Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum). Foto: Laporan tahunan.

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (Lonsum). Foto: Laporan tahunan.

Merevisi Naik Target Laba Lonsum

Sabtu, 9 Januari 2021 | 05:03 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Berlanjutnya kenaikan harga jual minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) bakal melambungkan laba bersih PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) atau Lonsum pada 2020 hingga melampaui perkiraan semula. Hal ini mendorong sejumlah analis untuk merevisi naik target laba bersih Lonsum tahun 2020-2021.

Analis Sinarmas Sekuritas Andrianto Saputra menaikkan target laba bersih Lonsum tahun 2020 dari Rp 332 miliar menjadi Rp 457 miliar. Peningkatan target laba bersih sejalan dengan revisi naik target margin keuntungan bersih perseroan dari 9,1% menjadi 13,1%. Namun, proyeksi pendapatan direvisi turun dari Rp 3,66 triliun menjadi Rp 3,49 triliun.

Tahun ini, target laba bersih Lonsum juga direvisi naik dari Rp 432 miliar menjadi Rp 652 miliar. Hal ini sejalan dengan revisi naik target margin keuntungan bersih dari 11% menjadi 16,5%. Perkiraan pendapatan perseroan pun direvisi naik tipis dari Rp 3,93 triliun menjadi Rp 3,94 triliun.

Lonjakan laba bersih Lonsum seiring tren kenaikan harga CPO telah terlihat sejak laporan keuangan hingga kuartal III-2020. Laba bersih perseroan melesat 427,4% menjadi Rp 277 miliar. Lonjakan laba tersebut melampaui perkiraan Sinarmas Sekuritas.

“Kami juga memprediksi berlanjutnya kenaikan permintaan CPO, seiring dengan keinginan Tiongkok untuk meningkatkan volume pembelian CPO guna menggantikan minyak kedelai. Peningkatan permintaan juga sejalan dengan implementasi B30 di Indonesia,” tulis Andrianto dalam risetnya.

Sementara, kenaikan harga CPO juga bakal dipengaruhi oleh penurunan suplai CPO global akibat sejumlah faktor, seperti kekurangan tenaga kerja di perkebunan kelapa sawit Malaysia, penerapan SOP baru industri sawit di Sabah (Malaysia), dan perkiraan hujan lebat selama La Nina yang bisa memangkas produksi sawit.

Sebab itu, Andrianto merevisi naik harga CPO tahun 2020 dari 2.300 ringgit Malaysia per ton menjadi 2.700 ringgit Malaysia per ton. Begitu juga dengan perkiraan harga CPO tahun 2021 direvisi naik dari 2.450 ringgit Malaysia per ton menjadi 3.050 ringgit Malaysia per ton.

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk merevisi naik target harga saham LSIP menjadi Rp 1.470 dengan rekomendasi beli. Target harga tersebut juga merefleksikan valuasi sekitar EV/hektare sebesar US$ 5.000.

Lonsum tercatat mengusai total area tertanam 115.236 ha per Juni 2020, dimana sebanyak 82% merupakan lahan tertanam kelapa sawit. Rinciannya, 85.629 ha merupakan lahan yang menghasilkan, sedangkan 9.416 ha belum menghasilkan. Perseroan memiliki tanaman kelapa sawit muda dengan umur di bawah 7 tahun seluas 11 ha untuk mendukung pertumbuhan di masa depan.

Pada tanaman lain seperti karet, kakao dan teh, Lonsum menguasai lahan tertanam inti seluas 20.191 ha. Untuk operasional, perseroan didukung oleh 12 pabrik kelapa sawit berkapasitas 2,6 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun. Fasilitas produksi lainnya adalah 1 pabrik kakao, 1 pabrik teh, serta 4 lini karet remah dan 3 lini karet lembaran.

Sepanjang 2020, menurut Presiden Direktur Lonsum Benny Tjoeng, perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 500 miliar. Dana capex dialokasikan untuk perawatan dan peremajaan tanaman yang belum menghasilkan, serta pembangunan infrastruktur pendukung.

Sebagian capex juga ditujukan untuk ekspansi pabrik sawit baru di Kalimantan Timur.

Menurut Benny, sejauh ini, perseroan fokus pada bisnis yang sudah ada atau belum berniat masuk ke biodiesel.

“Untuk biodiesel belum kami putuskan, tentunya kami bicarakan dengan internal dulu,” ujar dia.

Prospek CPO

Di lain pihak, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, produksi CPO Malaysia diperkirakan meningkat 3% menjadi 17,5 juta ton pada 2021 dan bisa tumbuh 5% menjadi 18,4 juta ton pada 2022. Target volume produksi tersebut telah memfaktorkan La Nina hingga awal tahun 2021.

Menurut dia, peningkatan produksi tersebut akan berdampak pada perkiraan pertumbuhan volume ekspor CPO Malaysia menjadi 18,3 juta ton pada 2021 dan sebanyak 19,4 juta ton pada 2022, dibandingkan dengan perkiraan ekspor CPO Malaysia tahun 2020 sebanyak 17,4 juta ton.

Hal ini bisa menjadi risiko baru terkait harga jual produk komoditas tersebut pada 2021.

Adapun impor CPO India diperkirakan meningkat sekitar 8% menjadi 6,2 juta ton pada 2021 dan diharapkan kembali naik sekitar 7% menjadi 6,7 juta ton pada 2022.

Sementara itu, permintaan impor CPO Tiongkok diperkirakan naik 7% menjadi 6,9 juta ton pada 2021 dan tahun 2022 diprediksi meningkat5% menjadi 7,2 juta ton.

“Peningkatan permintaan ini diharapkan bisa mengimbangi kenaikan ekspor CPO Malaysia, sehingga berdampak pada kestabilan harga jual,” tulis Andy dalam risetnya.

Di dalam negeri, kondisinya berbeda. Volume produksi CPO Indonesia diperkirakan turun menjadi 42 juta ton pada 2021 dari perkiraan semula 43 juta ton. Volume produksi tahun 2022 diperkirakan naik tipis menjadi 42,5 juta ton.

“Peningkatan volume produksi tahun 2022 tersebut memang bisa menaikkan risiko terhadap harga jual CPO dalam jangka pendek, apalagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia,” jelas dia.

Dari sisi permintaan CPO dalam negeri, Andy menyebutkan ada tiga tantangan utama. Pertama, Indonesia kembali menerapkan pungutan ekspor CPO untuk mendukung program biodiesel di dalam negeri.

Kedua, Indonesia kemungkinan menghentikan  sementara program biodiesel B40 tahun 2021 akibat kenaikan harga CPO. Ketiga, pemerintah kemungkinan menurunkan target campuran biodiesel dengan minyak bumi sebanyak 9,2 juta liter tahun 2021 dibandingkan target 2020 yang sebanyak 9,6 juta liter.

Tiga faktor tersebut akan berimbas terhadap permintaan CPO di dalam negeri sepanjang tahun 2021. Terlebih, harga minyak dunia rendah. Sebab itu, proyeksi harga CPO tahun 2021 direvisi naik menjadi 3.000 ringgit Malaysia per ton dan diperkirakan meningkat menjadi 3.200 ringgit Malaysia per ton pada 2022.

Peningkatan harga tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan peringkat overweight terhadap saham-saham CPO

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN