, Jasa Marga melepas 18,99 juta saham atau setara 8% pada PT Trans Marga Jateng (TMJ), pengelola ruas tol Semarang-Solo, kepada PT Trans Optima Luhur. Dana hasil divestasi akan digunakan untuk pengembangan jalan tol baru.

Sekretaris Perusahaan Jasa Marga Mohamad Agus Setiawan mengatakan, perseroan dengan Trans Optima menandatangani akta jual-beli saham Trans Marga pada 30 Desember 2019. Namun, pihaknya tidak menjelaskan berapa nilai divestasi saham tersebut. “Setelah transaksi, kepemilikan Jasa Marga pada Trans Marga menjadi 50,91% dari sebelumnya 58,91%,” jelas dia dalam keterangan resmi, baru-baru ini.

Sementara itu, komposisi saham dari dua pemilik lain ruas tol sepanjang 72,64 kilometer (km) ini adalah PT Astra Tol Nusantara sebanyak 40% dan PT Sarana Pembangunan Jawa Tengah sebesar 1,09%.

Berdasarkan catatan, Investor Daily, Jasa Marga tercatat melepas sebagian saham anak usahanya lainnya kepada Trans Optima Luhur pada 2019. Perseroan pernah menjual 33,11% saham PT Jasa Marga Pandaan Tol (JPT), yang membuat kepemilikan Jasa Marga pada JPT menjadi 40%, dan Trans Optima menjadi 53,81%.

Divestasi ruas tol diperkirakan menjadi strategi Jasa Marga pada 2020. Sebelumnya, China Communications Construction Co melalui PT China Communications Construction Indonesia (CCCI) dikabarkan melakukan uji kelaikan atau due diligence untuk mengakuisisi sebagian saham PT Jasamarga Probolinggo Banyuwangi. CCCI berkomitmen menyiapkan dana akuisisi hingga Rp 23 triliun.

Sebagai informasi, tol Probolinggo-Banyuwangi merupakan bagian akhir dari jaringan tol Trans Jawa. Saat ini, kepemilikan Jasa Marga pada konsesi tersebut sebesar 95%, PT Brantas Abipraya 4,9% dan PT Waskita Toll Road 0,1%.

Direktur Keuangan Jasa Marga Donny Arsal pernah mengatakan, perseroan belum menentapkan valuasi dan porsi saham yang akan dilepas pada tol Probolinggo-Banyuwangi. Namun, perseroan ingin tetap menjadi pemegang saham mayoritas.

Pada 2020, kata Donny, perseroan juga mempertimbangkan sejumlah alternatif pembiayaan di luar sindikasi perbankan. Semisal, perseroan menjajaki penerbitan KIK-EBA syariah pertama di Indonesia dengan underlying asset jalan tol Jakarta Outer Ring Road (JORR).

Perseroan terus melakukan diskusi dengan sekuritas yang akan menangani aksi penerbitan dan menjalani proses pemeringatan. Namun, perseroan belum mengajukan rencana ini ke Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA