Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto: Investor Daily/DAVID GITA ROSA

Optimisme terhadap Kinerja Wika

Sabtu, 20 Februari 2021 | 04:36 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Kehadiran Lembaga Pengelola Investasi (LPI) atau Indonesia Investment Authority (IIF) menjadi katalis positif bagi PT Wijaya Karya Tbk (WIKA). Selain itu, pengembangan aspal alam bakal turut mendukung kinerja Wika.

Analis BRI Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, berdasarkan hasil pertemuan dengan manajemen Wika terungkap bahwa BUMN konstruksi itu memiliki sejumlah faktor positif yang dapat menopang kinerja keuangan ke depan.

Salah satunya, ekspansi bisnis aspal Buton melalui PT Wika Bitumen dengan target commissioning pabrik percontohan pada April tahun ini. “Perseroan sedang menyiapkan proyek percontohan produksi aspal alam. Jika produk ini berjalan lancar, Wika Bitumen akan mulai menjual aspal ekstrak tahun ini. Pabrik percontohan tersebut memiliki kapasitas 25-50 ton aspal alami per tahun,” tulis Maria dalam risetnya.

Apabila proyek percontohan ini berjalan lancar, dalam dua tahun mendatang, Wika Bitumen akan menaikkan kapasitas produksi menjadi 200-300 ribu ton per tahun atau merefleksikan 21% kebutuhan domestik dan ditargetkan meningkat menjadi 50% atau sekitar 700 ribu ton per tahun dalam jangka panjang.

Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto:  Investor Daily/DAVID
Salah satu proyek Wijaya Karya. Foto: Investor Daily/DAVID

Berdasarkan data, permintaan aspal di dalam negeri mencapai 1,4 juta ton per tahun dengan suplai terbanyak mencapai 40% berasal dari Pertamina dan sisanya sebanyak 60% diimpor. Jenis aspal yang dihasilkan Pertamina dan diimpor menggunakan residu bahan bakar minyak, berbeda dengan produk Wika Bitumen.

Perseroan juga membuka peluang ekspor produk aspal alam tersebut. Margin penjualan aspal ekstrak diperkirakan lebih tinggi dibandingkan aspal alam. Ekspansi bisnis ini diharapkan bisa berkontribusi minimal sekitar 10% terhadap total pendapatan perseroan dalam jangka panjang.

Selain ekspansi tersebut, menurut Maria, LPI akan mempercepat pembangunan infrastruktur di Indonesia, seperti jalan tol, pelabuhan, dan bandara. Hal ini bisa berdampak pada peningkatan kontrak baru Wika.

Berbagai faktor tersebut mendorong BRI Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham WIKA dengan target harga Rp 2.700. Target harga tersebut mempertimbangkan potensi peningkatan laba bersih Wika menjadi Rp 788 miliar tahun ini dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai Rp 146 miliar.

Begitu juga dengan pendapatan diharapkan melonjak menjadi Rp 23,61 triliun dari target 2020 yang senilai Rp 14,18 triliun.

Harga saham WIKA satu dekade terakhir, prospek WIKA, dan kinerja keuangan Wijaya Karya
Harga saham WIKA satu dekade terakhir, prospek WIKA, dan kinerja keuangan Wijaya Karya

Sementara itu, analis Samuel Sekuritas Indonesia Selvi Ocktaviani mengungkapkan, outlook Wika cenderung membaik sepanjang 2021 karena didukung oleh kehadiran LPI dan program vaksinasi dalam menghadapi pandemic Covid-19.

“Optimisme membaiknya perekonomian akan berdampak pada pertumbuhan kinerja keuangan Wika tahun ini. Perseroan juga mendapatkan dukungan dari neraca keuangan yang paling baik di sektornya,” tulis dia dalam risetnya.

Selvi juga memberikan pandangan positif terhadap realisasi kontrak baru Wika tahun 2020 senilai Rp 23 triliun. Raihan tersebut telah melampaui target yang senilai Rp 21,3 triliun. Kontrak tersebut membuat total order book perseroan menjadi Rp 100 triliun hingga akhir 2020.

Tahun ini, perseroan menargetkan kontrak baru Rp 40 triliun, jauh di atas proyeksi Samuel Sekuritas yang berkisar Rp 32-36 triliun. Menurut Selvi, neraca keuangan Wika tergolong paling baik di antara emiten sejenis. Perseroan juga dapat memenuhi kewajiban jangka pendek, tanpa mengajukan restrukturisasi.

Adapun perkiraan penurunan kinerja keuangan tahun lalu sudah sesuai perkiraan. Sebab itu, Samuel Sekuritas merekomendasi beli saham WIKA dengan target harga dinaikkan menjadi Rp 2.400. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan rasio PE tahun ini sekitar 22,6 kali.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan potensi peningkatan laba bersih Wika menjadi Rp 943 miliar tahun ini dibandingkan perkiraan tahun 2020 yang senilai Rp 210 miliar.

Begitu juga dengan pendapatan diharapkan bertumbuh menjadi Rp 22,44 triliun pada 2021 dibandingkan perkiraan tahun lalu senilai Rp 15,69 triliun.

wijaya karya
wijaya karya

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Wika Mahendra Vijaya mengatakan, perseroan mengalokasikan belanja modal (capital expenditure/ capex) sebesar Rp 3,05 triliun pada 2021.

Sementara itu, untuk memperkuat struktur permodalan, perseroan juga berniat menerbitkan obligasi dan sukuk sekitar Rp 3 triliun pada semester I tahun ini.

Dia mengatakan, perseroan akan menyalurkan capex 2021 untuk penyertaan investasi pada proyek entitas-entitas asosiasi yang sudah berjalan. Sepanjang tahun ini, perseroan lebih optimistis dengan mematok laba bersih sekitar Rp 1 triliun. Nilai tersebut dipastikan naik signifikan dari realisasi 2020.

Hingga saat ini perseroan masih melakukan audit untuk laporan keuangan tahun 2020. Sebagai gambaran, laba bersih perseroan hingga kuartal III-2020 sempat terkoreksi signifikan dibandingkan periode sama 2019 akibat perlambatan ekonomi karena pandemi Covid-19.

“Untuk kenaikan pertumbuhan laba bersih pada 2021, salah satunya akan ditopang oleh target perolehan kontrak baru 2021 yang diharapkan sekitar Rp 40,1 triliun,” jelas diakepada Investor Daily.

Target kontrak 2021 tersebut naik 74% dibandingkan realisasi 2020 yang sebesar Rp 23 triliun. Pencapaian tersebut membuat Wika berhasil melebihi target revisi nilai kontrak baru 2020 yang sebelumnya ditetapkan Rp 21,3 triliun

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN