Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu gerai Jaya Bersama Indo atau DUCK

Salah satu gerai Jaya Bersama Indo atau DUCK

Pengendalian Biaya Lambungkan Jaya Bersama Indo

Parluhutan Situmorang, Jumat, 11 Oktober 2019 | 07:48 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Jaya Bersama Indo Tbk (DUCK) diproyeksikan mampu untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan hingga beberapa tahun mendatang. Pertumbuhan didukung atas peningkatan penjualan bersamaan dengan terkendalinya kenaikan biaya produksi dan operasional.

Mirae Asset Sekuritas menargetkan kenaikan laba bersih pemilik restoran Duck King ini menjadi Rp 173 miliar tahun ini dan diproyeksikan kembali bertumbuh menjadi Rp 217 miliar pada 2020, dibandingkan perolehan tahun lalu senilai Rp 116 miliar. Penjualan juga diperkirakan tumbuh konsisten dari Rp 618 miliar pada 2018 menjadi Rp 806 miliar pada 2019 dan senilai Rp 1,08 triliun.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo mengatakan, ekspektasi tren pertumbuhan kinerja keuangan perseroan ke depan yang ditunjukkan realisasi data keungan Jaya Bersama sepanjang semester I-2019.

Berdasarkan data tersebut terungkap bahwa pertumbuhan didukung faktor, peningkatan volume penjualan, pengadaan bahan baku lebih baik, dan efisiensi biaya operasional.

Hingga semester I-2019, Jaya Bersama membukukan kenaikan laba bersih sebesar 44,3% menjadi Rp 93 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu sebesar Rp 64,21 miliar.

Sedangkan pendapatan bertumbuh hingga 52,3% menjadi Rp 403 miliar, dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 264,63 miliar. Sedangkan margin keuntungan kotor (gross profit margin) bertumbuh dari 74,2% menjadi 74,8% pada semester I-2019.

Dia menambahkan, kebijakan perseroan memusatkan pengadaan bahan baku membawa dampak positif terhadap pertumbuhan margin keuntungan kotor. Kebijakan tersebut berupa pemusatan pengadaan bahan baku utama restoran perseroan berasal dari perusahaan afiliasi, PT Sentra Kuliner Sejahtera. Kerja sama tersebut menciptakan mekanisme pengadaan lebih baik dan efisien yang berimbas terhadap tingkat keuntungan lebih baik ke depan.

Perseroan menyebutkan bahwa sebesar 30% biaya pokok penjualan (COGS) berasal dari pengadaan bahan baku utama dari Sentra Kuliner dan ditargetkan meningkat menjadi 35% ke depan. Hal ini berimbas positif terhadap pengendalian biaya pokok penjualan lebih baik. “Efisiensi selanjutnya didukung perluasan area restoran bagi pelanggan, bukannya ruang dapur,” ujarnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Selain itu, Mirae Asset Sekuritas memberikan pandangan positif terhadap keberhasilan manajemen perseroan dalam mengendalikan biaya operasional. Menurut dia, pengendalian ditunjukkan data pertumbuhan biaya operasional lebih rendah, dibandingkan pertumbuhan penjualan.

Perseroan mencatat kenaikan beban gaji sebesar 18% pada semester I-2019, biaya layanan sekitar 8%, dan biaya sewa toko hanya sekitar 27%, dibandingkan dengan peningkatan penjualan mencapai 52,3%.

“Kami memperkirakan pertum- buhan biaya operasional cenderung terkendali didukung atas kuatnya kontrol dari manajemen untuk semua restoran yang dikuasai perseroan. Hal ini tentu berimbas terhadap peningkatan margin keuntungan ke depan,” terangnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham DUCK dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 2.310. Peningkatan target harga jual merepresentasikan revisi naik perkiraan keuntungan perseroan.

Performa Solid

Handiman mengatakan, pertumbuhan kinerja keuangan Jaya Bersama Indo cenderung solid. Hal ini didasarkan kenaikan laba bersih sebesar 44,3% dan pertumbuhan pendapatan mencapai 52,3%. Gros profit margin juga naik menjadi 74,8%.

“Realisasi laba bersih perseroan sepanjang semester I-2019 sudah setara dengan 69,7% dari target yang kami tetapkan untuk tahun ini bagi perseroan dengan laba bersih Rp 173 miliar. Pertumbuhan tersebut sejalan dengan kenaikan penjualana perseroan,” ujarnya.

Mirae Asset Sekuritas menilai lonjakan kinerja keuangan tersebut ditopang tiga faktor, yaitu pertumbuhan bisnis melalui penambahan tiga outlet. Pertumbuhan juga didukung atas adanya acara besar seperti tahun baru China, bulan puasa, dan lebaran. Peningkatan penjualan tersebut juga didukung atas sadanya kerja sama dengan Telkomsel poin, yaitu dengan menukarkan poin Telkomsel untuk makan di restoran perseroan.

Sebelumnya, Direktur Jaya Bersama Indo Dewi Tio mengatakan, Jaya Bersama mulai gecar ekspansi luar negeri dengan target Vietnam dan Kamboja. Perseroan menganggarkan belanja modal (capital expenditure/ capex) sebesar Rp 160 miliar untuk mendukung aksi korporasi tersebut.

Tahun ini, perseroan berencana membuka 12 restoran baru. Dari 12 restoran tersebut, sebanyak 11 restoran akan dibuka di Jakarta, Cakung, Karawaci, Medan, Batam, Yogyakarta, Bali, Depok, dan daerah luar Jakarta lainnya. Sedangkan satu restoran di luar negeri.

"Kami melihat daerah di luar Jawa masih underserved, sehingga langkah membuka gerai baru ini bisa ikut mendorong pertumbuhan ekonomi di wilayah tersebut," katanya.

Sementara itu, untuk di luar negeri, perseroan akan membuka satu toko di kawasan Ho Chi Minh, Vietnam. Kemudian, pada tahun depan, perseroan baru melirik kawasan lain di luar negeri seperti Hanoi, Vietnam dan Yangon, Kamboja.

"Kami akan ekspansi terlebih dahulu ke negaranegara Indo China terlebih dahulu, baru setelah itu Singapura dan Malaysia. Setelah itu, baru Amerika dan Eropa karena sebetulnya lisensi merek Duck King sudah ada di 12 negara," papar dia.

Untuk membangun gerai baru tersebut, perseroan membutuhkan modal sekitar Rp 7-10 miliar. Hal itu disesuaikan dengan jenis cabang tersebut, apakah bangunan tersebut adalah bangunan sewa atau dibangun sendiri.

"Untuk di luar negeri memang satu kali lipat lebih mahal, dibandingkan cabang di Jakarta karena ada bahan yang impor, namun itu bisa dikompensasi karena biaya buruh yang lebih murah. Biayanya minimal Rp 10-15 miliar," ucap Dewi.

Sementara itu, Direktur Utama Jaya Bersama Limpa Itsin Bachtiar menambahkan, perseroan memilih negara di kawasan Indo China karena pasarnya yang jauh lebih berkembang dan menguntungkan. "Kalau di Singapura dan Malaysia sudah banyak kompetitor," kata dia.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA