Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di Indo Tambangraya. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Salah satu kegiatan di Indo Tambangraya. Foto: BeritaSatu Photo/M Defrizal

Masa Sulit Indo Tambangraya Belum Berakhir

Parluhutan Situmorang, Senin, 19 Agustus 2019 | 09:35 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG) masih menghadapi masa sulit pada paruh kedua tahun ini. Tren penurunan harga jual batubara bersamaan dengan pengurangan impor dari beberapa Negara akan membuat kinerja keuangan perseroan terus turun dalam beberapa bulan mendatang.

Analis Sinarmas Sekuritas Richard Suherman mengatakan, laba bersih Indo Tambangraya diperkirakan lanjutkan pelemahan dalam beberapa kuartal ke depan. Hal ini dipicu atas ekspektasi tetap rendahnya harga jual batubara hingga akhir tahun. Penurunan juga dipengaruhi atas proyekssi pemangkasan impor batubara dari Tiongkok.

“Perlambatan ekonomi Tiongkok akan memicu penurunan impor batubara. Seangkan penurunan harga jual gas akan menaikkan permintaan gas, dibandingkan dengan batubara. Hal ini tentu akan berimbas buruk terhadap target laba bersih perseroan tahun ini,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Sinarmas Sekuritas mengasumsikan rata-rata harga jual batubara perseroan tahun ini turun menjadi US$67,9 per ton, dibandingkan realisasi tahun lalu sekitar US$ 85,6 per ton. Sedangkan volume produksi diharapkan naik menjadi 23,2 juta ton, dibandingkan perolehan tahun 2018 sebanyak 22,1 juta ton.

Terkait pencapaian kinerja keuangan perseroan sepanjang semester I-2019, dia mengatakan, penurunan harga jual batubara menjadi pemicu utama penurunan laba bersih perseroan. Sedangkan peningkatan volume penjualan menjadi faktor penahan kejatuhan keuntungan perseroan, namun berimbas terhadap peningkatan stripping ratio menjadi 12,4 kali.

Perseroan mencatatkan kenaikan pendapatan sebesar 10,4% menjadi US$ 892,7 juta hingga akhir Juni 2019. Kenaikan tersebut sejalan dengan pertumbuhan volume penjualan sebanyak 28,1% menjadi 12,3 juta ton. Sedangkan rata-rata harga jual batubara perseroan turun 15% menjadi US$ 68,8 per ton.

Penurunan harga jual batubara yang diikuti dengan kenaikan rasio pengupasan batubara dari tanah (stripping ratio) memicu penurunan laba bersih perseroan hingga 31,2% menjadi US$ 70,8 juta.

“Raihan laba bersih tersebut setara dengan 50,1% dari total target sepanjang tahun ini versi Sinarmas Sekuritas. Sedangkan pencapaian tersebut setara dengan 35,6% dari estimasi konsensus analis,” terangnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk memangkas turun rekomendasi saham ITMG dari add menjadi netral dengan target harga Rp 16.850 per saham. Target harga tersebut telah mempertimbangkan peluang penurunan kinerja keuangan dan operasional perseroan pada paruh kedua tahun ini.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA