Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BCA. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Bank BCA. Foto: Investor Daily/David Gita Roza

Kinerja Jauh di Atas Ekspektasi, Target Harga Saham BCA Naik

Kamis, 18 Februari 2021 | 04:46 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Realisasi kinerja keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) atau BCA sepanjang 2020 jauh di atas ekspektasi sejumlah analis. Bahkan, penurunan laba bersih perseroan paling rendah dibandingkan bank-bank papan atas lainnya di Indonesia.

Kinerja yang melampaui harapan dan peluang berlanjutnya pertumbuhan BCA tahun ini mendorong CGSCIMB Sekuritas Indonesia danTrimegah Sekuritas Indonesia merevisi naik target harga saham BBCA. CGS-CIMB Sekuritas menaikkan target harga BBCA menjadi Rp 41.500 dari Rp 38.300, dengan rekomendasiadd.

Trimegah menaikkantarget harga BBCA menjadi Rp 38.000 dari Rp 35.000, dengan rekomendasi netral.Analis CGS-CIMB SekuritasIlham Firdaus dan LaurensiusTeiseran mengungkapkan,realisasi laba bersih BCA tahun lalu Rp 27 triliun telah melampaui perkiraan. Perolehan itu lebih tinggi 14% dari target CGS-CIMB Sekuritas danlebih tinggi 8% dari konsensusanalis. Laba bersih BCA hanya turun 5% secara tahunan (year on year/yoy).

“Hal itu didukung oleh penurunan belanja operasional sekitar 3% dan biaya kredit turun menjadi 1,7%. Pencapaian itu melampaui perkiraan kami. Penurunan biaya kredit tersebut diperkirakan berlanjut tahun ini dengan perkiraan penurunan biaya kredit sekitar 20-40 bps,” tulis Ilham dan Laurensius dalam risetnya.

Menurut mereka, performa BCA jauh lebih unggul dibandingkan sejumlah bank besar lainnya yang mencatat penurunan laba bersih secara signifikan. Berdasarkan data, laba bersih PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) turun 38%, PT BankRakyat Indonesia Tbk (BBRI) terpangkas 46%, dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) terkikis hingga 79%.

Nasabah  melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) Bank BCA di Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah melakukan transaksi menggunakan mesin anjungan tunai mandiri (ATM) Bank BCA di Jakarta, belum lama ini. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sementara itu, kinerja keuangan BCA tahun ini diyakini bakal bertumbuh pesat. Hal ini juga dapat dilihat dari proyeksi manajemen BCA, yaitu pertumbuhankredit ditargetkan satu digit dan margin bunga bersih(NIM) kemungkinan turun ke kisaran 5,1-5,4%. Adapun biaya kredit (CoC) diperkirakan turun menjadi 1,3-1,5%.

Berbagai faktor tersebut mendorong CGS-CIMB Sekuritas menaikkan target harga saham BBCA menjadi Rp 41.500, yang merefleksikan revisi naiklaba bersih per saham (EPS) perseroan tahun 2021 sekitar 6,1% dan tahun 2022 mencapai 7%.

Dengan demikian, kenaikan EPS perseroan tahun ini mencapai 21% dan diperkirakanmencapai 23% pada 2022.Pandangan senada juga diungkapkan oleh analis Trimegah Sekuritas Rifina Rahisa dan Willinoy Sitorus.

Dalam risetnya, mereka menyebutkan bahwa realisasi laba bersih BCA tahun lalu setara dengan 110% dari estimasi Trimegah dan 108% dari consensus analis.

Harga saham BBCA dalam satu dekade terakhir, prospek BBCA, dan kinerja keuangan BCA
Harga saham BBCA dalam satu dekade terakhir, prospek BBCA, dan kinerja keuangan BCA

Begitu juga dengan progress restrukturisasi kredit perseroan, kondisinya jauh lebihbaik dari ekspektasi denganpencapaian rasio loan to asset ratio (LAR) sebesar 19% pada 2020.

Perseroan juga telah mengantisipasi peningkatan restrukturisasi kredit di bawah 1% dari total kredit dan 60 bps lebih tinggi dari NPL tahun lalu.

Karena itu, Trimegah Sekuritas merevisi naik sejumlah asumsi kinerja keuangan BCA tahun ini. Di antaranya, total restrukturisasi kredit diperkirakan hanya mencapai 15% hingga program kedua. Permintaan kredit khususnya segmen konsumer mulai membaik sejak kuartal IV-2020.

Dengan kondisi tersebut, Trimegah merevisi pendapatan bunga BCA tahun ini dari Rp 58,45 triliun menjadi Rp 60,54 triliun. Begitu juga dengan perkiraan laba bersih dinaikkan dari Rp 29,94 triliun menjadi Rp 35,91 triliun

Adapun target harga saham BBCA yang dinaikkan menjadi Rp 38.000 merefleksikan PBV mendekati 4,2 kali.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja. Foto: IST
Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja. Foto: IST

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan, penurunan laba bersih perseroan tahun lalu disebabkan oleh biaya pencadangan yang lebih tinggi untuk mengantisipasi potensi penurunan kualitas aset. “(Laba) 2020 secara umum menurun 5%. Namun, dibandingkan yang lain lebih baik, meski harus mengakuikami turun juga,” kata dia.

Pendapatan bunga bersih (net interest income/NII) BCA pada 2020 naik 7,3% (yoy) menjadi Rp 54,5 triliun. Di sisi lain, pendapatan non-bunga menurun tipis 0,5% (yoy) menjadi Rp 20,2 triliun.

Secara total, pendapatan operasional tercatat sebesar Rp 74,8 triliun atau meningkat hingga 5,1% (yoy).

Beban operasional tercatat sebesar Rp 29,3 triliun atau3,1% lebih rendah dari tahun 2019, seiring menurunnya sebagian kegiatan operasional saat pandemi. Karena itu pre-provision operating profit (PPOP) meningkat hingga 11,2% (yoy) menjadi Rp 45,4 triliun pada 2020, sehingga dapat menjadi penyangga yang memadai untuk mengantisipasi kebutuhan biaya pencadangan.

Nasabah melakukan transaksi di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) BCA di Stasiun MRT Blok M, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah melakukan transaksi di mesin anjungan tunai mandiri (ATM) BCA di Stasiun MRT Blok M, di Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sepanjang 2020, BCA membukukan biaya pencadangan sebesar Rp 11,6 triliun, melonjak 152,3% (yoy).

Jahja menambahkan, penurunan laba dipengaruhi oleh permintaan kredit yang melemah. Secara konsolidasi, total kredit tercatat sebesar Rp 588,7 triliun atau melemah 2,5% (yoy).

“Karena, yang paling menguntungkan kalau bank ‘lepas’ kredit. Jadi, kalauditanya mengapa kami tidak ‘lepas’ kredit? Kami prudent, tapi target kami adalah kredit,” tutur Jahja.

Untuk menyiasati penurunan permintaan kredit, perseroan menempatkan dana di surat berharga guna mendapatkanreturn. Return yang didapat dari penempatan surat berharga tidak setinggi pendapatan bunga dari penyaluran kredit.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN