Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Semen Indonesia. Foto: IST

Semen Indonesia. Foto: IST

Over Supply Masih Menjadi Tantangan Semen Indonesia

Parluhutan Situmorang, Kamis, 10 Oktober 2019 | 07:42 WIB

JAKARTA, investor.id -  PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) diproyeksikan masih menghadapi tantangan sulit hingga tahun depan. Tantangan berasal dari berlanjutkan kelebihan pasokan (over supply) produksi semen lokal bersamaan dengan rendahnya tingkat kenaikan permintaan.

Analis Samuel Sekuritas Yosua Zisokhi mengatakan, potensi over supply semen dalam negeri tahun depan kemungkinan hampir sama dengan posisi tahun ini. “Kelebihan pasokan akan membuat volume penjualan perseroan cenderung stagnan hingga tahun 2020,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Kondisi ini mendorong Samuel Sekuritas untuk menargetkan kenaikan tipis laba bersih Semen Indonesia menjadi Rp 2,96 triliun tahun 2020 dan diperkirakan mencapai Rp 2,74 triliun tahun ini. Bahkan perkiraan laba bersih perseroan tahun 2020 diproyeksikan belum mampu untuk menyaingi posisi laba bersih tahun 2018 senilai Rp 3,28 triliun.

Sedangkan pendapatan diproyeksikan meningkat menjadi Rp 38,90 triliun pada 2019 dan menjadi sekitar Rp 41,60 triliun pada 2020, dibandingkan realisasi tahun 2018 senilai Rp 30,68 triliun. Peningkatan pendapatan didukung atas masuknya PT Solusi Bangun Indonesia Tbk (SMCB) dalam perseroan.

Hingga Agustus 2019, perseroan membukukan kenaikan volume penjualan semen naik 21,5% menjadi 25,2 juta ton. Lonjakan tersebut ditopang atas akuisisi Solusi Bangun. Jika tanpa akusisi tersebut, volume penjualan semen perseroan justru turun 6,1% begitu juga dengan semen Solusi Bangun turun sekitar 2,74%, dibandingkan Januari-Agustus 2018.

Penurunan penjualan semen dipengaruhi atas pelemahan permintaan di pasar domestik yang terlihat dari data penurunan permintaan semen domestik sebesar 2,3%, dibandingkan dengan penurunan penjualan semen perseroan mencapai 5,7%. Hal ini menggambarkan penurunan penjualan semen perseroan lebih dalam, dibandingkan pelemahan penjualan semen nasional.

Meski demikian, dia mengatakan, perseroan tetap menempati urutan teratas untuk pangsa pasar (market share) mencapai 53%. Dominasi perseroan dalam industri semen nasional bisa menjadi sentimen positif ke depan. “Namun demikian kinerja keuangan perseroan diproyeksikan tetap sulit bertumbuh, karena peningkatan beban yang belum mampu diimbangi dengan kenaikan rata-rata harga jual,” terangnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Samuel Sekuritas untuk merevisi turun rekomendasi saham SMGR menjadi hold dengan target harga saham SMGR dipangkas Rp 11.500.

Sebelumnya, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin mengatakan, perseroan telah melakukan langkah refinancing sebagian utang dengan tenor lebih panjang. Refinancing diharapkan menekan beban bunga yang harus dikeluarkan. Aksi tersebut diharapkan menjadi sentiment positif terhadap kinerja keuangan dan saham perseroan ke depan.

Semen Indonesia. Foto: dok. ID
Semen Indonesia. Foto: dok. ID

“Meski laba turun drastis akibat peningkatan beban bunga. Kami menyarankan pemodal untuk melihat perseroan dalam jangka panjang. Kami yakin bahwa prospek Semen Indonesia masih kuat dalam jangka panjang,” tulis Mimi dalam risetnya.

Menurut dia, prospek membaiknya fundamental perseroan ke depan dapat dilihat dari sejumlah aksi korporasi yang dilakukan untuk menekan beban bunga. “Kami yaki bahwa perseroan akan terus melanjutkan program refinancing dengan memperpanjang tenor utang guna menekan beban bunga. Hal ini akan berimbas positif terhadap raihan keuntungan ke depan,” jelas dia.

Manajemen Semen Indonesia dalam rilis sebelumnya menyebutkan, perseroan telah melakukan program refinancing untuk menekan beban bunga pinjaman. Sedangkan program integrasi, cost transformation, dan refinancing, diharapkan menaikkan kinerja keuangan Semen Indonesia ke depan.

Semen Indonesia sebelumnya telah mengantongi fasilitas pinjaman senilai Rp 9,35 triliun dari sejumlah bank dalam dan luar negeri. Kredit ini akan digunakan untuk pembiayaan kembali (refinancing) utang yang digunakan perseroan dalam mengakuisisi SBI. Pihak yang bertindak sebagai mandated lead arranger and bookrunner adalah PT Bank Negara Indonesai Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank BTPN Tbk (BTPN), PT Bank HSBC Indonesia, PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), Citibank N.A cabang Jakarta, dan MUFG Bank Ltd cabang Jakarta.

Semen Indonesia juga menggalang dana senilai Rp 4,07 triliun dari penawaran umum berkelanjutan (PUB) I tahap II pada Mei 2019. Dana dari penerbitan obligasi seluruhnya akan digunakan untuk melunasi sebagian utang jangka panjang perseroan akibat aksi akuisisi Solusi Bangun.

Sementara itu, SVP of SMO & Communication Semen Indonesia Ami Tantri sebelumnya menuturkan bahwa beralnjutnya oversuply semen mendorong perseroan untuk meningkatkan penjualan ekspor semen ke pasar Filipina dan Tiongkok. Langkah ini sebagai strategi untuk menanggulangi pasar semen di Asean yang kelebihan pasokan atau oversupply.

Dia mengatakan, perseroan akan mengarahkan produksi pabrik semen perseroan melalui Thang Long Cement Joint Stock Company (TLCC) di Vietnam untuk diekspor ke Vietnam ini ke pasar Filipina dan Tiongkok.

“Sekarang pasar masih kelebihan pasokan, sehingga kami belum berniat menaikkan kapasitas pabrik Thang Long. Justru produksi pabrik ini akan diekspor ke pasar Filipina dan Tiongkok,” jelas dia di Jakarta.

Ketika ditanya, apakah serbuan pemain semen dari Tiongkok yang menyebabkan adanya persaingan harga tidak sehat di pasar Asean, Ami enggan menyalahkan kelompokkelompok tertentu. Perusahan semen Tiongkok diperkirakan mulai masuk ke pasar Tanah Air pada periode 2014- 2015 lantaran potensi permintaan yang dinilai cukup besar.

“Soal predator pricing. Saya kira saat mereka masuk ke Indonesia, logis saja dengan produk yang sama tapi bisa menjual dengan lebih murah untuk menarik pasar,” jelas dia.

Pada kesempatan sama, Kepala Departemen Komunikasi Perusahaan Semen Indonesia Sigit Wahono mengatakan, alasan perseroan mengincar pasar Filipina adalah besarnya porsi impor semen Filipina kepada perusahaan di luar negara tersebut.

Sementara untuk pasar Tiongkok, lanjut Sigit, dinilai prospektif untuk produk semen setengah jadi. Di Tiongkok, mayoritas pabrik-pabrik di sana juga terbentur oleh isu lingkungan. Diperkirakan, banyak pabrik dimatikan lantaran usianya yang sudah tua. Perseroan sudah merambah pasar Tiongkok sejak satu hingga dua tahun belakangan.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA