Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Panen Sawit. Foto: dok. Investor Daily

Panen Sawit. Foto: dok. Investor Daily

Sampoerna Agro, Pemilik Cadangan Lahan Sawit Terbesar

Kamis, 14 Januari 2021 | 06:11 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO) adalah perusahaan perkebunan kelapa sawit dan produsen minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) yang masih memiliki cadangan lahan terbesar. Hal ini menjadi modal penting bagi perseroan untuk menggenjot kinerja keuangan ke depan.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan mengungkapkan, Sampoerna Agro memiliki ruang yang besar untuk memacu pertumbuhan dalam jangka panjang. Perseroan memiliki cadangan lahan (land bank) seluas 60 ribu hektare (ha) yang siap untuk ditanami.

“Dengan target penanaman seluas 5.000 ha lahan setiap tahun, Sampoerna Agro masih memiliki waktu setidaknya 12 tahun untuk menanami seluruh cadangan lahan tersebut,” tulis Andy dalam risetnya.

Berdasarkan data, total lahan sawit tertanam perseroan mencapai 134 ribu ha hingga September 2020 atau setara dengan 79,3% dari total lahan yang dikuasai perseroan. Dari total lahan tertanam tersebut, sebanyak 84.420 ha merupakan kebun inti dan sisanya kebun rakyat serta pihak lain.

Andy merevisi naik proyeksi kinerja keuangan Sampoerna Agro seiring dengan revisi naik ekspektasi rata-rata harga jual CPO menjadi 3.000 ringgit Malaysia per ton pada 2021 dan 3.200 ringgit Malaysia per ton pada 2022.

Adapun pendapatan dan laba bersih Sampoerna Agro tahun 2020 masing-masing diperkirakan mencapai Rp 2,77 triliun dan Rp 198 miliar, dibandingkan perolehan pendapatan dan laba bersih tahun 2019 yang masing-masing Rp 3,26 triliun dan Rp 33 miliar.

Proyeksi laba bersih Sampoerna Agro tahun 2021 juga dinaikkan dari Rp 275 miliar menjadi Rp 300 miliar. Hal tersebut menggambarkan revisi naik target harga CPO global menjadi 3.000 ringgit Malaysia per ton dibandingkan perkiraan semula 2.600 ringgit Malaysia per ton. Namun, proyeksi pendapatan diturunkan dari Rp 3,96 triliun menjadi Rp 3,42 triliun.

Sementara, perkiraan laba bersih perseroan pada 2022 dinaikkan dari Rp 305 miliar menjadi Rp 343 miliar. Hal itu mencerminkan revisi naik harga jual CPO dari 2.650 ringgit Malaysia per ton menjadi 3.200 ringgit Malaysia per ton. Sedangkan perkiraan pendapatan direvisi turun dari Rp 4,71 triliun menjadi Rp 4,1 triliun.

Dengan berbagai faktor tersebut, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham SGRO dengan target harga direvisi naik dari Rp 2.300 menjadi Rp 2.650. Revisi naik target harga tersebut menggambarkan peningkatan perkiraan laba bersih hingga 2022.

Prospek CPO

Andy Wibowo Gunawan juga mengungkapkan, produksi CPO Malaysia diperkirakan meningkat 3% menjadi 17,5 juta ton pada 2021 dan bisa tumbuh 5% menjadi 18,4 juta ton pada 2022. Target volume produksi tersebut telah memfaktorkan La Nina hingga awal tahun 2021.

Menurut dia, peningkatan produksi tersebut akan berdampak pada perkiraan pertumbuhan volume ekspor CPO Malaysia menjadi 18,3 juta ton pada 2021 dan sebanyak 19,4 juta ton pada 2022, dibandingkan dengan perkiraan ekspor CPO Malaysia tahun 2020 sebanyak 17,4 juta ton. Hal ini bisa menjadi risiko baru terkait harga jual produk komoditas tersebut pada 2021.

Adapun impor CPO India diperkirakan meningkat sekitar 8% menjadi 6,2 juta ton pada 2021 dan diharapkan kembali naik sekitar 7% menjadi 6,7 juta ton pada 2022.

Sementara itu, permintaan impor CPO Tiongkok diperkirakan naik 7% menjadi 6,9 juta ton pada 2021 dan tahun 2022 diprediksi meningkat 5% menjadi 7,2 juta ton.

“Peningkatan permintaan ini diharapkan bisa mengimbangi kenaikan ekspor CPO Malaysia, sehingga berdampak pada kestabilan harga jual,” tulis Andy dalam risetnya. Di dalam negeri, kondisinya berbeda. Volume produksi CPO Indonesia diperkirakan turun menjadi 42 juta ton pada 2021 dari perkiraan semula 43 juta ton. Volume produksi tahun 2022 diperkirakan naik tipis menjadi 42,5 juta ton.

“Peningkatan volume produksi tahun 2022 tersebut memang bisa menaikkan risiko terhadap harga jual CPO dalam jangka pendek, apalagi Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar di dunia,” jelas dia.

Dari sisi permintaan CPO dalam negeri, Andy menyebutkan ada tiga tantangan utama. Pertama, Indonesia kembali menerapkan pungutan ekspor CPO untuk mendukung program biodiesel di dalam negeri.

Kedua, Indonesia kemungkinan menghentikan sementara program biodiesel B40 tahun 2021 akibat kenaikan harga CPO. Ketiga, pemerintah kemungkinan menurunkan target campuran biodiesel dengan minyak bumi sebanyak 9,2 juta liter tahun 2021 dibandingkan target 2020 yang sebanyak 9,6 juta liter.

Tiga faktor tersebut akan berimbas terhadap permintaan CPO di dalam negeri sepanjang tahun 2021. Terlebih, harga minyak dunia rendah. Sebab itu, proyeksi harga CPO tahun 2021 direvisi naik menjadi 3.000 ringgit Malaysia per ton dan diperkirakan meningkat menjadi 3.200 ringgit Malaysia per ton pada 2022.

Peningkatan harga tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan peringkat overweight terhadap sahamsaham CPO.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN