Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kegiatan di pabrik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Foto: dok.

Kegiatan di pabrik PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk. Foto: dok.

Potensi Pertumbuhan Sido Muncul

Parluhutan Situmorang, Jumat, 6 Maret 2020 | 09:51 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Industri Jamu dan Farmasi Sido Muncul Tbk (SIDO) diproyeksikan melanjutkan pertumbuhan kinerja keuangan hingga beberapa tahun mendatang. Pertumbuhan tersebut bakal didukung oleh peningkatan volume penjualan, penguatan pasar ekspor, dan peluncuran produk baru.

Analis Danareksa Sekuritas Natalia Sutanto mengungkapkan, untuk tahun ini, pertumbuhan kinerja Sido Muncul bakal ditopang oleh sejumlah faktor, antara lain peningkatan kapasitas distribusi, produksi, dan penggunaan mayoritas bahan baku produksi dari dalam negeri.

“Kami yakin kinerja keuangan Sido Muncul melanjutkan pertumbuhan hingga beberapa tahun mendatang. Peluang pertumbuhan juga didukung oleh tren peningkatan kontribusi penjualan ekspor terhadap perseroan yang sejalan dengan peningkatan permintaan produk perseroan di dalam negeri,” tulis Natalia dalam risetnya, baru-baru ini.

Peningkatan kapasitas distribusi produk perseroan di dalam dan luar negeri, menurut dia, sejalan dengan kenaikan kapasitas pabrik. Sido Muncul menargetkan kontribusi penjualan ekspor berkisar 6-7% terhadap total pendapatan tahun ini dibandingkan realisasi tahun lalu berkisar 5%.

Kegiatan di pabrik Sido Muncul. Foto: dok ID
Kegiatan di pabrik Sido Muncul. Foto: dok ID

Pertumbuhan pasar ekspor dibuktikan atas diraihnya sertifikasi produk halal. Hal ini mendorong perseroan mulai ekspor produk ke Malaysia yang diharapkan mulai berkontribusi terhadap total penjualan mulai kuartal I tahun ini. Sedangkan penjualan produk perseroan di Filipina juga diharapkan bertumbuh setelah produk Tolak Angin mulai diiklankan di televisi komersial negara tersebut sejak Januari 2020. Iklan ini mendapatkan respons positif dari pasar yang diharapkan berimbas terhadap peningkatan volume penjualan.

Dari dalam negeri, menurut Natalia, Sido Muncul membidik pertumbuhan volume penjualan wholesale dan ritel mencapai 30% tahun ini. Target ini optimistis tercapai, apalagi setelah perseroan meningkatkan penetrasi pasar di kawasan timur Indonesia.

Berlanjutnya kenaikan kinerja keuangan juga didukung oleh peluncuran produk baru. Belum lama ini, Sido Muncul telah meluncurkan gel Tolak Angin, Tolak Linu, Vitamin E, dan VCO. Berbagai faktor tersebut diharapkan mendukung kenaikan kinerja keuangan perseroan tahun ini.

Danareksa Sekuritas memperkirakan kenaikan laba bersih Sido Muncul menjadi Rp 906,81 miliar tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu sebesar Rp 807,68 miliar. Perkiraan kenaikan laba bersih tersebut sejalan dengan proyeksi pertumbuhan pendapatan perseroan menjadi Rp 3,43 triliun tahun 2020 dibandingkan pencapaian tahun lalu mencapai Rp 3,06 triliun.

Divisi penjualan produk herbal diperkirakan masih menjadi penyumbang terbesar pendapatan dengan perkiraan 69% dari total target tahun ini, dibandingkan tahun lalu sekitar 67%. Sisanya bersumber dari penjualan divisi makanan dan minuman sebesar 28% dan lainnya berasal dari penjualan divisi farmasi.

Tren pertumbuhan kinerja keuangan tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham SIDO dengan target harga Rp 1.470. Target tersebut juga telah mempertimbangkan rasio dividen perseroan yang besara di atas 80%. Target tersebut juga menggambarkan minimnya ketergantungan impor bahan baku produk, karena hampir semua bahan baku bersumber dari dalam negeri.

Sementara itu, analis Sinarmas Sekuritas Paulina juga mengungkapkan, Sido Muncul diperkirakan mampu untuk mempertahankan pertumbuhan kinerja keuangan hingga tahun ini. Pertumbuhan didukung oleh perluasan fokus perseroan untuk meningkatkan ketersediaan produk di pasar domestik dan luar negeri.

“Pertumbuhan perseroan juga akan didukung oleh penambahan jumlah outlet hingga 30%, peningkatan insentif bagi tenaga pemasaran perseroan, dan strategi marketing lainnya,” ungkap Paulina dalam risetnya.

Meski demikian, dia menjelaskan, keinginan perseroan untuk memperbesar pangsa pasar luar negeri dengan target 6-7% terhadap total penjualan bisa berimbas terhadap kenaikan biaya iklan dan pemasaran.

Diperkirakan belanja iklan dan pemasaran perseroan bisa mencapai 12% dari total pendapatan perseroan. Pertumbuhan penjualan ekspor, menurut dia, bakal didukung oleh usaha perseroan untuk memperluas wilayah pemasaran produknya di Filipina, Malaysia, dan Nigeria. Perseroan juga akan berupaya untuk menambah jenis produk yang bakal dipasarkan di tiga negara tersebut. Selain faktor tersebut, peluncuran produk baru akan menopang pertumbuhan kinerja keuangan perseroan ke depan. Perseroan membidik penambahan variasi produk lagi jenis Tolak Angin dan Tolak Linu setelah sebelumnya menuntaskan peluncuran produk Susu Jahe.

“Perseroan kemungkinan meluncurkan beberapa produk dan variasi produk untuk menangkap kebutuhan pasar,” terangnya.

Berbagai faktor tersebut mendorong Sinarmas Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi add saham SIDO dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 1.400. Target harga tersebut mempertimbangkan berlanjutnya pertumbuhan kinerja keuangan sejalan dengan ekspansi bisnis.

Target harga tersebut juga menggambarkan perkiraan kenaikan laba bersih perseroan menjadi Rp 876 miliar tahun ini dibandingkan perolehan tahun lalu mencapai Rp 808 miliar.

Pendapatan juga diharapkan bertumbuh dari Rp 3,06 triliun menjadi Rp 3,33 triliun.

Tumbuh di Atas 10%

Sido Muncul. Foto: IST
Sido Muncul. Foto: IST

Sebelumnya, Dirut Sido Muncul David Hidayat mengatakan, perseroan membidik pertumbuhan pendapatan dan laba bersih masing-masing di atas 10% tahun ini. Target pertumbuhan tersebut didukung atas perkiraan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp 180 miliar.

Pertumbuhan tersebut, ungkapnya, bakal direalisasikan dengan strategi peningkatan ketersediaan produk Sido Muncul, baik di pasar domestik maupun ekspor. Hal itu dilakukan agar produk perseroan dapat menjangkau daerah pelosok, sehingga lebih dikenal masyarakat dalam modern trade dan general trade.

Perseroan juga berupaya meningkatkan utilisasi fasilitas pabrik Cairan Obat Dalam II (COD II) yang telah dioperasikan sejak awal tahun 2019.

“Saat ini, utilisasi pabrik Cairan Obat Dalam tersebut baru mencapai 50% dan sudah digabungkan dengan utilisasi produksi yang baru, pabrik tersebut memiliki kapasitas terpasang 100 juta sachets per tahun,” kata dia.

Perseroan juga gencar untuk memasuki pasar-pasar di kawasan Asia Tenggara seperti seperti Filipina, Vietnam, Kamboja, hingga negara tetangga yakni Malaysia. Perseroan juga siap ekspor ke Australia, Nigeria, dan Amerika.

Untuk pasar tersebut, pihaknya tidak mendistribusikan secara langsung, namun produk Sido Muncul bisa ditemukan di pasar Asia.

Mengenai kemungkinan produksi ke luar negeri, David mengatakan bukan hal yang mudah dilakukan karena bukan hanya pabrik yang dibutuhkan tetapi juga laboratorium.

“Lagi pula Sido Muncul bukanlah industri makanan atau minuman yang membutuhkan lokasi yang dekat sehingga masih mudah jika tetap diproduksi di Indonesia,” kata dia.

Selama 2019, perseroan mencatatkan kenaikan laba tahun berjalan sebesar 21,64% menjadi Rp 807,68 miliar dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 663,84 miliar. Laba per saham dasar yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp 54,3.

Kenaikan laba didorong oleh pertumbuhan penjualan sebesar 11% menjadi Rp 3,06 triliun dibandingkan sebelumnya sebesar Rp 2,76 triliun. Kontribusi pendapatan terbesar berasal dari penjualan segmen jamu herbal dan suplemen dengan kenaikan 11,95% dari Rp 1,84 triliun per Desember 2018 menjadi Rp 2,06 triliun di Desember 2019.

Penjualan perseroan juga dikontribusi penjualan dari segmen makanan dan minuman sebesar Rp 886,23 miliar atau naik 8,14% dari perolehan tahun 2018 sebesar Rp 819,50 miliar. Sedangkan penjualan produk farmasi membukukan nilai sebesar Rp 117,24 miliar, naik 17,04% dari sebelumnya sebesar Rp 100,17 miliar.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN