Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BNI. Foto: DAVID

Bank BNI. Foto: DAVID

Kinerja BNI Diprediksi Pulih Lebih Cepat

Parluhutan Situmorang, Sabtu, 27 Juni 2020 | 04:32 WIB

JAKARTA, investor.id - Perkiraan meningkatnya pencadangan di tengah pelemahan perekonomian akibat pandemi Covid-19 akan mempengaruhi kinerja keuangan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) tahun ini. Meski demikian, kinerja keuangan perseroan diyakini pulih lebih cepat dibandingkan bank-bank lainnya pada 2021.

Analis Trimegah Sekuritas Rifina Rahisa dan Willinoy Sitorus mengungkapkan, sektor perbankan diperkirakan lebih mementingkan likuiditas dibandingkan pendapatan bunga.

Dari sejumlah bank besar, BNI merupakan salah satu bank yang memiliki tingkat likuiditas paling baik, sehingga mendorong percepatan pemulihan kinerja keuangan perseroan tahun depan.

Hingga April 2020, Rifina dan Willinoy menegaskan bahwa performa BNI tetap solid, di antaranya CASA meningkat pesat 20%, belanja bunga menunjukkan penurunan, dan pendapatan bunga meningkat tipis di tengah rendahnya pertumbuhan kredit. Begitu juga pendapatan di luar bunga yang meningkat 33% dan PPOP meningkat 24%.

BNI juga menunjukkan pembukuan provisi sebesar Rp 1,9 triliun pada April tahun ini. Angka tersebut meningkat signifikan dibandingkan kuartal I-2020, tetapi lebih rendah dari perkiraan Trimegah Sekuritas.

Hal ini mendorong Rifina dan Willinoy merevisi turun total provisi BNI tahun ini menjadi Rp 18,44 triliun dibandingkan estimasi semula Rp 19,17 triliun. Hal ini juga telah mempertimbangkan perkiraan kredit yang direstrukturisasi berkisar 25% dari penyaluran total kredit.

Bank BNI.
Bank BNI.

“Kami memperkirakan BNI mulai menunjukkan pemulihan kinerja keuangan yang signifikan pada 2021 dan 2022. Pertumbuhan laba bersih perseroan diperkirakan mengalahkan sejumlah bank lainnya. Hal ini dapat dilihat dari performa operasional perseroan hingga kini,” tulis Rifina dan Willinoy dalam risetnya, baru-baru ini.

Rifina dan Willinoy memperkirakan laba bersih BNI tahun ini Rp 2,66 triliun dan diharapkan melonjak menjadi Rp 12,36 triliun pada 2021. Sedangkan PPOP diharapkan turun menjadi Rp 21,88 triliun pada 2020 dan diharapkan naik menjadi Rp 28 triliun tahun depan.

Tahun lalu, perseroan membukukan PPOP dan laba bersih masing-masing Rp 28,32 triliun dan Rp 15,38 triliun.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, pemerintah melalui KementerianKeuangan telah menerbitkan peraturan baru untuk meningkatkan likuiditas perbankan selama pandemi Covid-19. PMK 70/2020 tersebut mengatur bahwa pemerintah akan menempatkan dana pada bank partner dengan maksimal enam bulan.

Hal ini diharapkan menjadi sentimen positif terhadap sektor perbankan. Sedangkan bunga dana yang ditempatkan pemerintah pada bank partner setara dengan bunga minimum penempatan dana pemerintah di Bank Indonesia (BI). Apabila suku bunga acuan BI mencapai 4,25%, berarti bunga minimum setara dengan 3,4%. Nantinya, dana tersebut bisa dimanfaatkan perbankan untuk dikucurkan melalui kredit kepada pihak yang terimbas Covid-19.

“Kebijakan ini diharapkan segera diimplementasikan melalui pengucuran pinjaman. Sedangkan kebijakan tersebut bukan lagi hal baru, karena pemerintah sebelumnya pernah mengambil kebijakan serupa pada 2008 akibat krisis keuangan global,” tulis Eka dalam risetnya.

Terkait kebijakan tersebut, bank BUMN diperkirakan yang pertama menerima dana tersebut, sehingga memiliki fleksibilitas likuiditas lebih baik.

“Dengan stimulus baru yang diluncurkan pemerintah ini, kami meyakini risiko penurunan lebih lanjut saham sektor perbankan kian berkurang. Kami mengharapkan kinerja keuangan emiten sektor perbankan bisa kembali pulih mulai kuartal III tahun ini,” jelas Eka.

Dia menambahkan, ekspektasi perbaikan kinerja perbankan tersebut juga didukung ekspektasi kondisi makro ekonomi yang lebih stabil. Hal ini mendorong DanareksaSekuritas untuk mempertahankanrekomendasi beli sejumlah saham perbankan, seperti BBNI dengan target harga Rp 5.000.

Bank BNI. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM
Bank BNI. Foto: Majalah Investor/UTHAN A RACHIM

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Lee Young Jun mengungkakan, pihaknya memangkas target kinerja keuangan sektor perbankan, seiring dengan revisi turun perkiraan pertumbuhan kredit, NIM, biaya pendanaan, dan kualitas aset tahun ini. Hal ini pandemi Covid-19 yang berkepanjangan yang berimbas terhadap ekonomi.

“Kami memperkirakan laba perusahaan dan daya beli masyarakat kemungkinan tetap melemah hingga semester II tahun ini. Penurunan tersebut tentu akan berimbas terhadap pelemahan kredit perbankan dan menaikkan biaya kredit,” tulis Young Jun dalam risetnya.

Meski demikian, menurut dia, bank-bank besar diprediksi tetap memiliki daya tahan yang kuat untuk tetap bertahan di tengah kondisi tersebut.

“Berdasarkan kalkulasi kami, bank-bank masih mampu untuk menanggung tambahan biaya kredit hingga 2,5-9,6%,” ungkap dia.

Peningkatan biaya kredit, ungkap dia, juga ikut serta menekan margin keuntungan (NIM) hingga semester II tahun ini. Penurunan sejalan dengan perkiraan peningkatan biaya kredit 294 basis poin tahun 2020 dan 217 bps pada 2021. Penurunan NIM juga dipengaruhi atas restrukturisasis sejumlah kredit.

Diperkirakan NIM akan turun mendekati 90 basisi poin tahun 2020 dan cenderung mendatar tahun 2021. Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi netral saham sektor perbankan. Rekomendasi tersebut juga mempertimbangkan bahwa laba emiten sektor ini tetap melambat tahun ini dan diperkirakan berlanjut hingga semester I tahun depan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN