Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu fasilitas milik PT Widodo Makmur Unggas (WMU). Foto: Perseroan.

Salah satu fasilitas milik PT Widodo Makmur Unggas (WMU). Foto: Perseroan.

Program Culling Diperketat, Saham Sektor Unggas Dinilai Akan Bersinar

Selasa, 12 Januari 2021 | 13:22 WIB
Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

JAKARTA, investor.id – Kementerian Pertanian menerapkan program culling (pemusnahan) day of chicken (DOC) bagi perusahaan unggas. Program ini berlaku sejak  5 Januari hingga 3 Februari 2021. Pemerintah berharap program ini dapat menjadi solusi dalam menjaga harga daging ayam yang anjlok akibat kelebihan pasokan.

Adapun target program culling ini yaitu sebanyak 69,4 juta FS HE fertil umur 19 hari dan afkir PS berumur lebih dari 50 minggu sebanyak 2,3 juta ekor.

Analis PT Samuel Sekuritas Indonesia, Nashrullah Putra menilai, instruksi culling kali ini lebih ketat dari sebelumnya, karena pemerintah mengaplikasikan sistem penalty bagi perusahaan yang tidak mencapai target. Program ini diyakini membuat harga penjualan rata-rata (ASP) Rp 18.000 – Rp 20.000 dari broiler dan DOC akan semakin terwujud.

Sebagai catatan, Kementerian Pertanian memproyeksikan bahwa pada tahun ini potensi produksi DOC FS sebanyak 3,65 juta ekor. Hal tersebut memperhitungkan realisasi pemasukan GPS dengan rasio 5,34% di tahun 2018, 73,11% di tahun 2019, dan 21,55% pada tahun 2020.

Berdasarkan hitungan tersebut, menurutnya potensi tonase carcass menjadi 4,03 juta ton atau setara dengan 3,43 juta ekor. “Dengan proyeksi demand dari konsumsi ayam sebesar 12 kg/kapita/tahun (setara dengan 3,2 juta tonase carcass & 4,08 juta ekor DOC), potensi surplus dari supply/demand sebesar 24% di tahun 2021,” urainya dalam hasil riset yang diterbitkan belum lama ini.

Samuel menyampaikan, program culling 69,4 juta HE fertil merupakan proporsi yang tepat. Hal ini didasarkan pada perhitungan potensi produksi DOC FS pada bulan Januari sebesar 328,2 dan 348,2 juta ekor pada bulan Januari dan Februari 2021.

Pada saat yang sama potensi permintaan daging ayam sebesar 290 ribu ton (setara dengan sekitar 486 juta ekor). Maka pada 2 bulan ini potensi surplus mencapai 39,0%. “Dengan mengkalkulasi culling pada FS HE yang akan membatasi produksi DOC FS sebesar 64 juta ekor DOC FS, maka potensi surplus menjadi berkurang sebesar 25.7%,” ujarnya.

Potensi surplus ini dinilai ideal untuk dapat mempertahankan ASP dari broiler dan DOC untuk stabil. “Kami perkirakan culling selanjutnya dengan jumlah yang sama akan terjadi pada akhir Februari atau awal Maret 2021,” ujarnya.

Adapun terkait ketatnya program ini dikatakan terindikasi dari monitoring pemerintah dengan mengaplikasin cross monitoring agar tidak terjadi kecurangan, selain itu pemerintah  menerapkan sistem reward dan pinalti bagi perusahaan yang dapat memenuhi target dari program culling sebelumnya.

“CPIN dan JPFA mendapatkan reward berupa pengurangan 0,25% dari kewajiban culling dan MAIN juga mendapat pengurangan 0,5%,” ujarnya. Sementara itu, ada beberapa perusahaan yang harus mendapatkan pinalti berupa penambahan kewajiban dari culling di periode ini. Contohnya Super Unggas Jaya (non-listed) dan Wonokoyo Jaya Corp (non-listed) yang mendapatkan pinalti berupa penambahan 2% & 3% dari program sebelumnya.

“Dengan semakin diketatkannya pengawasan terhadap program culling, kami semakin yakin upaya ini dapat membantu menstabilkan harga broiler,” harapnya. Sebagai catatan, selama kuartal IV-2020, harga broiler terpantau stabil di kisaran Rp 18,000-20,000/kg sementara DOC Rp 6,000-7000 /ekor.

“Kami pertahankan rekomendasi Overweight pada sektor poultry dengan JPFA sebagai top picks. JPFA merupakan pemain dengan kontribusi peternakan komersil terbesar dan yang paling dituntungkan dari adanya program culling dibandingkan dengan pemain lain. Target Price (TP) saham ini kami patok Rp 1.800 per lembar. Saat ini JPFA diperdagangkan pada 9,2x P/E 21F. Valuasi berdasarkan rata-rata P/E 5 tahun di 11,1x,” pungkasnya.

 

Editor : Mashud Toarik (mashud_toarik@investor.co.id)

Sumber : Majalah Investor

BAGIKAN