Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan tambang Vale Indonesia. Foto: IST

Kegiatan tambang Vale Indonesia. Foto: IST

Menakar Potensi Vale Indonesia

Selasa, 25 Mei 2021 | 04:28 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Vale Indonesia Tbk (INCO) bakal menghadapi tren penurunan volume produksi, seiring perbaikan salah satu electric furnace (EF) menjelang akhir tahun ini. Hal itu mendorong sejumlah analis untuk merevisi turun proyeksi kinerja keuangan perseroan tahun ini. Meski demikian, ekspektasi tren kenaikan harga jual komoditas nikel diharapkan menjadi sentimen positif.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Stefanus Darmagiri mengungkapkan, pembangunan kembali salah satu EF dijadwalkan pada November.

Rencana itu sempat ditunda dari semula pada Mei 2021. Kegiatan tersebut berpotensi menjadikan volume produksi nikel Vale Indonesia turun menjadi 64 ribu ton dibandingkan perkiraan semula 70 ribu ton.

“Namun, kami berharap penurunan volume penjualan tersebut bisa terpenuhi dari tren kenaikan harga jual, sehingga pemangkasan volume produksi tidak berimbas terlalu dalam terhadap kinerja keuangan perseroan sepanjang tahun ini,” tulis dia dalam risetnya.

Harga Saham INCO satu dekade terakhir
Harga Saham INCO satu dekade terakhir

Stefanus merevisi turun target laba bersih Vale Indonesia dari US$ 152 juta menjadi US$ 134 juta. Estimasi pendapatan perseroan juga dipangkas dari US$ 983 juta menjadi US$ 899 juta pada 2021.

Begitu juga dengan perkiraan penjualan nikel dalam matte diturunkan dari 70 ribu ton menjadi 64 ribu ton. Sedangkan proyeksi ratarata harga jual dipertahankan US$ 14.040 per ton sepanjang tahun ini.

Revisi turun target kinerja keuangan Vale Indonesia juga dilakukan oleh tim riset Samuel Sekuritas Indonesia.Analis Samuel Sekuritas Dessy Lapagu mengungkapkan, pembangunan furnace IV yang dimulai tahun ini diperkirakan menurunkan volume produksi.

Perbaikan tersebut diharapkan kembali tuntas akhir tahun ini, sehingga produktivitas perseroan diharapkan kembali pulih pada 2022.

Vale Indonesia. Foto: DEFRIZAL
Vale Indonesia. Foto: DEFRIZAL

“Pembangunan furnace IV yang ditargetkan mulai November tahun ini akan mengganggu aktivitas produksi perseroan. Hal ini mendorong manajemen perseroan memangkas turun target volume produksi dari 72 ribu ton menjadi 64 ribu ton tahun ini. Sedangkan kami memberikan proyeksi produksi perseroan hanya 63 ribu ton tahun ini atau turun 13% dari tahun lalu,” tulis Dessy dalam risetnya.

Seiring dengan perbaikan furnace IV, perseroan bakal menyerap belanja modal lebih besar tahun ini dengan perkiraan US$ 135 juta dibandingkan alokasi tahun lalu US$ 120 juta. Sebagian besar anggaran untuk membiayai pengembangan furnace IV, pengembangan infrastruktur tambang, serta peremajaan alat. Sumber pembiayaan capex berasal dari kas internal.

Kinerja keuangan Vale Indonesia
Kinerja keuangan Vale Indonesia

Mengenai rata-rata harga jual nikel, dia memperkirakan pada kisaran US$ 17.300-18.500 pada 2021-2022. Harga tersebut lebih baik dibandingkan saat ini yang mencapai US$ 16.963 per ton.

“Masih tingginya sentiment positif dari baterai mobil listrik menjadi pendorong optimisme investor terhadap industri nikel dalam jangka panjang,” jelasnya.

Meski harga jual lebih baik tahun ini, Dessy tetap merevisi turun target laba bersih Vale Indonesia menjadi US$ 95 juta tahun ini dibandingkan perkiraan semula US$ 110 juta. Pemangkasan target tersebut sejalan dengan penurunan target pendapatan perseroan tahun 2021 dari US$ 870 juta menjadi US$ 868 juta.

Revisi turun tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk memangkas target harga saham INCO dari Rp 6.730 menjadi Rp 6.400. Saat ini, harga INCO masih berada di level rata-rata PE dalam lima tahun terakhir.

Prospek INCO
Prospek INCO

Sementara itu, Vale Indonesia akan membagikan dividen sebesar US$ 33,1 juta atau setara dengan US$ 0,00333 per saham. Dividen ini diambil dari keuntungan perseroan sepanjang tahun lalu yang mencapai US$ 82,81 juta.

Chief Financial Officer (CFO) Vale Indonesia Bernardus Irmanto mengatakan,pembagian dividen tersebut telah mempertimbangkan jumlah kas yang tersedia untuk membiayai modal kerja, pembayaran pinjaman, serta bunganya. Keputusan dividen ini telah disetujui Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) tanggal 27 April 2021.

“Pembayaran dividen ini akan dilakukan perseroan pada 28 Mei 2021,” jelasnya dalam keterangan resmi.

Tahun ini, Vale Indonesia mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/capex) US$ 130 juta. Anggaran tersebut akan digunakan untuk pembangunan kembali furnace IV dan peremajaan alat berat tambang serta pengembangan tambang.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN