Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Summarecon. Foto ilustrasi: EMRAL

Summarecon. Foto ilustrasi: EMRAL

Kinerja Summarecon Dibayangi Dampak Pandemi Korona

Jumat, 20 Maret 2020 | 08:00 WIB
Parluhutan Situmorang

Pandemi Virus Korona atau Covid-19 berpotensi menekan penjualan properti dan kinerja keuangan PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) sepanjang tahun ini. Hampir seluruh bisnis perseroan bakal terpengaruh, khususnya pendapatan dari penjualan properti.

Analis Maybank Kim Eng Sekuritas Aurellia Setiabudi mengungkapkan, Summarecon Agung kemungkinan menunda peluncuran proyek properti dalam waktu dekat akibat pandemi Covid-19. Pandemi tersebut mendorong pemerintah untuk melarang pengumpulan massa dan bepergian ke sejumlah daerah hingga 29 Mei 2020.

“Dengan pelarangan tersebut diperkirakan marketing sales perseroan kuartal I-2020 hanya mencapai Rp 700 miliar atau turun sekitar 38% dibandingkan periode sama tahun lalu. Penurunan paling tajam diperkirakan pada kuartal II-2020 dengan estimasi hanya mencapai Rp 500 miliar akibat libur panjang puasa dan lebaran Mei-Juni 2020 atau dengan pelemahan 54% dari pencapaian periode sama tahun lalu,” tulis Aurellia dalam risetnya, baru-baru ini.

Terkait realisasi marketing sales perseroan senilai Rp 607 miliar hingga Februari 2020, menurut Aurellia, telah menunjukkan penurunan sekitar 11% dibandingkan perolehan pada periode sama tahun lalu. Pencapaian tersebut setara dengan 13% dari target total marketing sales perseroan tahun ini senilai Rp 4,5 triliun.

Summarecon Agung. Foto ilustrasi: Investor Daily/Emral
Summarecon Agung. Foto ilustrasi: Investor Daily/Emral

“Penurunan marketing sales dipengaruhi oleh minimnya peluncuran proyek baru dalam dua bulan pertama tahun ini dibandingkan periode sama tahun lalu,” jelas Aurellia.

Sedangkan pendapatan perseroan dari investasi properti, seperti penyewaan ruang ritel, hotel, gedung perkantoran, dan ruang konvensi diperkirakan tetap tumbuh solid. Pendapatan berulang (recurring incomes) diperkirakan menyumbang sekitar 41% terhadap total pendapatan tahun ini dibandingkan realisasi tahun 2013-2015 yang mencapai 30%.

Summarecon memiliki dan mengoperasikan sebanyak 271 ribu meter persegi ruang ritel, sebanyak 1.200 kamar hotel, dan 10 ribu meter persegi ruang perkantoran. Perseroan juga sedang melanjutkan ekspansi pembangunan mal di kota mandiri Summarecon Bandung, kondotel di Bali, serta hotel baru di Serpong dan Bandung.

Aurellia memperkirakan harga sewa pusat perbelanjaan dan ruang perkantoran Summarecon stabil tahun ini, karena penyewa umumnya telah memiliki perjanjian sewa jangka panjang. Sedangkan pendapatan hotel diperkirakan turun, seperti pendapatan Hotel Movenpick di Bali dengan perkiraan penurunan 51% tahun ini akibat pandemic Covid-19.

Pendapatan hotel diperkirakan menyumbang sebesar 10% terhadap pendapatan berkelanjutan perseroan tahun ini atau setara dengan 3% terhadap perkiraan total pendapatan perseroan tahun ini.

Terkait besarnya total utang perseroan, Aurellia menegaskan bahwa seluruh utang perseroan dalam mata uang rupiah, baik pinjaman bank dan obligasi korporasi. Utang tersebut juga bertenor panjang. Sedangkan obligasi jatuh tempo perseroan senilai Rp 1,3 triliun pada November 2020.

Perseroan juga memili utang bank jatuh tempo tahun ini senilai Rp 1,33 triliun. “Kami memperkirakan perseroan akan mampu untuk melunasi obligasi jatuh tempo tersebut dengan memanfaatkan dana dari uang sewa investasi properti,” ungkap dia.

Maybank Kim Eng Sekuritas memangkas turun target marketing sales Summarecon Agung tahun ini. Pemangkasan target tersebut juga diperkirakan berimbas terhadap ekspektasi kinerja keuangan perseroan tahun 2020 dan 2021.

Ilustrasi apartemen. Foto: summareconserpong.com
Ilustrasi apartemen. Foto: summareconserpong.com

Maybank Kim Eng Sekuritas memangkas target penjualan properti Summarecon dari Rp 4,36 triliun menjadi Rp 3,11 triliun tahun 2020. Target penjualan properti perseroan tahun depan juga direvisi turun dari Rp 4,39 triliun menjadi Rp 3,63 triliun.

Pemangkasan target penjualan properti tersebut mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas untuk merevisi turun target pendapatan perseroan tahun ini dari Rp 6,32 triliun menjadi Rp 5,71 triliun.

Begitu juga proyek laba bersih tahun 2020 dipangkas dari Rp 536 miliar menjadi Rp 401 miliar. Angka tersebut lebih rendah dari perkiraan laba bersih tahun 2019 senilai Rp 476 miliar.

Begitu juga dengan perkiraan pendapatan perseroan tahun 2021 direvisi turun dari Rp 6,77 triliun menjadi Rp 6,36 triliun. Perkiraan laba bersih juga diturunkan dari Rp 559 miliar menjadi Rp 452 miliar.

Kondisi tersebut juga mendorong Maybank Kim Eng Sekuritas memangkas turun perkiraan nilai aset bersih (RNAV) Summarecon sekitar 9% menjadi Rp 2.576 per saham. Pemangkasan tersebut juga berimbas terhadap pemangkasan target harga saham SMRA dari Rp 1.650 menjadi Rp 850. Meski demikian, SMRA tetap direkomendasikan beli.

Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan besarnya cadangan lahan perseroan mencapai 2.103 hektare (ha) tahun ini. Target tersebut juga mengimplikasikan asumsi PB tahun ini sekitar 1,6 kali.

Sementara itu, Sinarmas Sekuritas menyebutkan bahwa Summarecon bakal mampu mencetak pertumbuhan kinerja keuangan. Peningkatan akan didukung oleh peluncuran sejumlah proyek properti yang menyasar pengguna akhir.

Sedangkan penerapan PSAK 72 diperkirakan tidak berimbas negatif terhadap kinerja keuangan, karena tidak memiliki proyek apartemen yang sedang berjalan.

“Hanya saja besarnya utang jatuh tempo perseroan tahun ini dan ketatnya kas internal perseroan bisa menjadi sentimen negatif terhadap pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini,” tulis tim riset Sinarmas Sekuritas.

Sinarmas Sekuritas memperkirakan peningkatan marketing sales Summarecon sebesar 7% menjadi Rp 4,5 triliun tahun ini. Perseroan juga diperkirakan tetap memfokuskan penjualan properti kepada pengguna akhir (end user) dengan target harga berkisar Rp 1-2 miliar per unit.

Sinarmas Sekuritas juga menyebutkan bahwa penjualan properti dari proyek Summarecon Bekasi dan Serpong akan menjadi penyumbang utama pendapatan perseroan.

Sedangkan sisanya berasal dari Summarecon Bandung dan Makassar. Begitu juga dengan Summercon Bogor diharapkan mulai berkontribusi terhadap kinerja perseroan. Sinarmas Sekuritas memperkirakan kenaikan pendapatan Summarecon Agung menjadi Rp 6,62 triliun tahun ini dibandingkan perkiraan tahun lalu sebesar Rp 6,05 triliun.

Laba bersih juga diproyeksikan bertumbuh menjadi Rp 547 miliar tahun ini dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai Rp 480 miliar. Perkiraan kenaikan kinerja mendorong Sinarmas Sekuritas mempertahankan rekomendasi buy saham SMRA dengan target harga Rp 1.300..

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN