Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Perbankan Nasional. Foto ilustrasi: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

LDR Jadi Isu Krusial Saham Bank

Frans S Imung, Jumat, 5 Juli 2019 | 15:26 WIB

LDR menjadi isu penting bagi saham perbankan saat ini. Bank dengan modal inti di atas Rp 30 triliun relatif paling aman dari indikator LDR. Bank-bank ini pun selama ini menjadi favorit para investor di pasar saham.

Setelah momok kredit macet berlalu, kini faktor likuiditas jadi perhatian pelaku pasar saham. Ibarat darah bagi tubuh manusia, sirkulasinya yang lancar kala dipompakan dari jantung akan menentukan tingkat kesehatan seseorang, likuiditas pendanaan bank yang lancar sangat menentukan aktivitas bisnis bank bersangkutan.

Indikator penting ini bisa dilihat dari posisi LDR (loan to deposit ratio). Level LDR diperoleh dari total kredit satu bank dibanding akumulasi dari total dana pihak ketiga (DPK), ditambah modal disetor serta laba ditahan. DPK merupakan gabungan antara tabungan, giro, deposito, ditambah cadangan, modal disetor serta laba ditahan.

Batas aman yang direkomendasikan Bank Indonesia untuk melihat tingkat kesehatan likuiditas satu bank jika LDR maksimal 92%. Semakin tinggi persntase LDR, mengindikasikan likuiditas satu bank cenderung kurang oke. Sebab, angka LDR yang melampaui level ideal menunjukkan kredit yang diberikan satu bank kurang diimbangi dengan modal yang memadai.

Lembaga Penjamin Simpanan pada akhir tahun lalu memperkirakan, rata-rata LDR sampai tahun 2019 akan berkisar pada posisi 94%. Banyak pemerhati bank berpendapat, jika level LDR masih di bawah 100% bisa dianggap masih relatif aman, meski sudah harus jadi perhatian.

Guncangan ekonomi global memicu kekhawatiran dunia usaha untuk meningatkan ekspansi usaha, yang membuat penyaluran kredit jadi tersendat. Kondisi seperti ini juga menjadi perhatiaan investor di pasar saham. Bank dengan tingkat LDR yang cenderung menggelembung, selain indikator lain yang tidak optimal tentu akan jadi perhatian investor.

Menurut analis Samuel Sekuritas, Suria Dharma, dalam kondisi saat ini, likuiditas menjadi isu krusial. Jika bicara likuiditas, menurut dia, kelompok bank BUKU 4 (Bank Umum Kegiatan Usaha dengan modal inti minimal Rp 30 triliun) relatif memiliki likuiditas yang lebih baik di tengah trend kenaikan LDR. “LDR perbankan telah menembus angka 94,78% pada Desember 2018, lebih tinggi dari ketentuan batas aman BI di 92%,” demikian laporan riset Suria Dharma.

Jika dilihat berdaasarkan kelompok, LDR bank BUKU 3 paling tinggi di pada akhir tahun lalu karena mencapai 103,37%. Sedangkan LDR bank BUKU 2 sekitar 94,03% dan BUKU 1 sekitar 92,27%. “Sedangkan bank BUKU 4 memiliki LDR terendah pada 89,90%. Ini menunjukkan bahwa likuiditas bank-bank BUKU 4 secara keseluruhan lebih baik dibandingkan kelompok bank lainnya,” demikian Suria Dharma.

Sebaliknya, emiten perbankan yang masuk kelompok BUKU 4 umumnya punya posisi LDR yang relatif aman karena masih di bawah 100%. Posisi LDR BBCA pada akhir 2018 tercatat 85,4%, BBNI sebesar 88,8%, dam BBRI sebesar 89,3%. Sementara LDR BMRI tercatat 97,5% dan Bank Niaga (BNGA) 97,6%.

Pada sisi lain, penyaluran kredit adalah nyawa bagi perbankan. Namun, kondisi ekonomi yang kondusif menjadi prasyarat keberhasilan. Menurut analis FAC Sekuritas, Wisnu Prambudi Wibowo, rilis peringkat kredit bagi Indonesia oleh S&P dari BBB- menjadi BBB memang meberi sentimen positif. Kondisi perekonomian dalam negeri relatif baik meski peluang pertumbuhan relatif terbatas. “Namun, pada sisi lain ada kendala dari sisi makro sebagai ekses perang dagang antara AS dengan Tiongkok.

Dalam kondisi seperti ini, kredit akan relatif menggeliat jika ada stimulus dari sisi penurunan bunga. BI cenderung menahan kenaikan suku bunga, setelah bank sentral AS, The Federal Reserve pun sudah memberi indikasi menahan kenaikan bunga. Sejalan dengan inflasi yang terkendali, menurut Wisnu Prambudi, ada peluang juga buat BI ntuk segera menurunkan suku bunga acuan. “Kalau suku bunga acuan diturunkan, saya pikir bisa mendorong dari sisi likuiditas perbankannya untuk penyaluran kredit,” harap Wisnu.

Soal penyaluran kredit, ketersediaan likuiditas menjadi kunci. Belum lagi soal daya serap pelaku usaha, di tengah ketidakpastian global. Menurut Suria Dharma, emiten bank BUKU IV, baik BUMN maupun swasta punya posisi relatif kondusif untuk menggelontorkan kredit. Emiten BUMN seperti BMRI dan BBNI mencatat pertumbuhan kredit sekitar 14% dalam 5 tahun terakhir yang dialokasikan untuk proyek infrastruktur.

Sesuai karakter infrastruktur yang bersifat jangka panjang, ada risiko likuiditas yang perlu diantisipasi. Namun Bank Milik Negara (Himbara), yang juga tercatat sebagai perusahaan publik, tampaknya sudah punya solusi dengan menghimpun dana non-konvensional. Tren dana non-konvensional relatif meningkat, seperti BBRI yang menghimpun Rp 20-21 triliun, BBNI Rp 20 triliun, BMRI Rp 40 triliun, dan BBTN Rp 14 triliun.

Seiring dengan kemampuan ini, emiten-emiten bank papan atas bahkan menjadi sumber pendanaan bagi perusahaan jasa keuangan lain. Menurut Suria Dharma, BBCA berperan sebagai sumber pendanaan bagi perusahaan servis finansial lain. BBCA menjadi alternatif sumber pendanaan karena dikenal memiliki CASA paling pada kelompok bank BUKU 4. Hal itu terbukti pada data pertumbuhan kredit BBCA pada sektor financial services sekitar 64,4% selama 2018 dibanting tahun sebelumnya. “Kontribusinya mencapai 8% dari total kredit BBCA di 2018. Bandingkan dengan kontribusi di 2017 yang hanya mencapai 5,6%,” demikian Suria Dharma.

Secara umum, menurut Rr. Nurulita Harwaningrum dari MNC Securities, pertumbuhan kredit pada 2019 hanya berkisar 11%. Selain tantangan internal bank, kondisi makro yang masih diliputi ketidakpastian masih akan menjadi tantangan bagi perbankan. Itu sebabnya pemerintah realistis dengan target pertumbuhan sekitar 5,2%. Pada sisi lain, kata Nurulita, pencairan pinjaman yang cukup agresif selama 2018 akan membuat bank lebih membatasi diri tahun ini.

Ia juga memberi catatan soal net interest margin (NIM). “Kami melihat bahwa NIM akan menurun karena likuiditas perbakan masih relatif ketat dan suku bunga pinjaman tidak selaras dengan kenaikan suku bunga deposito,” demikian Nurulita Harwaninggrum.

 

Likuiditas Saham

Melihat berbagai tantangan industri dan performa bank publik papan atas, para analis umumnya hanya merekomendasikan segelintir saham emiten bank. Bank-bank ini juga sudah memperlihatkan indikasi kinerja positif, setidaknya berdasarkan posisi kuartal pertama 2019.

BMRI dan BBCA misalnya, mencatat pertumbuhan pendapatan bunga bersih double digit pada kuartal pertama karena mereka dapat mempertahankan NIM. Jika dipantau dari sisi NIM saja, BBCA dan BNGA mencatat peningkatan pada periode yang sama. Sedangkan rasio efisiensi beberapa bank, seperti BBRI, BBCA, BNGA, dan BBTN mencatat peningkatan positif.

Dengan performa seperti ini, nama-nama emiten bank seperti BMRI, BBCA, BNGA, BBCA, dan BBCA, menjadi saham perbankan favorit. Di luar bank buku 4, para analis menjagokan saham BBTN yang beberapa tahun terakhir mencatat pertumbuhan kinerja gemilang, yang diiringi inovasi di banyak bidang.

Suria Dharma mengaku tetap menjagokan saham perbankan karena pertimbangan tren kenaikan suku bunga sudah melambat dan berpeluang turun. Secara industri perbankan pun masih berpeluang tumbuh di tengah tekanan ekonomi makro. Ia lebih menjagokan saham bank besar karena memiliki likuiditas dan coverage ratio lebih baik dibanding bank-bank kecil.

“Top pick kami adalah BBNI yang performanya baik, namun memiliki valuasi termurah di antara 4 bank besar. Kami juga menyukai BBRI dan BBCA yang tetap menunjukkan performa yang solid, namun di sisi lain valuasinya premium. Dari segi harga, kami juga tertarik dengan BBTN karena memiliki potential upside paling tinggi saat ini,” demikian Suria Dharma.

Sementara itu, MNC Securitities mengambil posisi netral dengan pilihan terbaik saham BBCA dan BBNI. Posisi netral didasari pertimbangan pertumbuhan industri moderat dan telah tercermin pada kualitas aset yang stabil, pengetatan likuiditas, tekanan NIM pertumbuhan bottom yang relatif moderat.

Namun, Rr. Nurulita Harwaningrum, saham perbankan mendapat sentimen positif saat terjadi capital inflow. Tren ini seiring dengan penerapan peraturan free-float dan potensi peningkatan 7DRR yang terbatas. Rekomendasi saham bank versi MNC Securities yakni beli untuk BBCA pada posisi Rp31.000, hold untuk BBRI pada posisi Rp4.400, hold untuk BMRI pada posisi Rp7.850 dan beli untuk BBNI pada posisi Rp10.000). Sedangkan rekomendasi untuk BBTN adalah HOLD pada posisi Rp2.600 dan beli BNGA posisi Rp1.375, dan beli saham AGRO pada posisi Rp480.

Wisnu Prambudi Wibowo menambahkan, saham emiten bank BUKU 4 punya harga relatif stabil. Sebab, pada akhirnya kinerja dan likuditas saham menjadi perhatian investor. “Kalau kita lihat emiten bank BUKU 4, masih nama-nama seperti BBNI, BBCA, BMRI dan BBRI. Saham Bank Panin juga menarik,” lanjutnya.

Jika kinerja bank bersangkutan relatif solid, menurut Wisnu Prambudi, investor harus mencermati sisi valuasi. Jika bicara dari sisi valuaasi, menurut dia, saham BBNI relatif murah dibanding bank besar lainnya. “Penurunannya sudah cukup dalam. Saya lihat masih ada peluang naik ke kisaran Rp 9.750 per saham sampai akhir tahun 2019,” demikian rekomendasi Wisnu Prambudi.

Sebaliknya ia menyarankan investor untuk lebih cermat jika berinvestasi pada saham BMRI, BBRI maupun BBCA. Jika masuk pada saat ini, ada kecenderung terkoreksi. Karena itu, ia menyarankan investor untuk membeli saham-saham setelah mengalami koreksi. “Saya sarankan untuk masuk saham BBRI kalau sudah turun hingga di bawah Rp 3.600 - 3.800. Kalau BBCA area belinya di 26.000 dengan rekomendasi buy on weakness. Lalu kalau saham BMRI, sebaiknya masuk saat terkoreksi di bawah 7.000,” sarannya.

Soal saham lapis kedua, pendapat analis relatif sama untuk saat ini. Jika kinerja cukup meyakinkan dan valuasi murah, investor bisa mempertimbangkannya. Namun, jika faktor keamanan investasi menjadi concer, disarankan untuk fokus pada kelompok saham blue chips. Sebab, untuk saham-saham ini, jika mengalami penurunan harga, tidak terlampau dalam dan jika naik tidak melambung tinggi.

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA