Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Seorang investor memantau pergerakan saham lewat smartphone. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Seorang investor memantau pergerakan saham lewat smartphone. Foto ilustrasi: Investor Daily/David Gita Roza

Saham Berbasis Digital "Unjuk Gigi", Simak Analisanya!

Senin, 19 April 2021 | 06:41 WIB
Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Investor.id – Ada yang berbeda dalam penguatan indeks harga saham gabungan (IHSG) sepekan ini. Rebound IHSG yang biasanya selalu dipimpin oleh saham perbankan kapitalisasi besar, kali ini cenderung ini diwarnai oleh kenaikan saham-saham new economy yang berbasis digital.

Saham-saham new economy, yaitu, perbankan digital, konglomerat, rumah sakit digital, jasa kurir digital, sampai-sampai ada udang dan ayam digital berhasil menarik investor. Pelaku pasar memburu saham-saham berbasis digital yang dinilai mempunyai prospek bagus dan akan menjadi pelaku bisnis masa depan.

Analisis dari Komunitas Investa menilai, era digitalisasi telah mengubah perspektif investor pasar modal Indonesia yang kini didominasi kaum milenial. "Saat ini, saham bagus tidak lagi harus saham 'bluechip' sektor keuangan dan konsumer. Saham bagus adalah saham yang mampu memberikan keuntungan," demikian dikusi Investa , Sabtu (17/4/2021).

Di tengah saham-saham bluchip sideways dan cenderung terkoreksi, saham-saham digital justru memiliki trens positif. Mayoritas saham-saham digital berhasil unjuk gigi, dan menunjukan bahwa emiten new economy bakal menjadi kekuatan baru ekonomi Indonesia.

Sejumlah saham berbasis digital kini mempunyai kapitalisasi pasar yang cukup besar. Beberapa nama baru masuk kedalam peta kapitalisasi saham terbesar IHSG, seperti EMTK dengan kapitalisasi Rp 155.44 triliun, ARTO (Rp 155.88 triliun), BANK (Rp 50 triliun).

Tidak ketinggalan, BFIN (Rp 12,45triliun), BINA (Rp 11,31 triliun), ASSA (Rp 7,68 triliun), ada SAME (Rp 6, triliun), PNBS (Rp 4,7 triliun).

Meskipun demikian, tidak sedikit cerita saham digital yang gagal menaikkan kapitalisasi pasarnya, seperti BNBA, BACA, BABP. Sehingga, di tengah maraknya perekmbangan saham digital, investor harus tetap berhati-hari.

Hampir tidak ada analisa fundamental yang dapat menjelaskan alasan kenaikan saham-saham digital ini. PER/PBV tidak lagi dapat menjelaskan. Hanya 'story' mengenai digitalisasi dan analisis teknikal, komparasi dengan perusahaan sejenis yang dapat menjadi pegangan investor atau trader

Peningkatkan saham berbasis digital ini perlu dicermati dengan sejumlah faktor yang layak dipertimbangkan:

1. Dari struktur saat ini, tampaknya di waktu mendatang IHSG tidak lagi dimotori industri keuangan dan konsumer. Sektor digital patut untuk dipertimbangkan. Pengaruhnya menjadi semakin besar terhadap IHSG, terutama pada saat GoTo (Gojek dan Tokopedia) melantak di bursa nanti yang diperkirakan memiliki valuasi sekitar US$18 milyar (Rp 261 triliun).

2. Jangan meremehkan kemampuan kekuatan investor-investor millenial baru. Mereka saat ini jauh lebih aktif mencari informasi. Mereka aktif memantau 'kode' dari para influencer di berbagai media sosial, seperti instrgram, clubhouse, telegram serta sumber informasi lainnya.

Dengan situasi dan struktur pasar saat ini, 'herd behavior' investor-investor pemula dapat menjadi kekuatan baru yang mewarnai IHSG. Penting bagi kita sebagai investor untuk dapat beradaptasi dengan struktur pasar baru dan mampu membaca tren digital yang sedang berlangsung saat ini.

Editor : Listyorini (listyorini205@gmail.com)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN