Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Produk Unilever di pasaran. Foto: dok ID

Produk Unilever di pasaran. Foto: dok ID

Mempertahankan Tren Pertumbuhan Unilever Indonesia

Parluhutan Situmorang, Kamis, 6 Februari 2020 | 10:34 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Unilever Indonesia Tbk (UNVR) diyakini kembali gencar meluncurkan produk baru guna menopang pertumbuhan kinerja keuangan sepanjang 2020. Sedangkan efisiensi belanja operasional diharapkan berimbas terhadap peningkatan margin keuntungan perseroan ke depan.

Hal ini mendorong sejumlah perusahaan sekuritas untuk mempertahankan tren kenaikan pendapatan dan laba bersih Unilever Indonesia tahun ini. Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan kenaikan laba bersih Unilever Indonesia menjadi Rp 7,94 triliun pada 2020, dibandingkan perolehan tahun lalu sebesar Rp 7,39 triliun.

Pendapatan juga diperkirakan meningkat dari Rp 42,92 triliun menjadi Rp 46,22 triliun.

Sedangkan Danareksa Sekurtas memperkirakan peningkatan laba bersih Unilever Indonesia menjadi Rp 8 triliun pada 2020, dibandingkan perkiraan tahun 2017 senilai Rp 7,39 triliun.

Pendapatan juga diharapkan naik menjadi Rp 46,35 triliun tahun ini, dibandingkan perkiraan tahun lalu sebesar Rp 42,92 triliun.

“Kami memperkirakan Unilever akan agresif meluncurkan produk baru tahun ini. Perseroan juga bakal gencar merilis ulang produk-produk yang sudah ada. Kedua hal tersebut diharapkan mendongkrak pendapatan perseroan sepanjang tahun 2020,” tulis analis Mirae Asset Sekuritas Mimi Halimin dalam risetnya, baru-baru ini.

Tahun lalu, dia menyebutkan, Unilever Indonesia berhasil meluncurkan produk baru dan merilis ulang produk yang sudah ada hingga 100, dibandingkan tahun 2018 mencapai 71 produk. Meski demikian, massifnya peluncuran produk memang berimbas terhadap peningkatan beban iklan dan promosi perseroan.

Ekspektasi berlanjutnya peningkatan kinerja keuangan perseroan mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham UNVR dengan target harga Rp 9.600.

Pandangan senada juga diungkapkan analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto. Menurut dia, agresifnya peluncuran produk baru diharapkan menjadi faktor utama berlanjutnya per tumbuhan kinerja keuangan Unilever Indonesia sepanjang tahun ini.

“Perseroan kemungkinan gencar meluncurkan produk baru dari berbagai segment sesuai dengan kebutuhan pelanggan, sehingga berimbas positif terhadap penjualan tahun ini,” ujarnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Dia juga menyebutkan bahwa pertumbuhan kinerja keuangan perseroan didukung atas ekspektasi stabilnya daya beli konsumen Indonesia tahun ini. Kedua faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi hold saham UNVR dengan target harga Rp 9.200.

Sebelumnya, Direktur dan Sekretaris Perusahaan Unilever Indonesia Sancoyo Antarikso mengatakan, perseroan berkomitmen untuk memberikan kinerja keuangan jangka panjang dengan menciptakan keseimbangan yang baik antara pertumbuhan dan margin melalui model bisnis berkelanjutan.

Pihaknya juga akan terus melakukan inovasi dalam berbagai lini. Hal ini bertujuan agar bisa memberikan produk dan layanan yang selalu relevan kepada konsumen.

"Upaya-upaya ini juga kami yakini akan mampu menunjang kinerja keuangan jangka panjang kami yang positif," papar dia.

Sebelumnya, perseroan memutuskan untuk membagikan dividen tahun buku 2019 dengan nilai Rp 430 per saham atau dengan nilai total Rp 3,28 triliun. Dividen ini diberikan kepada pemilik saham pada 18 Desember 2019. Dividen ini berasal dari perolehan laba bersih pada Juni 2019. Pada semester I-2019 sebesar Rp 3,7 triliun atau bertumbuh 5,21% dari periode yang sama tahun sebelumnya.

Perolehan laba ini berasal dari pendapatan perseroan yang mencapai Rp 21,46 triliun. Angka tersebut meningkat 1,29% dari tahun sebelumnya yang hanya mencapai Rp 21,18 triliun

Sesuai Ekspektasi

Tahun lalu, perseroan membukukan kenaikan pendapatan sebesar 2,7% dari Rp 41,80 triliun menjadi Rp 42,92 triliun. Sedangkan laba bersih turun sebesar 18,6% dari Rp 9,08 triliun menjadi Rp 7,39 triliun.

Penurunan laba bersih tersebut dipengaruhi tidak adanya keuntungan pelepasan aset, seperti tahun 2018 senilai Rp 2,82 triliun. Jika tanpa memperhitungkan pelepasan aset, laba inti perseroan bertumbuh 9,3% tahun 2019.

“Realisasi kinerja keuangan Unilever tersebut sudah sesuai harapan kami dan konsensus analis. Perolehan pendapatan itu setara dengan 98,6% dari target yang kami tetapkan. Sedangkan perolehan laba bersih perseroan mencerminkan 99% dari target Danareksa Sekuritas,” ungkap Natalia.

Berdasarkan data laporan kinerja keuangan perseroan, dia menjelaskan, penopang pertumbuhan berasal dari peningkatan penjualan domestik sekitar 3,5% pada 2019, dibandingkan dengan ekspor perseroan justru turun sekitar 11,3%.

Adapun, pertumbuhan divisi terbesar dicetak perawatan tubuh dan rumah (home and personal care/HPC) sebesar 4% tahun 2019. Natalia memberikan pandangan positif atas keberasilan perseroan menaikkan margin keuntungan dan efisiensi belanja modal.

Kebijakan tersebut membuat gross margin perseroan naik dari 50,5% mmenjadi 51,3% pada 2019. Sedangkan margin keuntungan bersih turun dari 21,7% menjadi 17,2%. Realisasi kinerja keuangan Unilever sepanjang tahun 2019 tersebut juga sudah sesuai dengan ekspektasi Mirae Asset Sekuritas.

“Perolehan pendapatan tersebut setara dengan 98,8% dari target yang kami tetapkan. Sedangkan pencapaian laba bersih setara dengan 100,2% dari perkiraan kami dan merefleksikan 99,1% dari konsensus analis,” ungkap Mimi Halimin.

Jika tanpa memperhitungkan divesasi unit bisnis perseroan tahun 2018, menurut dia, laba bersihnya bertumbuh sebesar 9,3% sepanjang tahun 2019. Peningkatan laba inti tersebut didukung atas perluasan margin kotor bisnis perawatan tubuh dan rumah sepanjang tahun lalu.

Begitu juga dengan kenaikan pendapatan perseroan, menurut dia, ditopang atas langkah agresif perseroan untuk meluncurkan produk baru. Sebagaimana diketahui, perseroan telah meluncurkan produk baru dan meluncurkan ulang produk yang sudah ada mencapai 100 unit tahun lalu. Hal ini memam berimbas terhadap kenaikan biaya iklan berkisar 7,7% tahun 2019.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA