Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Mandiri. Foto: SP/RUTH SEMIONO

Bank Mandiri. Foto: SP/RUTH SEMIONO

Momentum Beli Saham Bank Mandiri

Kamis, 15 Oktober 2020 | 04:55 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Pertumbuhan pendapatan berbasis biaya dan komisi atau fee based income (FBI) dan kebijakan menaikkan cadangan provisi menjadi katalis positif terhadap kinerja PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).

Sedangkan keberhasilan perseroan melampaui target penyaluran dana pemulihan ekonomi nasional (PEN) dan merger bank syariah BUMN bisa mendorong kenaikan harga saham BMRI.

Analis OCBC Sekuritas Isfhan Helmy mengungkapkan, Bank Mandiri berkomitmen menaikkan cadangan provisi hingga lebih dari 200% sampai akhir tahun ini. Hingga akhir semester I-2020, rasio provisi perseroan telah mencapai lebih dari 196% dibandingkan periode sama tahun lalu sekitar 147%.

“Manajemen Bank Mandiri mengakui bahwa peningkatan provisi sebagai antisipasi peningkatan jumlah kredit yang direstrukturisasi. Hal ini diharapkan berdampak positif terhadap kualitas aset perseroan ke depan,” tulis Isfhan dalam risetnya, baru-baru ini.

Dia menegaskan, kebijakan tersebut tergolong pruden yang bisa memperkuat kualitas aset perseroan. “Peningkatan provisi dapat mencakup sekitar 56% dari total loan to asset ratio (LAR) perseroan. Kami menghitung, bank perlu mengeluarkan dana sebesar Rp 40 triliun untuk menciptakan provisi yang kuat hingga tahun depan,” jelasnya.

Nasabah Bank Mandiri memperlihatkan e-Money edisi Mandiri Festival Belanja Banten, di Tangerang Selatan, Rabu (14/10/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah Bank Mandiri memperlihatkan e-Money edisi Mandiri Festival Belanja Banten, di Tangerang Selatan, Rabu (14/10/2020). Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Di sisi lain, pada semester I-2020, Bank Mandiri berhasil membukukan peningkatan pendapatan sebesar 3%, meski pandemi Covid-19. Kenaikan tersebut didukung oleh pertumbuhan FBI sebesar 9%.

“Pertumbuhan simpanan yang tinggi menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia masih memiliki kemampuan untuk menabung di tengah pandemi dan penurunan daya beli,” ungkap Isfhan. Pertumbuhan tersebut menjadi bantalan atas pendapatan bunga perseroan yang cenderung stagnan.

Sebab itu, OCBC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BMRI. Target harga tersebut menggambarkan bahwa harga BMRI masih 18% lebih rendah dari posisi tertinggi tahun 2019. Hal ini bisa menjadi momentum yang baik untuk mengoleksi BMRI. Target harganya Rp 7.500.

Sementara itu, analis Binaartha Sekuritas Lingga Pratiwi mengungkapkan, Bank Mandiri juga menunjukkan penurunan penambahan pinjaman yang direstrukturisasi akibat pandemi Covid-19, sehingga total kredit yang direstrukturisasi kemungkinan hanya mencapai Rp 150-160 triliun hingga akhir 2020. Perseroan juga terus berupaya untuk menaikkan provisi seiring program restrukturisasi yang bisa berdampak pada peningkatan loan at risk coverage ratio menjadi 56%.

Lingga juga menyebutkan bahwa Bank Mandiri menunjukkan peningkatan dana pihak ketiga sebesar 15,8%, yang didukung oleh pertumbuhan CASA sebesar 23,2%, rekening simpanan 4,5%, dan deposito berjangka 23,9%. Hingga Agustus 2020, perseroan telah menurunkan bunga deposito sekitar 150-200 bps dan simpanan dalam mata uang rupiah sebesar 20 bps.

“Bank Mandiri memiliki kesempatan untuk menekan biaya pendanaan dengan kebijakan pemangkasan bunga pinjaman dan melonjaknya likuiditas sektor perbankan. Hal ini diharapkan berdampak positif terhadap margin keuntungan ke depan,” jelas dia dalam risetnya.

Bank Mandiri. Foto: Investor Daily/DAVID
Bank Mandiri. Foto: Investor Daily/DAVID

Binaartha Sekuritas mempertahankan rekomendasi hold saham BMRI dengan target harga Rp 7.090. Target tersebut merefleksikan perkiraan PBV tahun ini mencapai 1,2 kali. Sebelumnya, Bank Mandiri telah memenuhi komitmen dengan mempercepat penyaluran dana PEN hingga melampaui target pemerintah. Total penyaluran kredit PEN hingga 9 September 2020 mencapai Rp 34,7 triliun yang disalurkan kepada 90 ribu debitur.

“Kami berkomitmen untuk terus memacu penyaluran kredit tersebut agar menjangkau lebih banyak lagi masyarakat, dengan mengoptimalkan jaringan di berbagai wilayah Indonesia dan infrastruktur digital Bank Mandiri, sehingga dapat mendorong perekonomian nasional,” kata Wakil Direktur Utama & Plt Direktur Utama Bank Mandiri, Hery Gunardi.

Keseluruhan kredit tersebut disalurkan untuk kegiatan produktif. Jika dilihat dari segmen usaha debitur, penyaluran dana PEN ke pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) mencapai Rp 14,98 triliun kepada lebih dari 90 ribu debitur.

Dalam penyalurannya, Bank Mandiri tidak hanya menyasar debitur yang sudah ada, namun juga debitur baru. Bahkan, seluruh debitur penerima pembiayaan PEN untuk segmen KUR merupakan debitur baru.

Sementara itu, pemerintah melalui Kementerian BUMN menggabungkan tiga bank syariah BUMN, yaitu PT BRI Syariah Tbk (BRIS), PT Bank Syariah Mandiri, dan PT BNI Syariah. Merger ini menjadikan bank syariah terbesar di Indonesia. Hal itu juga diharapkan berdampak positif terhadap Bank Mandiri selaku induk usaha Bank Syariah Mandiri.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN