Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Email

Password

×

Nama

Email

Password

Ulangi Password

×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang pegawai bank Tiongkok sedang menghitung uang kertas 100 yuan dan uang kertas dolar AS di sebuah loket bank yang terletak di provinsi Jiangsu timur, Tiongkok pada 6 Agustus 2019. China OUT / AFP / STR

Seorang pegawai bank Tiongkok sedang menghitung uang kertas 100 yuan dan uang kertas dolar AS di sebuah loket bank yang terletak di provinsi Jiangsu timur, Tiongkok pada 6 Agustus 2019. China OUT / AFP / STR

Perang Mata Uang, Bahana Sarankan Investor Lakukan Sikap Defensif

Mashud Toarik, Rabu, 7 Agustus 2019 | 16:46 WIB

Jakarta, investor.id – Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dengan Tiongkok kian memanas, kini bahkan berubah jadi perang mata uang, setelah nilai tukar yuan ‘dilemahkan’ secara drastis. Pemerintah AS kemudian menuding Tiongkok sebagai manipulator nilai tukar dan melaporkan masalah ini secara resmi ke Dana Moneter Internasional (IMF).

Eskalasi konflik kedua negara besar itu membuat Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), selama dua hari berturut-turut terkoreksi sebesar 2,59% dan 0,91% pada level 6119,47.

Begitu pun kurs tengah Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Rupiah melemah hampir 1% dari Rp 14.203 pada akhir pekan lalu, (2/8/2019) menjadi Rp 14.344 pada Selasa (6/8/2019) kemarin. Sementara, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun sempat naik ke level 7,7291.

Menyikapi kondisi makin buruknya hubungan dagang AS dan Tiongkok tersebut, Direktur Strategi Investasi dan Kepala Makro Ekonomi Bahana TCW Investment Management Budi Hikmat menyarankan agar para investor mengambil sikap defensif.

Budi menilai keputusan Tiongkok melemahkan mata uangnya sesungguhnya beralasan, mengingat surplus neraca berjalan mereka terus menipis. Tapi dia tidak menduga ditempuh secepat Senin lalu bersamaan dengan penundaan pembelian komoditas pertanian dari Amerika Serikat.

Aksi Tiongkok itu menurutnya nampak sekali sebagai balasan atas pernyataan Presiden Trump yang mengancam akan kembali mengenakan tarif impor mulai bulan September 2019.

Pelemahan drastis yuan dikuatirkan memicu perlombaan regional memperlemah mata uang dengan sengaja atau competitive devaluation. Aksi bank sentral Tiongkok itu menurutnya jelas mempersulit upaya Indonesia menurunkan defisit neraca perdagangan dengan Tiongkok yang terus memburuk sejak tahun 2012.

Selama tahun 2018 lalu defisit perdagangan dengan Tiongkok mencapai US$ 18,4 miliar atau melonjak 44,8% dibanding nilai selama tahun 2017.

“Risiko pelemahan dan peningkatan volatilitas nilai tukar rupiah menurunkan keleluasaan BI memangkas suku bunga untuk memacu pertumbuhan ekonomi lebih gegas namun tanpa memicu defisit neraca berjalan. Jadi sebaiknya investor menyikapi perkembangan saat ini secara defensif dengan berinvestasi pada aset-aset yang lebih aman dari volatilitas dan rendah risiko. Selain reksa dana pasar uang, SBN dapat menjadi pilihan sebab pokoknya aman, cuan nyaman dan likuiditas lancar,” ungkap Budi Hikmat dalam siaran pers kepada Majalah Investor pada Rabu (7/8/2019).

Sementara untuk yang  berinvestasi di pasar saham, Budi menyarankan agar investor lebih selektif memilih saham. Berbeda dengan siklus penurunan bunga sebelumnya, saat ini ada istilah TINA (there is no alternative).

Di masa lalu menurut Budi, penurunan suku bunga memacu pertumbuhan laba sektor properti dan otomotif. Namun saat ini kedua sektor tersebut menghadapi tantangan penurunan daya beli sejalan dengan pelemahan harga komoditas primer andalah ekspor Indonesia. Sebagai akibatnya investor melirik saham sektor perbankan kendati valuasi sudah mahal. Sebab sektor ini diyakini mendapat manfaat pelebaran margin keuntungan dengan penurunan bunga deposito sementara bunga kredit relatif tetap.

Budi juga mengatakan agar investor sebaiknya berhati-hati dengan saham berbasis komoditas dan energi seperti tambang dan CPO serta energi yang menyebabkan polusi lingkungan. Pelemahan yuan kurang sejalan dengan penguatan ekonomi domestik.

Pemerintah Tiongkok sendiri diyakini akan memilih energi yang lebih ramah lingkungan dengan memanfaatkan booming shale-gas di Amerika Serikat. Pilihan ini membawa konsekuensi menurunkan permintaan impor batu-bara dari Indonesia.

Perang dagang antara Tiongkok dan AS dalam jangka panjang akan mempengaruhi profil arus perdagangan dan investasi internasional. Selama tahun terjalan hingga bulan Mei 2019, data pemerintah Amerika Serikat menunjukkan Vietnam, Korea Selatan dan Taiwan sebagai pemenang. Trade surplus Vietnam ke AS mencapai US$ 21,6 miliar atau naik 42,6% dibandingkan kumulatif Mei 2018. Pada periode yang sama, trade surplus Tiongkok turun 10%, dengan posisi US$ 137 miliar. Sementara, trade surplus Indonesia turun 12,2% menjadi US$ 5,1 miliar.

“Indonesia memiliki banyak tantangan dalam upaya mengendalikan defisit neraca berjalan dan bersaing dengan negara tetangga, seperti Vietnam. Selain faktor infrastruktur, kepastian hukum dan insentif pajak, banyak keluhan investor asing terkait dengan kualitas dan produktivitas tenaga kerja Indonesia yang harus segera dibenahi. Investor nampaknya menanti susunan kabinet pemerintah yang baru yang diharapkan lebih efektif meningkatkan investasi asing masuk ke Indonesia,” tutur Budi

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN