Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit

Kebun Sawit

Lonsum Terkerek Harga CPO

Parluhutan Situmorang, Senin, 13 Januari 2020 | 14:41 WIB

JAKARTA, investor.id - Tren peningkatan harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) akan berimbas positif terhadap kinerja keuangan PT PP London Sumatra Tbk (LSIP) atau Lonsum tahun ini, meskipun volume produksinya diperkirakan turun. Bahkan, perkiraan kinerja keuangan perseroan direvisi naik berkat tren peningkatan harga CPO.

Penguatan harga CPO tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi naik target penjualan tahun ini dari Rp 4,15 triliun menjadi Rp 4,22 triliun. Laba bersih direvisi tumbuh sekitar 11,6% dari estimasi semula Rp 391 miliar menjadi Rp 436 miliar. Sedangkan pendapatan dan laba bersih tahun 2019 diperkirakan masing-masing Rp 4,22 triliun dan Rp 148 miliar.

Revisi naik target kinerja keuangan Lonsum tersebut sejalan dengan revisi naik target harga CPO tahun ini sebesar 8,3% dari perkiraan semula MYR 2.400 per ton menjdi MYR 2.600 per ton. Begitu juga dengan ekspektasi harga jual CPO perseroan dinaikkan dari Rp 7.307 per kilo gram menjadi Rp 7.859 per kilo gram. Sedangkan harga jual karet perseroan tahun ini diproyeksikan berada di level Rp 22.978 per kilo gram.

Terkait kinerja operasional Lonsum, dia mengatakan, volume produksi tandan buah segar (TBS) direvisi turun dari 1,51 juta ton menjadi 1,41 juta ton. Estimasi volume produksi CPO perseroan juga dipangkas dari perkiraan 430 ribu ton menjadi 407,8 ribu ton tahun ini. Sedangkan perkiraan volume penjualan CPO perseroan direvisi turun dari 449 ribu ton menjadi 421 ribu ton.

“Meskipun volume produksi dan penjualan CPO perseroan turun tahun ini, kami memilih merevisi naik target kinerja keuangan Lonsum. Revisi naik tersebut didukung atas tren kenaikan harga jual CPO dengan perkiraan dinaikka menjadi MYR 2.600 per ton. Hal ini mendorong kami untuk merevisi naik target harga saham LSIP tahun ini,” analis Danareksa Sekuritas Andreas Kenny dalam risetnya, baru-baru ini.

Dia mengatakan, tren kenaikan harga jual CPO ditopang sejumlah faktor, seperti ketatnya suplai minyak dunia dan peningkatan permintaan minyak sawit mentah dunia. Kenaikan tersebut kemungkinan didukung atas berlanjutnya program B30 pemerintah Indonesia. Ekspektasi kenaikan harga jual tersebut telah terlihat dari rata-rata harga CPO saat ini sudah mencapai MYR 3.000 per ton.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi naik target harga saham LSIP dari Rp 1.650 menjadi Rp 1.800. Revisi naik tersebut menggambarkan berlanjutnya tren peningkatan harga jual minyak sawit. Target tersebut juga merefleksikan perkiraan PE tahun ini sekitar 22,7 kali dan PBV mencapai 1,1 kali.

Margin Keuntungan

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Yosua Ziskohi mengatakan, Lonsum diperkirakan mampu untuk mempertahankan margin keuntungan tetap baik, karena perseroan tidak memiliki utang bank. Peningkatan margin juga didukung atas ekspektasi kenaikan rata-rata harga jual CPO tahun ini.

Hal ini mendorong Samuel Sekuritas untuk menargetkan lonjalan laba bersih Lonsum menjadi Rp 628 miliar tahun 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 136 miliar. Pendapatan juga diperkirakan meningkat menjadi Rp 4,71 triliun pada 2020, dibandingkan proyeksi tahun 2019 senilai Rp 3,89 triliun.

“Lonsum menerapkan strategi zero leverage yang membuat perusahaan tidak memiliki biaya bunga, sehingga margin keuntungan lebih terjaga. Oleh karena itu, kami mempertahankan rekomendasi buy saham LSIP dengan target harga Rp 1.610,” ujarnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Terkait penanaman kembali (replanting) tanaman tua Lonsum, Yosua mengungkapkan, diproyeksikan direalisasikan tahun ini yang berimbas terhadap perkiraan penurunan area tanaman produksi sekitar -2.53%. Hal ini dipandang positif tim riset Samuel Sekuritas, karena akan membuat usia rata-rata tanaman sawit perseroan turun, dibandingkan posisi sekarang sekitar 41% tanaman sawitnya sudah berumur di atas 20 tahun.

Dia menambahkan, Lonsum diperkirakan mampu untuk mempertahankan TBS yield inti pada level 16,3 ton/ha serta CPO extraction rate di level 23,0%. “Tahun 2020, kami memperkirakan TBS yield dan CPO extraction rate akan stabil dengan dukungan cuaca normal. Namun TBS yield sulit naik akibat efisiensi pemberian pupuk yang berkurang -26,1% yoy,” terangnya.

Yosua menambahkan, Lonsum kemungkinan menggelontorakan belanja modal (capex) dengan nilai moderat berkisar Rp 500-600 miliar tahun ini.Masih diberlakukannya moratorium pembukaan lahan tanam sawit baru membuat Lonsum tidak banyak menganggarkan capex. Nilai capex perseroan tahun ini diproyeksikan mencapai Rp 500 – 600 miliar untuk membiayai maintain dan replanting tanaman,” terangnya.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN