Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BCA. Foto: DEFRIZAL

Bank BCA. Foto: DEFRIZAL

Prospek BCA Setelah Kinerjanya Sesuai Ekspektasi

Jumat, 31 Juli 2020 | 16:25 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Realisasi kinerja keuangan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) sepanjang semester I-2020 sesuai dengan ekspektasi kalangan analis, meskipun laba bersih perseroan terkoreksi sebesar 4%. Sedangkan kinerja keuangan perseroan semester II tahun ini diproyeksi mulai pulih sejalan dengan perkiraan peningkatan permintaan kredit segmen korporasi.

Bank Central Asia atau BCA membukukan peningkatan pendapatan bunga bersih menjadi Rp 27,24 triliun pada semester I-2020 dibandingkan periode sama tahun lalu Rp 24,5 triliun. Laba sebelum provisi juga meningkat dari Rp 18,59 triliun menjadi Rp 21,53 triliun.

Sedangkan provisi perseroan naik dari Rp 2,44 triliun menjadi Rp 6,54 triliun. Hal ini menyebabkan laba bersih perseroan turun dari Rp 12,88 triliun menjadi Rp 12,24 triliun. BCA mencatatkan pertumbuhan kredit sebesar 5,3% pada semester I-2020, gross NPL juga meningkat dari 1,4% menjadi 2,1%. CAR perseroan turun dari 24,2% menjadi 22,9%.

Begitu juga dengan LDR perseroan turun dari 83,9% menjadi 78,1%.

Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dan Presiden Komisaris BCA Djohan Emir Setijoso bersama jajaran direksi serta komisaris BCA di sela-sela pemaparan kinerja keuangan BCA Semester I 2020 melalui virtual press conference yang diadakan di Jakarta, Senin (27/7). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BCA
Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja dan Presiden Komisaris BCA Djohan Emir Setijoso bersama jajaran direksi serta komisaris BCA di sela-sela pemaparan kinerja keuangan BCA Semester I 2020 melalui virtual press conference yang diadakan di Jakarta, Senin (27/7). Foto: BeritaSatu Photo/Humas BCA

Analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri dalam risetnya mengungkapkan, penurunan laba bersih BCA dipengaruhi oleh pelemahan segmen konsumer akibat pandemi Covid-19 yang berimbas terhadap perlambatan ekonomi domestik dan luar negeri.

Perlambatan segmen konsumer terlihat dari penurunan kredit kendaraan bermotor (KKB) yang hanya mencapai Rp 200-300 per bulan selama Mei dan Juni dibandingkan bulan-bulan sebelumnya yang mencapai Rp 2,5-3 triliun per bulan.

Sedangkan jumlah kredit yang telah direstrukturisasi mencapai Rp 69,3 triliun hingga Juni 2020.

Sebanyak 47,9% kredit yang direstrukturisasi berasal dari segmen komesial dan usaha kecil menengah. Perseroan juga mencatat penurunan NIM menjadi 6%. Begitu juga dengan rasio NPL meningkat menjadi 2,1% sejalan dengan peningkatan biaya kredit mencapai 221 bps.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi hold saham BBCA dengan target harga Rp 33.000 per saham. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PBV perseroan tahun ini sekitar 18,3 kali dan ekspektasi penurunan kinerja keuangan tahun ini.

Karyawan Bank menghitung uang dolar Amerika Serikat saat penukaran mata uang tersebut di Bank BCA Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Kamis (19/3/2020).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
 Bank BCA Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia, di Jakarta.  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Danareksa Sekuritas memperkirakan penurunan laba bersih BCA menjadi Rp 21,52 triliun tahun ini dibandingkan tahun lalu mencapai Rp 28,56 triliun. PPOP perseroan juga diperkirakan turun dari Rp 40,88 triliun menjadi Rp 39,12 triliun.

Sedangkan EPS perseroan tahun ini diharapkan hanya mencapai Rp 872,8.

Sementara itu, analis Mirae Asset Sekuritas Lee Young Jun mengungkapkan, realisasi  kinerja keuangan BCA hingga Juni 2020 tersebut sudah sesuai dengan ekspektasi.

“Realisasi laba bersih tersebut setara dengan 22,5% dari target kami dan mencapai 25,1% dari konsensus analis atau melampaui perkiraan,” tulis Young Jun dalam risetnya.

Secara historis, dalam lima tahun terakhir, realisasi laba bersih kuartal II menyumbang sebesar 22,9-24,6% terhadap total laba bersih tahunan dibandingkan kuartal II-2020 yang hanya berkontontribusi sebanyak 22,5%. Namun, pencapaian tersebut tergolong baik dibandingkan perkiraan semula bahwa kuartal II tahun ini akan menjadi penurunan terbesar pada laba bersih.

Laporan keuangan BCA
Laporan keuangan BCA

Menurut  Young Jun, penurunan kinerja keuangan BCA pada kuartal II tahun ini dipengaruhi oleh pelemahan permintaan kredit, penurunan NIM, dan peningkatan biaya kredit selama kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

“Hal ini mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi trading buy saham BBCA dengan target harga Rp 34.370. Target harga tersebut telah mempertimbangkan penurunan laba bersih tahun ini, seiring dengan peningkatan biaya provisi,” jelas dia.

Terkait semester II-2020, pertumbuhan kredit BCA akan ditopang oleh permintaan kredit korporasi yang diperkirakan meningkat dibandingkan penyaluran kredit segmen consumer yang diperkirakan turun.

Sedangkan simpanan perseroan diperkirakan tetap bertumbuh. “Kami memperkirakan pertumbuhan kredit perseroan cenderung mendatar tahun ini dengan restrukturisasi kredit diproyeksikan mencapai 30% dari total kredit. Sebagian besar berasal dari kredit kendaraan bermotor,” ungkap dia.

Ekspektasi mulai pulihnya permintaan kredit korporasi mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan estimasi kinerja keuangan BCA sepanjang tahun ini. Kinerja keuangan tersebut juga didukung oleh mulai stabilnya bisnis, kuatnya jaringan kantor perseroan, dan adanya stimulus pemerintah.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN