Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu kegiatan di pabrik Indofood. Foto: dok.

Salah satu kegiatan di pabrik Indofood. Foto: dok.

Plus Minus Akuisisi Pinehill oleh Indofood CBP

Parluhutan Situmorang, Kamis, 28 Mei 2020 | 05:06 WIB

JAKARTA, investor.id - Langkah PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) mengakuisisi seluruh saham Pinehill Company Limited (PCL) senilai US$ 2,99 miliar atau setara Rp 44,1 triliun bakal mendongkrak volume penjualan mi instan dalam jangka panjang. Aksi korporasi tersebut akan menjadikan perseroan sebagai produsen dan distributor mi instan terkemuka di dunia.

Meski demikian, sejumlah analis mengakui bahwa transaksi tersebut menimbulkan peningkatan risiko keuangan bagi perseroan, karena sebagian besar pendanaan akuisisi berasal dari pihak ketiga atau pinjaman.

Hal ini berpotensi mendongkrak beban bunga perseroan hingga di atas Rp 1 triliun setelah transaksi dituntaskan.

Analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, keputusan mengakuisisi seluruh saham Pinehill Company akan berimbas positif terhadap volume penjualan perseroan ke depan. Akuisisi tersebut akan memberikan tambahan volume penjualan mi instan perseroan sebanyak 7,6 miliar bungkus per tahun. Saat ini, volume penjualan mi instan perseroan di dalam negeri mencapai 14 miliar bungkus per tahun.

“Pinehill Company juga mencatatkan rata-rata pertumbuhan volume penjualan dalam dua tahun terakhir sebesar 10%. Selain itu, penjualan mi instan di wilayah pemasaran Pinehill Company masih tergolong rendah dibandingkan Indonesia yang sudah mencapai 60-70 bungkus per kapita per tahun,” tulis Natalia dalam risetnya, baru-baru ini.

Indofood. Foto: IST
Indofood. Foto: IST

Meski berdampak positif terhadap volume penjualan perseroan, aksi korporasi tersebut dapat berimplikasi negatif terhadap keuangan IndofoodCBP ke depan. Sebab, mayoritas pembiayaan akuisisi berasal dari pendanaan pihak ketiga.

“Hal ini tentu akan meningkatkan rasio utang perseroan tahun ini hingga 100% dibandingkan posisi kuartal I-2020. Tambahan tersebut akan menaikkan beban bunga perseroan menjadi Rp 1,2 triliun setiap tahun,” ungkap Natalia.

Pandangan senada diungkapkan oleh analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Mimi Halimin. Menurut dia, transaksi tersebut akan berimbas terhadap kenaikan utang Indofood CBP.

“Berdasarkan kalkulasi sederhana kami, transaksi tersebut bisa berimbas terhadap penurunan laba perseroan sekitar 10% hingga peningkatan sebesar 10%,” jelas Mimi dalam risetnya.

Dia menegaskan, transaksi akuisisi Pinehill Company mendorong Indofood CBP untuk menambah utang berkisar Rp 30,3 triliun, sehingga rasio utang terhadap ekuitas diperkirakan melonjak menjadi satu kali dibandingkan kuartal I-2020 yang hanya sebesar 0,1 kali.

“Hal ini tentu akan ditanggapi negatif investor, apalagi dengan kondisi ketidakpastian sekarang ini. Investor tentu lebih memilih berinvestasi pada perusahaan yang memiliki neraca keuangan yang kuat,” jelas Mimi.

Meski demikian, lanjut dia, akuisisi tersebut dapat meningkatkan posisi Indofood CBP di pasar global. Transaksi tersebut akan mendongkrak volume penjualan mi instan perseroan dalam jangka panjang. Perseroan diharapkan menjadi produsen dan distributor mi instan terkemuka di dunia.

Indofood CBP telah menandatangani perjanjian akuisisi Pinehill Company pada 22 Mei 2020. Perseroan mengambil alih seluruh saham yang dimiliki Pinehill Corpora Ltd dan Steele Lake Ltd pada Pinehill Company.

“Perseroan akan mengakuisisi 51% saham Pinehill Company dari Pinehill Corpora dan 49% saham dari Steele Lake,” ungkap Sekretaris Perusahaan Indofood CBP Sukses Makmur Gideon A Putro dalam keterangan resmi. Pinehill Corpora merupakan perusahaan terafiliasi karena 49% sahamnya dimiliki oleh Anthony Salim.

Indofood. Foto: DEFRIZAL
Indofood. Foto: DEFRIZAL

Sedangkan Steele Lake bukan perusahaan terafiliasi. Sementara itu, Pinehill Company adalah perusahaan investasi yang didirikan di British Virgin Island (BVI), yang memiliki saham pada sejumlah perusahaan di berbagai negara. Pinehill Company menguasai 59% saham Pinehill Arabia Food Ltd, perusahaan di Arab Saudi dengan kegiatan utama bidang industri manufaktur mi instan.

Pinehill Company juga menjadi pemegang 100% saham Platinum Stream Profits Ltd, yaituperusahaan yang bergerak di bidang investasi dengan penyertaan 48,99% saham pada Dufil Prima Foods Plc. Dufil Foods adalah perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur mi instan di Nigeria.

Pinehill Company juga menguasai 59% saham SalimWazaran Group Ltd, perusahaan investasi yang memiliki penyertaan langsung dan tidak langsung sebanyak 80% saham pada perusahaan yang memiliki kegiatan usaha manufaktur dan distribusi mi instan di Mesir, Kenya, Maroko, dan Serbia.

Selain itu, Pinehill Company menggenggam 59% saham Salim Wazaran Gida Sanayi Ve Yatirim Anonim Sirketi, yaitu perusahaan joint stock di Turki. Perusahaan tersebut menguasai 80% saham Adkoturk Gida Sanayi Ve Ticaret Limited Sirketi, perusahaan yang bergerak di bidang industri manufaktur mi instan di Turki.

Pinehill Company memiliki 12 fasilitas produksi mi instan dengan kapasitas produksi lebih dari 10 miliar bungkus mi instan yang berlokasi di delapan Negara dengan total populasi penduduk 550 juta orang.

Pinehill juga memiliki jaringan distribusi di 33 negara yang memiliki total populasi 885 juta orang.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN