Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BCA. Foto: DEFRIZAL

Bank BCA. Foto: DEFRIZAL

Saham BCA, Mandiri, dan BNI Jadi Pilihan Teratas

Jumat, 11 September 2020 | 04:31 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - Emiten sektor perbankan mulai menunjukkan perbaikan yang terlihat dari pertumbuhan laba bersih pada Juli 2020 dibandingkan bulan sebelumnya. Begitu juga dengan biaya kredit dan belanja operasional yang menunjukkan penurunan yang berdampak pada peningkatan margin bunga bersih (NIM) di hampir seluruh bank pada Juli 2020.

Analis CGS-CIMB Sekuritas Indonesia Ilham Firdaus dan Laurensius Teiseran mengungkapkan, total perolehan laba bersih perbankan nasional mencapai Rp 5,5 triliun pada Juli 2020, meningkat dibandingkan Juni 2020 senilai Rp 4,5 triliun. Angka tersebut menunjukkan pertumbuhan 23%. Peningkatan  laba bersih didukung oleh beberapa faktor positif di sektor perbankan nasional.

Satu dari beberapa aspek yang juga menunjukkan perbaikan secara bulanan adalah biaya kredit yang turun menjadi 2,6% pada Juli 2020 dibandingkan Juni 2020 yang mencapai 3,5% dan Mei 2020 sebesar 3,1%.

Begitu juga dengan NIM yang dalam tren positif setelah mencapai level terendah 4,6% pada April 2020, kemudian meningkat menjadi 5,1% pada Juli 2020 atau naik 0,6% dari bulan sebelumnya.

Tanda-tanda pemulihan juga ditunjukkan oleh pertumbuhan kredit bank nasional sebesar 3,5% pada Juli 2020 dan simpanan tumbuh 15% pada Juli 2020 dibandingkan bulan yang sama tahun lalu. Begitu juga dengan pendapatan bunga yang secara agregat naik 7,5%.

“Kami berpandangan bahwa sektor perbankan pada Juli 2020 terlihat positif,” tulis Ilham dan Laurensius dalam risetnya, baru-baru ini.

Mereka juga mengungkapkan bahwa likuiditas emiten bank secara umum masih stabil. Hal itu ditunjukkan olehdata LDR bank yang turun menjadi 87% pada Juli 2020 dibandingkan April 2020 sebesar 94%. Bahkan, simpanan empat bank besar menunjukkan peningkatan pada Julidengan peningkatan terbesar dicetak oleh PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI).

Begitu juga dengan CASA empat bank besar yang bertumbuh secara baik, seperti PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan BRI masing-masing 13%, 13%, dan 11%. Sedangkan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) hanya mencapai 7% pada Juli 2020.

Terkait asset yield, menurut Ilham dan Laurensius, masih menunjukkan kontraksi hingga Juli 2020. Rata-rata asset yield perbankan nasional mencapai 8,5% hingga Juli 2020, turun dibandingkan pencapaian periode sama tahun lalu 9,6%.

Sedangkan biaya dana atau cost of fund menunjukkan penurunan dari 3,7% menjadi 3,2%. Sedangkan NIM turun dari 6,1% menjadi 5,5%.

Adapun pendapatan bunga emiten sektor perbankan menunjukkan penurunan 2,1% hingga Juli 2020 dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 5,6%.

Sedangkan pendapatan non-bunga meningkat dari 12,6% menjadi 14,6%. Penurunan pendapatan bunga tersebut membuat total pendapatan hanya tumbuh 2,2% hingga Juli 2020 dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 7,4%.

Ilham dan Laurensius juga mengemukakan, rata-rata lonjakan provisi di sektor perbankan hingga Juli 2020 sebesar 73,3% dibandingkan periode sama tahun lalu dengan penurunan provisi 0,6%. Sedangkan pertumbuhan PPOP sektor perbankan nasional turun menjadi 1% hingga Juli 2020 dibandingkan periode sama tahun lalu mencapai 6,8%.

Hal ini membuat rata-rata laba bersih sektor perbankan nasional turun 26% hingga Juli 2020 dibandingkan periode sama tahun lalu dengan pertumbuhan mencapai 8,8%.

Mengenai performa emiten sektor perbankan dalam beberapa bulan mendatang, mereka menyebutkan bahwa restrukturisasi pinjaman telah menunjukkan arah positif dalam beberapa bulan terakhir yang diharapkan berdampak positif terhadap NIM dan biaya kredit.

Nasabah melakukan transaksi di anjungan tunai mandiri (ATM) Bank BNI di Tomang, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Nasabah melakukan transaksi di anjungan tunai mandiri (ATM) Bank BNI di Tomang, Jakarta. Foto ilustrasi: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Beberapa bank diperkirakan mampu untuk mempertahankan indicator pertumbuhan yang lebih baik ke depan. Sejumlah faktor tersebut mendorong CGS-CIMB Sekuritas Indonesia mempertahankan overweight saham perbankan.

Sedangkan saham BBCA, BMRI, dan BBNI menjadi pilihan teratas, karena didukung oleh catatan kinerja keuangan terbaik sepanjang Juli 2020. BBCA, BMRI, dan BBNI direkomendasikan add dengan target harga masingmasing Rp 37.900, Rp 7.100, dan Rp 6.300.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Eka Savitri mengungkapkan, emiten sektor perbankan masih menunjukkan dampak dari pandemic Covid-19 terhadap kinerja keuangan hingga Juli 2020.

Dampak tersebut terlihat dari peningkatan biaya kredit empat bank besar sebesar 77 basis poin menjadi 226 basis poin hingga Juli 2020.

Begitu juga dengan margin keuntungan bersih NIM empat bank besar yang masih turun sekitar 30 basis poin menjadi 5,1%. Sedangkan pendapatan bunga bersih naik tipis sekitar 1,9%. Hal ini membuat laba bersih empat bank besar turun sebesar 23,7% hingga Juli 2020.

Adapun sentimen positif terlihat dari peningkatan penyaluran kredit pada hampir seluruh bank besar pada Juli 2020.

Berdasarkan data, kredit bertumbuh 3,7% dengan pertumbuhankredit paling besar dicetak BNI sebesar 5,1% pada Juli 2020. Sedangkan BRI dengan peningkatan sebesar 2,1% pada Juli 2020 dibandingkan bulan yang sama tahun lalu.

Berdasarkan kinerja keuangan tersebut, Eka menyebut bahwa hampir semua emiten perbankan masih fokus pada likuiditas di tengah situasi ekonomi saat ini.

Sedangkan empat bank besar diharapkan diuntungkan dalam menjaga likuiditas karena didukung olehbesarnya jaringan ke seluruh wilayah Indonesia. Menurut Eka, simpanan empat bank besar bertumbuh 13,6% pada Juli 2020 dengan CASA mencapai 64%.

“Tingkat suku bunga Bank Indonesia rendah dan cost of fund perbankan turun 14 basis poin menjadi 2,6% hingga Juli 2020. Karena itu, kami memperkirakan NIM perbankan akan stabil sampai akhir tahun ini, karena terkelolanya cost of fund dengan baik,” tulis dia dalam risetnya.

Terkait kinerja keuangan emiten sektor bank pada kuartal III-2020, Eka menyatakan bahwa hal itu akan didukung oleh relaksasi kebijakan dari regulator. Sedangkan isu negatif terhadap sektor perbankan bakal cenderung mereda dalam beberapa bulan ke depan. Bahkan, kinerja keuangan emiten perbankan diperkirakan mulai bangkit pada kuartal III-2020, apabila kondisi ekonomi makro Indonesia bisa stabil.

Meski demikian, dia memperkirakan laba bersih empat bank besar turun 41,1% tahun ini. Target laba tersebut sejalan dengan perkiraan NIM yang turun menjadi 4,9%, pertumbuhan kredit dengan rata-rata hanya 3,1%, biaya kredit diperkirakan 263 basis poin, dan NPL kotor diproyeksikan mencapai 3,2% sampai akhir 2020.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi overweight sektor perbankan. Sedangkan saham BMRI menjadi pilihan teratas dengan rekomendasi beli dan target harga Rp 7.500.

Target tersebut menggambarkan struktur simpanan perseroan yang terdiversifikasi dengan baik dan valuasi sahamnya masih atraktif.

Bank Mandiri

Petugas bank melayani nasabah dengan salah satu aplikasi digital Bank Mandiri di sela-sela peresmian pengoperasian Kantor Cabang Pembantu (KCP) Menara Astra di Jakarta, Kamis (9/7/2020). Foto:  BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Petugas bank melayani nasabah dengan salah satu aplikasi digital Bank Mandiri di  Kantor Cabang Pembantu (KCP) Menara Astra di Jakarta.  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Sebelumnya, analis Trimegah Sekuritas Rifina Rahisadan Willinoy Sitorus mengungkapkan, Bank Mandiri diperkirakan mampu untuk menorehkan kinerja keuangan yang lebih baik tahun ini dibandingkan perkiraan semula. Hal ini didukung oleh sejumlah asumsi lebih baik dibandingkan proyeksi semula.

Sedangkan pertumbuhan kinerja keuangan perseroan tahun depan diperkirakan pulih total, sehingga realisasinya diharapkan menyamai bahkan melampaui realisasi tahun 2019. Sejumlah paket stimulus yang telah digelontorkan pemerintah berdampak terhadap percepatan pemulihan kinerja Bank Mandiri. Beberapa stimulus tersebut adalah penempatan dana pemerintah di bank umum, subsidi bunga untuk debitor tertentu, dan jaminan dari pemerintah.

“Dengan adanya paket stimulus pemerintah bersamaan dengan mulai menggeliatnya aktivitas ekonomi akan mendongkrak kembali ekspansi kredit Bank Mandiri dengan target pertumbuhan satu digit tahun ini,” tulis Rifina dan Willinoy dalam risetnya.

Selain faktor tersebut, Bank Mandiri menunjukkan tren penurunan nilai restrukturisasi kredit akibat Covid-19 dari masa puncaknya pertengahan Juni tahun ini. Dengan tren tersebut diperkirakan kredit yang direstrukturisasi mencapai 19% dari total kredit yang telah disalurkan prseroan atau jauh di bawah ekspektasi semula. Rifina dan Willinoy menilai bahwa sejumlah indicator keuangan perseroan menunjukkan angka lebih baik, yang terlihat dari realisasi hingga semester I-2020.

Di antaranya, biaya kredit perseroan kemungkinan lebih rendah dari perkiraan semula, jumlah kredit bermasalah juga diperkirakan lebih rendah dari proyeksi awal, dan pendapatan bunga bersih diperkirakan lebih baik dari proyeksi semula seiring dengan pertumbuhan kredit.

Sebab itu, Trimegah Sekuritas merevisi naik target laba bersih Bank Mandiri dari Rp 11,2 triliun menjadi Rp 16,78 triliun tahun ini. Ekspektasi pendapatan bunga bersih juga direvisi naik dari Rp 49,34 triliun menjadi Rp 54,03 triliun.

Sedangkan proyeksi NIM direvisi naik dari 4,4% menjadi 4,6% sepanjang tahun ini. Trimegah Sekuritas juga merevisi naik target harga saham BMRI dari Rp 6.100 menjadi Rp 6.900 dengan rekomendasi dipertahankan beli.

Target harga saham tersebut mempertimbangkan perkiraan PBV perseroan tahun 2021 sebesar 13% atau di bawah ratarata dalam lima tahun terakhir.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN