Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Menaikkan Target Pertumbuhan Astra Agro Seiring Perkiraan La Nina

Kamis, 30 Juli 2020 | 04:28 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Fenomena La Nina yang diperkirakan pada kuartal IV-2020 bakal menurunkan produksi minyak nabati dunia, sehingga bisa berdampak positif terhadap kenaikan harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO). Hal ini dapat menjadi sentimen positif terhadap kinerja keuangan PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) tahun ini.

Sebab itu, Danareksa Sekuritas merevisi naik proyeksi rata-rata harga jual CPO dari Rp 7.874 per kilogram menjadi Rp 7.980 per kilogram tahun ini. Revisi tersebut juga menjadi alasan untuk menaikkan target penjualan Astra Agro dari Rp 19,85 triliun menjadi Rp 20,12 triliun tahun ini. Laba bersih juga direvisi naik menjadi Rp 669 miliar tahun ini dari perkiraan semula Rp 622 miliar.

Menurut analis Danareksa Sekuritas Andreas Kenny, NOAA memprediksi La Nina akan kembali melanda pada kuartal IV- 2 0 2 0 . Prediksi tersebut  telah membuat harga kedelai meningkat dalam beberapa hari terakhir. La Nina yang terakhir terjadi pada 2017-2018, dimana telah berdampak pada penurunan produksi kedelai sebesar 5%.

Simulasi pencegahan dan penanggulangan karhutla di PT Kimia Tirta Utama (KTU) di  Siak, Riau yang merupakan anak usaha  Astra Agro pada tahun 2019. Kesiapsiagaan seperti ini dilakukan di semua kebun Astra Agro di seluruh Indonesia. Foto: IST
Simulasi pencegahan dan penanggulangan karhutla di PT Kimia Tirta Utama (KTU) di Siak, Riau yang merupakan anak usaha Astra Agro pada tahun 2019. Kesiapsiagaan seperti ini dilakukan di semua kebun Astra Agro di seluruh Indonesia. Foto: IST

“Fenomena ini hanya berimbas kecil terhadap produksi CPO Indonesia dan Malaysia. Produk CPO Indonesia diperkirakan meningkat 0,5 juta ton tahun ini dan Malaysia diperkirakan turun 2,1 juta ton tahun ini,” tulis Andreas dalam risetnya, baru-baru ini.

Kenaikan permintaan kedelai, menurut dia, mendorong Amerika Serikat mencatat kenaikan volume ekspor kedelai sebanyak 313 ribu ton atau meningkat 136,8% dan Brasil membukukan volume penjualan 1,1 juta ton atau meningkat 82,1% hingga bulan lalu.

Sedangkan harga jual kedelai telah bergerak naik di atas US$ 9 per bushel atau naik hampir 8,2% dalam sepekan terakhir. Peningkatan harga jual kedelai berimbas secara langsung terhadap peningkatan harga jual CPO hampir 10% dari periode sama tahun lalu.

Menurut Andreas, peningkatan tersebut membuat diskon harga jual CPO dengan kedelai semakin menyempit menjadi US$ 23,2 per ton dibandingkan perbedaan harga dalam dua tahun terakhir yang mencapai US$ 97 per ton.

Terkait pandemi Covid-19, OPEC+ telah memangkas volume produksi minyak bumi akibat penurunan permintaan. Hal ini membuat penurunan campuran minyak dengan bahan nabati. Namun, pemerintah Indonesia tetap memastikan campuran minyak dari CPO atau biodiesel sebesar 30%, meskipun harga minyak global turun.

Astra Agro Lestari menggunakan teknologi face recognation tuk presensi karyawan kebun sawit. Foto: dok Astra Agro
Astra Agro Lestari menggunakan teknologi face recognation tuk presensi karyawan kebun sawit. Foto: dok Astra Agro

Sejumlah faktor tersebut diharapkan membuat rata-rata harga jual CPO tahun ini meningkat menjadi 2.550 ringgit Malaysia per ton dan 2021 mencapai 2.500 ringgit Malaysia per ton. Kenaikan harga bakal dipicu oleh penurunan produksi minyak nabati akibat La Nina akhir tahun ini. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) diperkirakan stabil pada kisaran Rp 15.000.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas mempertahankan rekomendasi overweight saham sektor perkebunan. Sedangkan saham AALI direkomendasikan beli dengan target harga Rp 12.500.

Target harga tersebut menggambarkan PE tahun ini sekitar 27,1 kali dan tahun depan mencapai 19 kali. Target harga tersebut juga mempertimbangkan produksi tandan buah segar (TBS) perseroan mencapai 4,84 juta ton dan CPO sebanyak 1,63 juta ton tahun ini.

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Yosua Zisokhi mengungkapkan, ekspektasi cuaca yang lebih baik serta mulai pulihnya harga jual CPO sejalan dengan perkiraan pertumbuhan volume permintaan akan menjadi faktor penguat kinerja keuangan Astra Agro pada semester II tahun ini.

“Faktor tersebut mendorong kami untuk merekomendasikan beli saham AALI dengan target harga Rp 11.100. Target harga tersebut merefleksikan EV/ EBITDA mencapai 8,4 kali pada tahun depan,” tulis Yosua dalam risetnya.

Menurut dia, ekspektasi mulai pulihnya aktivitas ekonomi di berbagai negara secara langsung akan berimbas positif terhadap permintaan minyak nabati global. Kondisi ini diharapkan mendorong harga CPO ke level 2.400 ringgit Malaysia per ton pda semester II tahun ini. Peningkatan tersebut membuat rata-rata harga jual CPO perseroan tahun ini bisa mencapai Rp 7.000 per kilogram atau setara dengan kenaikan 11,1% dari perolehan periode sama tahun lalu.

Ruangan aplikasi yang diberi nama Melli (mill excellent indicator). Foto: dok. Astra Agro
Ruangan aplikasi yang diberi nama Melli (mill excellent indicator). Foto: dok. Astra Agro

Sedangkan volume penjualan CPO Astra Agro diharapkan mencapai 1,62 juta ton tahun ini, dengan rata-rata harga jual diproyeksikan naik dari Rp 6.291 menjadi Rp 6.990 pada 2020. Sedangkan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS diharapkan mencapai Rp 15.000 tahun ini dibandingkan tahun lalu mencapai Rp 14.114.

Proyeksi kenaikan rata-rata harga jual tersebut berpotensi mengangkat margin keuntungan bersih Astra Agro, sehingga berdampak pada peningkatan laba bersih. Ekspektasi pertumbuhan laba bersih tersebut juga akan didukung oleh upaya perseroan untuk selalu menekan biaya.

Adapun target harga saham AALI sebesar Rp 11.100 telah mempertimbangkan ekspektasi kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 642 miliar tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 211 miliar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN