Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Menara Astra International. Foto: dok. Astra

Menara Astra International. Foto: dok. Astra

Kuartal II, Bisnis Otomotif Astra Mulai Berlari Kencang

Selasa, 27 April 2021 | 04:31 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Bisnis otomotif yang menunjukkan pemulihan setelah penerapan insentif pajak penjualan atas barang mewah (PPnBM) bakal menjadi faktor positif terhadap PT Astra International Tbk (ASII). Perseroan juga akan mendapatkan dukungan dari tren kenaikan harga komoditas dan pemulihan ekonomi nasional tahun ini.

Pada kuartal I-2021,Astra International membukukan penurunan laba bersih sebesar 22% menjadi Rp 3,72 triliun dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 4,81 triliun.

Namun, laba tersebut melonjak 75,4% dibandingkan pencapaian pada kuartal IV-2020 yang senilai Rp 2,12 triliun. Begitu juga dengan marjin bersih (net margin) yang melonjak menjadi 7,2% pada kuartal I-2021 dibandingkan kuartal IV-2020 yang sebesar 4,8%.

Adapun pendapatan bersih turun 4% menjadi Rp 51,7 triliun pada kuartal I-2021. Meski demikian, pendapatan tersebut meningkat 15,7% dibandingkan perolehan pada kuartal IV-2020 yang sebesar Rp 44,65 triliun.

Kegiatan di pabrik Astra International. Foto: DAVID
Kegiatan di pabrik Astra International. Foto: DAVID

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, Astra International menunjukkan perbaikan kinerja dibandingkan kuartal IV-2020.

“Namun, realisasi laba bersih pada kuartal I-2021 masih di bawah target kami dan consensus analis,” tulis dia dalam risetnya.

Rendahnya realisasi lababersih tersebut, menurut dia, dipicu oleh penurunan keuntungan dari sejumlah bisnis perseroan, seperti laba bersih bisnis otomotif yang turun 25,7% pada kuartal I-2021 dibandingkan periode sama tahun lalu. Bisnis keuangan perseroan juga turun hingga 30% dan bisnis perkebunan kelapa sawit menurun 56,4%.

Sedangkan bisnis pertambangan menunjukkan peningkatan karena didukung oleh pertumbuhan volume penjualan alat berat bersamaan dengan penguatan harga jual batu bara dan emas.

Di sisi lain, bisnis logistik perseroan menunjukkan penurunan lebih lanjut.

Stefanus memperkirakan Astra International akan mengalami pemulihan yang cukup signifikan mulai kuartal II tahun ini, seiring dengan insentif PPnBM untuk penjualan mobil mulai dari 0% hingga 50%.

“Kami memperkirakan volume penjualan mobil akan melesat 46,6% menjadi 780 ribu unit tahun ini yang didukung oleh dua faktor, yaitu pulihnya perekonomian dan insentif PPnBM. Kami memperkirakan perseroan akan membukukan margin EBIT positif mencapai 0,5% tahun ini,” ungkap dia.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.500. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun 2021 sekitar 17,7 kali.

Target tersebut juga telah mempertimbangkan peluang peningkatan laba bersih perseroan menjadi Rp 17,16 triliun pada 2021 dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 16,16 triliun. Pendapatan perseroan juga diharapkan meningkat dari Rp 175,04 triliun menjadi Rp 214,49 triliun.

Marjin Keuntungan

Harga saham ASII satu dekade terakhir, prospek saham ASII, dan kinerja keuangan Astra International
Harga saham ASII satu dekade terakhir, prospek saham ASII, dan kinerja keuangan Astra International

Sementara itu, analis Trimegah Sekuritas Hasbie dan Willinoy Sitorus mengungkapkan, perolehan pendapatan dan laba bersih Astra International pada kuartal I-2021 telah sesuai dengan harapan Trimegah Sekuritas. Pemulihan keuntungan tersebut didukung oleh keberhasilan perseroan meningkatkan marjin keuntungan di seluruh segmen bisnis.

“Seluruh bisnis perseroan menunjukkan perbaikan, seperti bisnis otomotif yang mencetak laba operasional Rp 107 miliar setelah tiga kuartal berturut-turut rugi operasional. Begitu juga dengan segmen bisnis keuangan yang mencetak peningkatan marjin bersih dari 11,1% pada kuartal IV-2020 menjadi 16% pada kuartal I-2021,” tulis Hasbie dan Willinoy dalam risetnya.

Tidak kalah menariknya di segmen pertambangan dan penjualan alat berat, yang terutama didukung oleh peningkatan marjin keuntungan bisnis emas dan batu bara. Perbaikan didukung oleh pertumbuhan harga jual dalam beberapa bulan terakhir.

Terkait ekspansi usaha ke bisnis digital, perseroan masih memiliki dana tunai yang besar, yaitu dana hasil penjualan saham PT Bank Permata Tbk (BNLI) senilai Rp 16,7 triliun yang sebagian besar belum dimanfaatkan. Dana tersebut tampaknya mulai difokuskan untuk ekspansi ke bisnis digital, seperti investasi pada dua perusahaan rintisan (start-up) di Indonesia.

Astra mengucurkan dana sebesar US$ 5 juta ke Sayurbox dan US$ 35 juta ke Halodoc pada Maret dan April 2021. Halodoc merupakan aplikasi kesehatan berbasis online. Sedangkan Sayurbox merupakan e-commerce groceryfarm to table platform and distributor of fresh goods. Astra adalah investor utama dalam pendanaan dua start-up tersebut.

Selah satu kegiatan di pabrik Astra International. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal
Selah satu kegiatan di pabrik Astra International. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Sebelumnya, perseroan juga berinvestasi di Gojek pada 2019.

“Dengan uang tunai yang masih banyak ditambah potensi perbaikan ekonomi Indonesia, Astra International diproyeksikan agresif berekspansi secara organik dan anorganik,” jelas Hasbie dan Willinoy.

Adapun tahun ini, kinerjakeuangan Astra International diyakini cenderung bertumbuh, khususnya mulai kuartal II tahun ini karena didukung oleh tren peningkatan volume penjualan mobil setelah insentif pajak. Pertumbuhan kinerja keuangan juga didukung oleh penguatan harga komoditas.

Perseroan juga berpotensi mendapatkan keuntungan dari investasi di Gojek. Seperti diketahui, Astra International memegang 4,05% saham Gojek. Merger antara Gojek dan Tokopedia yang dilanjutkan dengan penawaran umum perdana (IPO) saham berpotensi mendongkrak valuasi kedua perusahaan menjadi US$ 40 miliar yang tentu berimplikasi positif terhadap Astra.

Sebab itu, Trimegah Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham ASII dengan target harga Rp 7.500. Taget ini mempertimbangkan perkiraan PE tahun ini sekitar 11,3 kali.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN