Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Emas Antam. Foto: B1 photo/Joe

Emas Antam. Foto: B1 photo/Joe

Outlook Antam Cenderung Berkilau ke Depan

Parluhutan Situmorang, Rabu, 27 November 2019 | 13:24 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) atau Antam diproyeksikan mampu untuk meraih pertumbuhan kinerja keuangan dalam jangka panjang. Peluang tersebut didukung atas prospek (outlook) perusahaan pertambangan logam masih atraktif, seiring dengan ekspektasi tingginya permintaan nikel dan emas ke depan.

“Kami yakin bahwa pelarangan ekspor bijih nikel oleh pemerintah Indonesia akan berimbas terhadap kenaikan harga nikel gobal, karena berpotensi mengurangi suplai nikel global. Peningkatan juga didukung langkah Tiongkok menerapkan strategi balancing act dan program OBOR,” tulis analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Sedangkan perlambatan akivitas ekonomi Amerika Serikat (AS) akan berimplikasi negatif terhadap perkiraan harga jual emas global. Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi overweight saham emiten pertambangan nikel dan emas. Sedangkan saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menjadi pilihan paling utama.

Dia menyebutkan bahwa produksi baja tahan karat (stainless steel) Tiongkok mengalami lonjakan. Bahkan, produksinya diperkirakan lanjutkan pertumbuhan ke depan, seiring dengan penerapan program one belt one road (OBOR), yaitu program pembangunan infrastruktur darat, laut, dan udara secara besar-besaran untuk meningkatkan dan memperbaiki jalur perdagangan dan ekonomi antar negara di Asia dan sekitarnya yang digagas pemerintah Tiongkok.

“Memang perang dagang Tiongkok dengan Amerika Serikat (AS) bisa berimbas negatif terhadap ekspor stainless steel dalam jangka pendek. Namun dengan adanya program OBOR diharapkan mengonpensasi penurunan ekspor tersebut dalam jangka panjang,” tulis Andy.

Pertumbuhan permintaan nikel dalam jangka panjang, ungkap dia, juga bakal didukung atas lonjakan produksi kendaraan listrik. “Peningkatan permintan nikel dalam jangka panjang datang dari program OBOR Tiongkok dan kendaraan elektrik. Namun kami belum memiliki data pasti terkait kebutuhan baja nirkarat untuk program OBOR tersebut. Yang jelas pembangunan massal kereta api kan meningkatkan permintaan komoditas tersebut,” terangnya.

Mirae Asset Sekuritas memperkirakan permintaan nikel berpotensi naik menjadi 167 ribu ton untuk pengembangan mobil listrik. Angka tersebut mengasumsikan pangsa pasar kendaraan listrik global mencapai 6%.

Sedangkan apabila pangsa pasar mobil listrik mencapai 10%, permintaan nikel global akan melonjak menjadi 400 ribu ton. Hal ini mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi naik target haga jual komoditas nikel menjadi US$ 16.500 per ton pada 2020 dan diproyeksikan kembali meningkat menjadi US$ 17.000 per ton pada 2021. Sedangkan proyeksi harga jual emas juga direvisi naik menjadi US$ 1.500 per troy pada 2020 dan diharapkan kembali naik menjadi US$ 1.550 per troy pada 2021.

“Penguatan prospek komoditas nikel dan emas mendorong kami untuk mempertahankan overweight saham perusahaan pertambangan logam. Sedangkan saham ANTM menjadi pilihan teratas di setkor ini, karena perusahaan tersebut memproduksi emas dan nikel,” terang Andy.

Revisi Naik

Prospek membaiknya permintaan logam, nikel dan emas, mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi naik target kinerja keuangan Antam periode 2020 dan 2021. Perkiraan laba bersih perseroan direvisi naik dari Rp 1,18 triliun menjadi Rp 1,61 triliun pada 2020. Begitu juga dengan proyeksi laba bersih Antam tahun 2021 direvisi naik dari Rp 1,3 triliun menjadi Rp 1,91 triliun.

Pihaknya juga merevisi naik target pendapatan Antam tahun 2020 dari Rp 27,37 triliun menjadi Rp 27,65 triliun. Sedangkan target pendapatan perseroan tahun 2021 direvisi naik dari Rp 31,10 triliun menjadi Rp 32,51 triliun. Revisi naik tersebut sejalan dengan peningkatan perkiraan harga jual nikel dari proyeksi semula US$ 14.000 menjadi US$ 16.500 per ton tahun 2020.

Proyeksi harga jual nikel tahun 2021 direvisi naik dari US$ 14.500 menjadi US$ 17.000 per ton.

Sedangkan laba bersih perseroan tahun ini diperkirakan naik menjadi Rp 903 miliar, dibandingkan perolehan tahun lalu Rp 874 miliar. Pendapatan juga diperkirakan tumbuh menjadi menjadi Rp 26,43 triliun pada 2019, dibandingkan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 25,24 triliun.

Andy mengatakan, produksi emas dan nikel akan menjadi keunggulan Antam dalam mendongkrak kinerja keuangan ke depan. Perseroan juga diketahui memiliki cadangan nikel berlimpah yang bisa dioptimalkan untuk mendongkrak kinerja keuangan ke depan. Tahun lalu, cadangan bijih nikel Antam diperkirakan mencapai 438 juta metrik ton.

Sedangkan produksi komoditas emas diperkirakan menjadi penopang utama pertumbuhan kinerja keuangan perseroan dalam jangka pendek hingga menengah. Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi naik target harga saham ANTM dari Rp 1.115 menjadi Rp 1.365 per saham dengan rekomendasi beli.

Hingga kuartal III-2019, Antam membukukan kenaikan penjualan bersih sebesar 23% menjadi Rp 24,35 triliun, dibandingkan periode sama tahun sebelumnya Rp 19,95 triliun.

Meskipun demikian, laba bersih justru turun 11% dari Rp 631,13 miliar menjadi Rp 561,19 miliar. Penurunan laba bersih akibat naiknya beban pokok perusahaan sebesar 29,87% menjadi Rp 20,8 triliun.

Manajemen Antam sebelumnya juga menyebutkan bahwa pembentukan perusahaan patungan (joint venture/ JV) dengan salah satu produsen nikel terbesar asal Tiongkok, Shandong Xinhai Technology Co. Ltd, terwujud sebelum tutup tahun ini. Aksi ini merupakan bagian dari rencana ekspansi pabrik dan produk hilirisasi perseroan.

Direktur Utama Antam Arie Prabowo Arietedjo mengatakan, saat ini, perseroan tengah melakukan finalisasi dengan Shandong. Perseroan berharap menjadi pemegang mayoritas saham atau 51% pada JV tersebut.

Selanjutnya, perseroan akan menentukan skema pendanaan untuk pembangunan pabrik feronikel yang diperkirakan menelan investasi sekitar US$ 1,2 miliar.

Antam juga akan membentuk perusahaan patungan dengan PT Bukit Asam Tbk (PTBA) sebelum tutup tahun ini. Selanjutnya, JV ini akan mencari pendanaan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) 2x45 megawatt (MW) untuk pabrik feronikel Antam di Halmahera Timur, Maluku Utara.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA