Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Perusahaan Gas Negara. Foto: IST

Perusahaan Gas Negara. Foto: IST

Momentum Akumulasi Saham PGN

Rabu, 16 September 2020 | 04:31 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGAS) atau PGN masih memiliki outlook yang baik dalam jangka panjang. Hal itu didukung oleh tingginya spread margin distribusi gas di atas US$ 2 per million metric british thermal unit (MMBTU) atau lebih tinggi dari perkiraan semula.

Sedangkan pendistribusian dan transmisi gas PGN juga diharapkan meningkat dalam jangka panjang, seiring dengan proyeksi perbaikan ekonomi nasional. Hal itu mendorong CGS-CIMB Sekuritas Indonesia dan Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham PGAS.

Dua sekuritas tersebut menilai, penurunan harga PGAS bisa menjadi kesempatan terbaik bagi para investor untuk mengakumulasi saham BUMN distribusi gas ini.

Analis CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Michael Audie Benas dan Aurelia Barus mengungkapkan, pengetatan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di Jakarta berpotensi menekan EBITDA dan laba bersih PGN.

foto dok. PGN
foto dok. PGN

Sedangkan persetujuan untuk menjual gas dengan harga pembelian yang lebih murah dari hulu tetap berpotensi menaikkan keuntungan perseroan.

“Karena itu, aksi jual saham PGAS dalam beberapa pekan terakhir bisa menjadi peluang bagi investor untuk meraup keuntungan. PGAS direkomendasikan add dengan target harga Rp 1.750. Target tersebut telah mempertimbangkan peluang ketersediaan vaksi corona sesuai dengan waktu yang ditargetkan,” tulis Michael dan Aurelia dalam risetnya, baru-baru ini.

Mereka memperkirakan penurunan pendapatan PGN menjadi US$ 2,78 miliar tahun ini dan diharapkan melonjak menjadi US$ 4,21 miliar pada 2021 dibandingkan pencapaian tahun 2019 senilai US$ 3,84 miliar.

Sedangkan tahun ini, perseroan diperkirakan mencetak rugi bersih hingga US$ 96 juta dan diharapkan meraup laba bersih US$ 153 juta pada 2021 dibandingkan pencapaian tahun lalu US$ 68 juta.

Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan telah menyatakan bahwa pengetatan PSBB mulai pekan ini. Berdasarkan scenario terburuk, kebijakan tersebut bisa menekan volume pendistribusian gas PGN menjadi 760 MMSCFD atau turun 20% dibandingkan periode sama tahun lalu.

Sedangkan transmisi gas diperkirakan turun 9% menjadi 1.241 MMSCFD tahun ini.

“Perkiraan tersebut didasari pendistribusian dan transmisi gas selama PSBB tahap satu diimplementasikan. Saat itu, lebih dari 40 daerah menerapkan PSBB. Proyeksi tersebut berpotensi menekan EBITDA dan berpotensi mengakibatkan rugi bersih PGN tahun ini,” jelas Michael dan Aurelia.

Meski demikian, mereka masih memberikan pandangan positif terhadap prospek PGN ke depan, sehingga saham PGAS direkomendasikan add dengan target harga Rp 1.750. Target harga tersebut mempertimbangkan sejumlah faktor, yaitu perseroan telah mengajukan permohonan kepada Kementerian ESDM untuk menjual alokasi harga gas ber- harga US$ 4-4,5 per MMBTU dari hulu menjadi US$ 8-9 per MMBTU kepada pelanggan.

Permohonan tersebut diajukan akib at permintaan gas pada harga US$ 6 per MMBTU dari pelanggan hilir sesuai dalam daftar di Kepmen ESDM 89.K/2020 masih di bawah suplai gas yang diperoleh perseroan. Permintaan yang masuk baru mencapai 70-75% dari total gas yang diperoleh dari hulu.

foto dok. PGN
foto dok. PGN

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Niko Margaronis mengungkapkan, PGN menunjukkan prospek pertumbuhan kinerja keuangan yang lebih baik mulai tahun depan.

Hal itu terutama didukung oleh margin keuntungan bisnis pendistribusian gas perseroan lebih tinggi dari perkiraan semula.

“Kami menyukai perseroan atas keberhasilannya mencetak margin keuntungan pendistribusian gas sebesar US$ 2 per MMBTU pada semester I-2020,” tulis dia dalam risetnya.

Ekspektasi pertumbuhan kinerja keuangan PGN ke depan, menurut Niko, juga bakal didukung oleh perkiraan perbaikan ekonomi Indonesia setelah sebagian besar daerah telah melonggarkan PSSB, meskipun Jakarta kembali memperketat PSBB.

Pada kuartal II-2020, perseroan mencatat penurunan volume pendistribusian gas sebanyak 738 BBTUD, sedangkan penjualan kepada pelanggan pada harga US$ 6 per MMBTU mencapai 646 BBTUD. Rata-rata harga jual gas perseroan mencapai US$ 7,3 per MMBTU pada kuartal II-2020 atau terkoreksi 6,9% dibandingkan kuartal I-2020.

Adapun bisnis hulu migas perseroan melalui Saka Energy diproyeksikan mulai membaik, sejalan dengan harapan terus membaiknya perekonomian dunia yang berdampak pada harga jual migas.

foto dok. PGN
foto dok. PGN

Sedangkan tingginya utang Saka Energy menjadi tantangan bagi perseroan. Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli PGAS dengan target harga Rp 1.450. Target tersebut telah mempertimbangkan usaha pemerintah untuk kembali menggerakkan ekonomi yang diharapkan berdampak pada penjualan PGN.

Niko memperkirakan peningkatan laba bersih PGN menjadi US$ 98 juta tahun ini dan bertumbuh menjadi US$ 130 juta pada 2021 dibandingkan realisasi 2019 yang sebesar US$ 68 juta.

Pendapatan perseroan diproyeksikan mencapai US$ 3,01 miliar pada 2020 dan meningkat menjadi US$ 3,09 miliar pada 2021.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan PGN Rachmat Hutama mengatakan, PGN akan memacu pengembangan infrastruktur dan menciptakan efisiensi biaya guna memperkuat kinerja keuangan pada semester II-2020. Efisiensi juga dilakukan dengan integrasi pipanisasi perseroan. Menurut dia, perseroan akan terus membangun dan memperluas infrastruktur gas bumi yang berkesinambungan.

Hal ini sejalan dengan upaya pemerintah untuk meningkatkan perekonomian nasional di berbagai sektor bisnis dan pemulihan ekonomi nasional.

“Salah satu inovasi untuk menjaga ketahanan pasokan dengan mengintegrasikan jaringan pipa transmisi South Sumatera West Java (SSWJ) ke jaringan pipa transmisi West Java Area (WJA) milik PT Pertagas. Integrasi ini akan meningkatkan kapasitas penyaluran gas dari Sumatera ke Jawa Barat sebesar 100-150 MMSCFD,” jelas Rachmat.

Dia menegaskan, PGN melalui Pertagas sedang melaksanakan pembangunan pipa minyak rokan sepanjang 367 km yang ditargetkan dapat mengangkut sekitar 265.000 barel minyak per hari dan dapat menekan biaya investasi US$ 150 juta atau sekitar Rp 2,1 triliun.

PGN juga sedang melakukan regasifikasi LNG ke 56 lokasi pembangkit listrik PLN untuk mendorong pemerataan akses listrik di berbagai wilayah, serta gasifikasi Kilang Pertamina di 5 lokasi untuk peningkatan nilai ekonomi dan efisiensi energy kilang Pertamina.

Proyek-proyek tersebut diharapkan optimal dalam efisiensi biaya proyek strategis pemerintah dan meningkatkan kemanfaatan dalam jangka panjang.

“Inisiasi dan sinergi antar Subholding Gas dan Holding Migas Pertamina untuk melaksanakan integrasi jaringan infrastruktur gas bumi dapat menjamin penyediaan pasokan gas, efisiensi, dan mempercepat ketahanan energi nasional,” ujarnya.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN