Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank Mandiri. Foto: David

Bank Mandiri. Foto: David

Pertumbuhan Bank Mandiri Sesuai Harapan

Parluhutan Situmorang, Jumat, 31 Januari 2020 | 11:02 WIB

JAKARTA, investor.id -  Realisasi kinerja keuangan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) sepanjang tahun lalu sudah sesuai dengan ekspektasi sejumlah analis. Sedangkan pertumbuhan perseroan tahun ini diperkirakan tetap rendah dipicu masih ketatnya likuiditas dana dan ekspektasi kondisi perekonomian dalam negeri.

Bank Mandiri membukukan kenaikan laba bersih konsolidasi sebesar 9,87% menjadi Rp 27,48 triliun hingga akhir 2019, dibandingkan dengan perolehan tahun 2018 sebesar Rp 25,01 triliun. Pertumbuhan tersebut didukung dari pencapatan bunga bersih (net interest income/NII) dengan pertumbuhan 6,83% secara tahunan (year on year/yoy) menjadi Rp 61,25 triliun dan perbaikan kualitas kredit.

Perseroan mencatat bawah pertumbuhan laba bersih tahun 2019 lebih rendah dibandingkan dengan laba bersih konsolidasi tahun 2018 dengan kenaikan 21,2% (yoy). Perlambatan tersebut akibat penurunan pendapatan berbasis komisi (fee based income) sebesar 3,45% dari Rp 28,33 triliun menjadi Rp 27,35 triliun.

Perlambatan pertumbuhan juga dipicu atas penurunan margin bunga bersih (net interest margin/NIM) menjadi 5,56% tahun lalu, dibandingkan periode sama tahun 2018 mencapai 5,66%. Penurunan laba juga dipengaruhi atas ketatnya persaingan penyaluran kredit yang terlihat dari pertumbuhan kredit konsolidasi Bank Mandiri mencapai 10,65% tahun 2019 dan pembiayaan dari offshore mengalir deras kepada korporasi.

“Penurunan NIM Bank Mandiri sebesar 6 bps menjadi 5,46% sepanjang tahun lalu tergolong rendah. Hal ini mengindikasikan bahwa manajemen memiliki kemampuan mengelola aset dan liabilitis dengan baik di tengah agresifnya pemangkasan suku bunga Bank Indonesia,” ujar analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Danareksa Sekuritas juga memberikan pandangan positif atas keberhasilan manajemen Bank Mandiri dalam menerapkan manajemen risiko. Hal ini membantu perseroan untuk mendeteksi debitur bermasalah, sehingga kredit perseroan dapat dikelola dengan baik di tengah kondisi makro ekonomi dalam dan luar negeri yang masih dinamis. Di lain pihak, perseroan juga berhasil memangkas biaya kredit (credit cost) menjadi 143 bps tahun lalu, dibandingkan posisi tahun 2018 mencapai 200 bps.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan beli saham BMRI dengan target harga Rp 9.000. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PBV tahun 2020 sebesar 1,9 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 27,5 triliun tahun lalu.

Target harga tersebut mempertimbangkan perkiraan berlanjutnya kenaikan laba bersih Bank Mandiri menjadi Rp 28,81 triliun tahun ini dan PPOP diharapkan meningkat menjadi Rp 53,94 triliun. Target tersebut juga telah mempertimbangkan proyeksi perkiraan CoF perseroan tahun ini mencapai 3,1%.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Lee Young Jun mengatakan, realisasi laba bersih Bank Mandiri senilai Rp 27 triliun tahun 2019 tersebut setara dengan 100% dari target laba yang ditetapkan Mirae Asst Sekuritas Indonesia.

“Perolehan laba bersih tersebut setara dengan 100% dari target kami dan consensus analis. Namun biaya provisi perseroan lebih rendah dari perkiraan kami,” tulisnya dalam riset yang diterbitkan di Jakarta, belum lama ini.

Terkait kinerja operasional dan keuangan perseroan tahun 2020, Lee mengatakan, Bank Mandiri akan menghadapi pengetatan likuiditas dan peluang berlanjutnya penurunan NIM tahun ini. Begitu juga dengan pertumbuhan kredit diperkirakan hanya mencapai satu digit tahun ini, seiring dengan peningkatan risiko penyaluran kredit.

Mirae Asset Sekuritas juga menambahkan NIM perseroan diperkirakan lanjutkan penurunan dipengaruhi atas perkiraan adanya pemangkasan tingkat suku bunga Bank Indonesia tahun ini.

Di lain pihak, perseroan kesulitan untuk memangkas biaya dana terkendali ketatnya likuiditas. Lee menambahkan, Bank Mandiri kemungkinan memfokuskan optimalisasi dan efisiensi guna menopang pertumbuhan kinerja keuangan tahun ini. Sejumlah perkiraan tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan hold saham BMRI dengan target harga Rp 8.000.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan kenaikan laba bersih menjadi Rp 28,86 triliun tahun ini.

Sebelumnya, manajemen Bank Mandiri menyebutkan perseroan tengah mengkaji rencana penerbitan obligasi berdenominasi dolar (global bond) sebesar US$ 1,25 miliar secara bertahap dari plafon US$ 2 miliar dan telah dieksekusi US$ 750 juta pada tahun lalu. Nantinya, hasil dana tersebut akan digunakan untuk mendukug ekspansi perseroan tahun ini.

Rencana penerbitan global bond tersebut dilakukan pada semester kedua tahun ini. Meski demikian, perseroan juga masih akan melihat kondisi pasar tahun ini. Mandiri Sekuritas ditunjuk sebagai penjamin pelaksana emisi obligasi.

Direktur Treasury & International Bank Mandiri Darmawan Junaidi sebelumnya mengaku, penerbitan obligasi global tersebut merupakan kelanjutan dari Penawaran Umum Berkelanjutan (PUB) tahun 2019 dengan target emisi sebesar US$ 2 miliar.

"Dari PUB US$ 2 miliar, kita terbitkan US$ 500 juta dan kelebihan permintaan sampai US$ 750 juta, jadi masih ada sisa US$ 1,25 miliar," kata Darmawan.

Selain akan menerbitkan global bond pada semester II tahun ini, perseroan juga berencana akan emisi obligasi rupiah sekitar Rp 3 triliun hingga Rp 5 triliun pada semester pertama.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN

REKOMENDASI UNTUK ANDA