Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana

Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana

Lonsum Masih Atraktif

Parluhutan Situmorang, Selasa, 10 Maret 2020 | 07:28 WIB

JAKARTA, investor.id - Realisasi kinerja keuangan PT PP London Sumatra Indonesia Tbk atau Lonsum (LSIP) sepanjang 2019 berhasil melampaui ekspektasi sejumlah analis, meskipun kinerja keuangan di bawah perolehan 2018. Keberhasilan melampaui estimasi tersebut ditopang oleh kenaikan volume penjualan dan rata-rata harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) pada kuartal IV-2019.

Namun, Lonsum mencatat penurunan laba tahun berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik induk sebesar 23,4% menjadi Rp 253,9 miliar pada 2019. Penurunan laba ini seiring pelemahan nilai penjualan perseroan sekitar 8% menjadi Rp 3,7 triliun dibandingkan 2018 sebesar Rp 4,01 triliun. Penurunan penjualan dan laba terutama akibat penurunan total penjualan CPO dan penurunan harga rata-rata produk sawit.

Presiden Direktur Lonsum Benny Tjoeng menyebutkan bahwa rata-rata harga jual CPO dan palm kernel (PK) perseroan tahun lalu turun masingmasing 2% dan 43%. Penurunan pendapatan dipengaruhi oleh pelemahan volume penjualan CPO sekitar 4,2% secara tahunan menjadi 417.533 ton.

Sementara, volume penjualan PK dan produk turunan PK meningkat 10,6% menjadi 124.908 ton. Dilihat dari kontribusi penjualan, produk sawit memang masih menjadi contributor utama penjualan perseroan. Per 2019, produk sawit berkontribusi 92,2% terhadap total penjualan.

TBS Sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana
TBS Sawit. Foto ilustrasi: Investor Daily/Gora Kunjana

Kemudian, diikuti penjualan karet 5%, biji sawit 1,2% dan lainnya 1,6%. Sedangkan total aset perseroan sebesar Rp 10,23 triliun pada akhir 2019 dibandingkan akhir 2018 yang mencapai Rp 10,03 triliun. Peningkatan juga terjadi pada liabilitas dari Rp 1,7 triliun pada akhir 2018 menjadi Rp 1,72 triliun pada akhir 2019.

Analis Mirae Asset Sekuritas Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, Lonsum mampu untuk menghasilkan kinerja keuangan tahun 2019 di atas ekspektasi Mirae Asset Sekuritas.

Keberhasilan tersebut ditunjukkan oleh peningkatan penjualan perseroan pada kuartal terakhir tahun 2019.

“Kenaikan rata-rata harga jual CPO perseroan menjadi Rp 7.482 per kilogram pada kuartal IV-2019 dibandingkan perolehan kuartal III-2019 sebesar Rp 6.436 per kilogram, yang berimbas terhadap kenaikan pendapatan pada kuartal terakhir,” tulis Andy dalam risetnya, barubaru ini.

Perbaikan performa menjelang akhir 2019 tersebut, menurut dia, membuat penurunan pendapatan perseroan hanya mencapai 8% menjadi Rp 3,7 triliun tahun lalu. Sedangkan laba bersih turun sekitar 23,3% menjadi Rp 253 miliar tahun lalu. “Raihan laba bersih tersebut telah melampaui perkiraan kami dan konsensus analis,” jelas Andy.

Realisasi laba bersih Lonsum tahun 2019 setara dengan 148,2% dari target yang telah ditetapkan Mirae Asset Sekuritas dan sebesar 159,3% dari konsensus analis.

Sedangkan pencapaian pendapatan Lonsum senilai Rp 3,69 triliun setara dengan 104,6% dari proyeksi Mirae dan sebesar 100,5% dari konsensus analis.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham LSIP dengan target harga Rp 1.600 per saham. Target harga tersebut merefleksikan keyakinan bahwa saham LSIP masih atraktif dalam jangka panjang.

Pandangan senada juga diungkapkan analis Danareksa Sekuritas Andreas Kenny. Menurut dia, pencapaian laba bersih dan penjualan Lonsum tahun lalu telah melampaui perkiraan Danareksa Sekuritas.

“Pencapaian laba bersih tersebut setara dengan 214,9% dari target yang kami tetapkan. Sedangkan perolehan perseroan tahun lalu merefleksikan sekitar 103,3% dari harapan  yang berimbas terhadap kenaikan pendapatan pada kuartal terakhir,” tulis Andy dalam risetnya, barubaru ini.

Perbaikan performa menjelang akhir 2019 tersebut, menurut dia, membuat penurunan pendapatan perseroan hanya mencapai 8% menjadi Rp 3,7 triliun tahun lalu. Sedangkan laba bersih turun sekitar 23,3% menjadi Rp 253 miliar tahun lalu. “Raihan laba bersih tersebut telah melampaui perkiraan kami dan konsensus analis,” jelas Andy.

Realisasi laba bersih Lonsum tahun 2019 setara dengan 148,2% dari target yang telah ditetapkan Mirae Asset Sekuritas dan sebesar 159,3% dari konsensus analis. Sedangkan pencapaian pendapatan Lonsum senilai Rp 3,69 triliun setara dengan 104,6% dari proyeksi Mirae dan sebesar 100,5% dari konsensus analis.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham LSIP dengan target harga Rp 1.600 per saham. Target harga tersebut merefleksikan keyakinan bahwa saham LSIP masih atraktif dalam jangka panjang. Pandangan senada juga diungkapkan analis Danareksa Sekuritas Andreas Kenny.

Menurut dia, pencapaian laba bersih dan penjualan Lonsum tahun lalu telah melampaui perkiraan Danareksa Sekuritas.

“Pencapaian laba bersih tersebut setara dengan 214,9% dari target yang kami tetapkan. Sedangkan perolehan perseroan tahun lalu merefleksikan sekitar 103,3% dari harapan kami,” tulis Andreas dalam risetnya.

Dia mengakui bahwa membaiknya kinerja keuangan Lonsum dipengaruhi oleh kenaikan rata-rata harga jual CPO pada kuartal IV tahun lalu. Perseroan mencatat kenaikan harga jual CPO sebesar 16,2% pada kuartal IV-2019 dibandingkan kuartal III- 2019.

Lonsum juga berhasil mendongkrak volume penjualan sekitar 12,4% pada kuartal IV-2019 dibandingkan kuartal III-2019.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham LSIP dengan target harga direvisi turun dari Rp 1.800 menjadi Rp 1.500 per saham. Revisi turun tersebut menggambarkan perkiraan US$ 6.693 per hektare. Target harga tersebut juga telah mempertimbangkan potensi lonjakan laba bersih perseroan tahun ini.

Lonjakan Kinerja

Produk CPO
Produk CPO

Andreas menjelaskan, Lonsum diprediksi pulih tahun ini, bahkan dengan perkiraan lonjakan kinerja keuangan. Peningkatan kinerja keuangan akan didukung oleh perkiraan pertumbuhan volume penjualan dan kenaikan rata-rata harga jual CPO.

“Melihat pencapaian perseroan akhir tahun lalu, kami memilih untuk merevisi naik target volume penjualan CPO perseroan sebesar 1,8% menjadi 429 ribu ton tahun ini dibandingkan perkiraan semula 421 ribu ton. Kami juga merevisi naik target volume produksi CPO perseroan sekitar 0,6% dari 408 ribu ton menjadi 410 ribu ton tahun ini,” ungkapnya.

Revisi naik target volume penjualan ditambah perkiraan harga jual CPO tahun ini berkisar MYR 2.600 per ton mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi naik target laba bersih perseroan sekitar 3,9% dari Rp 436 miliar menjadi Rp 453 miliar tahun 2020.

Sedangkan perkiraan nilai penjualan direvisi turun sekitar 1,7% dari Rp 4,22 triliun menjadi Rp 4,15 triliun sepanjang tahun ini. Revisi turun target pendapatan akibat revisi turun rata-rata harga jual dan volume penjualan karet perseroan.

Sedangkan faktor penekan kinerja keuangan perseroan tahun ini diperkirakan datang dari berlanjutnya dampak wabah Virus Corona atau COVID-19 yang diprediksi memangkas permintaan minyak nabati tahun ini. Hal ini bisa berimbas negatif terhadap permintaan CPO global dan rata-rata harga jual.

Sebelumnya, analis Samuel Sekuritas Indonesia Yosua Ziskohi mengungkapkan, Lonsum bakal mampu mempertahankan margin keuntungan yang tetap baik tahun ini, karena perseroan tidak memiliki utang bank. Peningkatan margin juga didukung oleh ekspektasi kenaikan rata-rata harga jual CPO tahun ini.

Hal ini mendorong Samuel Sekuritas untuk menargetkan lonjalan laba bersih Lonsum menjadi Rp 628 miliar tahun 2020 dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 136 miliar. Pendapatan juga diperkirakan meningkat menjadi Rp 4,71 triliun pada 2020 dibandingkan proyeksi tahun 2019 senilai Rp 3,89 triliun.

“Lonsum menerapkan strategi zero leverage yang membuat perusahaan tidak memiliki biaya bunga, sehingga margin keuntungan lebih terjaga. Oleh karena itu, kami mempertahankan rekomendasi buy saham LSIP dengan target harga Rp 1.610,” jelas Yosua dalam risetnya.

Terkait penanaman kembali (replanting) tanaman tua Lonsum, Yosua mengungkapkan bahwa itu kemungkinan direalisasikan tahun ini yang berimbas terhadap perkiraan penurunan area tanaman produksi sekitar 2,53%.  

Hal ini dipandang positif tim riset Samuel Sekuritas, karena akan membuat usia rata-rata tanaman sawit perseroan turun dibandingkan posisi sekarang sekitar 41% tanaman sawitnya sudah berumur di atas 20 tahun.

Dia menambahkan, Lonsum diperkirakan mampu untuk mempertahankan TBS yield inti pada level 16,3 ton/ha serta CPO extraction rate di level 23%. “Tahun 2020, kami memperkirakan TBS yield dan CPO extraction rate akan stabil dengan dukungan cuaca normal. Namun, TBS yield sulit naik akibat efisiensi pemberian pupuk yang berkurang 26,1% yoy,” ungkapnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN