Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Adaro Energy. Foto: Defrizal

Adaro Energy. Foto: Defrizal

Kiat Adaro Menambang Laba

Luhut Situmorang, Selasa, 26 November 2019 | 10:53 WIB

JAKARTA, investor.id - Peningkatan volume produksi dan penjualan batubara ditambah mulai berkontribusinya tambang Kestrel yang berlokasi di Queensland, Australia, berimbas positif terhadap peningkatan laba bersih PT Adaro Energy Tbk (ADRO) hingga kuartal III-2019. Kenaikan laba bersih juga didukung oleh penurunan beban pajak.

Adaro sebelumnya bersama EMR Capital Ltd membentuk perusahaan patungan (joint venture/JV) bernama Kestrel Coal Resources Pty Ltd dalam mengakuisisi 80% tambang Kestrel dari Rio Tinto. Pada JV tersebut, Adaro menguasai 48%, dan EMR Capital Ltd menguasai 52%. Nilai akuisisi mencapai US$ 2,25 miliar.

Analis Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengatakan, realisasi kinerja keuangan Adaro Energy hingga September 2019 tersebut telah melampaui perkiraan Danareksa Sekuritas dan konsensus analis.

“Perolehan tersebut setara dengan 94% dari total target tahun ini berdasarkan perkiraan Danareksa Sekuritas. Sedangkan didasarkan proyeksi konsensus analis, perolehan tersebut mencerminkan 93% dari total target,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Hingga September 2019, perseroan membukukan kenaikan laba bersih sebesar 29,8% dari US$ 313 juta menjadi US$ 406 juta. Realisasi tersebut setara dengan 94% dari total target laba bersih tahun ini mencapai US$ 433 juta. Namun keuntungan tersebut turun dari US$ 178 juta pada kuartal II-2019 menjadi US$ 109 juta pada kuartal III-2019.

Sedangkan pendapatan perseroan justru turun tipis dari US$ 2,66 miliar hingga September 2018 menjadi US$ 2,65 miliar sampai September 2019. Penurunan pendapatan juga tercatat dari US$ 929 juta pada kuartal II-2019 menjadi US$ 879 juta pada kuartal III- 2019. EBITDA perseroan turun dari US$ 1,06 miliar menjadi US$ 976 juta sampai kuartal III-2019.

Realisasi kinerja keuangan tersebut didukunga tas peningkatan produksi batu bara perseroan dari 39 juta ton hingga kuartal III-2018 menjadi 44,1 juta ton sampai kuartal III-2019. Sedangkan volume penjualan batu bara perseroan meningkat dari 39,3 juta ton menjadi 44,7 juta ton. Perseroan juga menceta nisbah pengupasan batubara (overburden removal) naik dari 160,2 juta bcm menjadi 174,8 juta bcm.

Keberhasilan perseroan mempertahankan pertumbuhan keuntungan mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan kenaikan laba bersih menjadi US$ 433 juta tahun ini dan kemungkinan turun menjadi US$ 404 juta pada 2020, dibandingkan perolehan tahun 2018 senilai US$ 418 juta.

Sedangkan pendapatan diperkirakan meningkat menjadi US$ 3,41 miliar pada 2019 dan senilai US$ 3,36 miliar pada 2020, dibandingkan tahun lalu US$ 3,41 miliar.

Danareksa Sekuritas juga mempertahankan rekomendasi beli saham ADRO dengan target harga Rp 17.000. Target tersebut merefleksikan perkiraan PE tahun ini sekitar 8,8 kali dan PE tahun 2020 mencapai 9,6 kali.

Target tersebut juga menggambarkan berlanjutnya diversifikasi usaha ke bisnis coking coal dan pembangkit listrik. Pihaknya meyakini bahwa diversifikasi bisnis tersebut akan menjadi penopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam jangka panjang.

Sebelumnya, Adaro Energy melalui anak usahanya, PT Adaro Indonesia, melangsungkan penawaran surat utang global (global bond) senilai US$ 750 juta dengan kupon 4,25% per tahun, yang jatuh tempo pada 2024.

Presiden Direktur dan Chief Executive Officer (CEO) Adaro Energy Garibaldi Thohir menyebutkan bahwa surat utang tersebut akan memperkuat posisi keuangan serta struktur permodalan. Panjangnya tenor serta profil pembayaran surat utang akan memberikan fleksibilitas untuk mengeksekusi strategi pertumbuhan Grup Adaro.

“Tanggapan dan minat dari para investor atas surat utang ini menunjukkan keyakinan mereka yang tinggi terhadap model bisnis Grup Adaro di tengah kondisi industri dan ekonomi makro yang masih sulit,” kata Garibaldi dalam keterangan resmi.

Global bond yang dijamin oleh Adaro Energy ini secara resmi tercatat di Singapore Exchange Securities Trading Limited (SGX-ST) pada 1 November 2019. DBS Bank Ltd, Citigroup Global Markets Singapore Pte Ltd, UBS AG cabang Singapura, MUFG Securities Asia (Singapore) Ltd dan OCBC Corp Ltd merupakan pembeli awal global bond.

Adaro Indonesia mendapatkan peringkat masing-masing BBB- dan Ba1 dari Fitch Ratings dan Moody’s, keduanya dengan prospek stabil. Dana hasil penerbitan Surat Utang akan digunakan untuk melunasi sebagian dari utang Adaro Indonesia yang telah ada dan kebutuhan umum perusahaan.

Dalam penerbitan ini, Adaro Energy bersama dengan Adaro Indonesia juga telah menandatangani perjanjian indenture dengan Bank of New York Mellon selaku trustee.

Sebagai informasi, terakhir kali Adaro Energy menerbitkan global bond adalah satu dekade lalu, yakni 22 Oktober 2009. Ketika itu, perseroan menawarkan senior guaranteed notes senilai US$ 800 juta dan memiliki jatuh tempo selama 10 tahun. Suku bunga yang diraih perseroan saat itu sebesar 7,62%. Perseroan memanfaatkan hasil emisi obligasi untuk kebutuhan ekspansi.

Terkait akuisisi tambang Kestrel, Adaro Energy sebelumnya menargetkan kenaikan produksi batubara tambang Kestrel sekitar 40% menjadi 6,7 juta ton tahun ini. Perseroan berharap mulai mendapatkan untung dari tambang tersebut setelah resmi mengakuisisinya pada Agustus tahun lalu.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA