Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR.id


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BRI. Foto:  Investor Daily/DAVID

Bank BRI. Foto: Investor Daily/DAVID

Sumber Pertumbuhan Baru dan Lonjakan Kapitalisasi Pasar BRI

Kamis, 22 Juli 2021 | 10:13 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) atau BRI akan memiliki sumber pertumbuhan baru setelah pembentukan holding BUMN ultramikro, yang akan diawali dengan penerbitan saham baru (rights issue) bernilai super jumbo. Nilai rights issue diperkirakan sebesar Rp 96,5 triliun. Dari sisi kapitalisasi pasar (market cap), saham BRI berpotensi mencapai Rp 600 triliun.

BRI akan menerbitkan saham baru dengan skema memasukkan (inbreng) PT Pegadaian dan PT Permodalan Nasional Madani (PNM) ke dalam perseroan. Valuasi dua perusahaan itu mencapai Rp 54,77 triliun atau masih dalam nilai yang wajar.

Berdasarkan perhitungan MNC Sekuritas, pembauran kedua perusahaan ke dalam holding merefleksikan PBV 1,75 kali.

Analis MNC Sekuritas Victoria Venny mengungkapkan, rights issue BRI akan membangun ekosistem ultramikro di Indonesia. Aksi ini akan memperbesar kemampuan perseroan untuk menjangkau lebih banyak lagi nasabah usaha mikro, usaha kecil, dan menengah (UMKM) yang belum tersentuh institusi perbankan.

“Berdasarkan perhitungan kami, rights issue BRI bisa mencapai Rp 96,5 triliun dengan asumsi harga pelaksanaan Rp 3.365 per saham,” tulis Victoria dalam risetnya.

Bank BRI. Foro: Investor Daily/DAVID GITA ROZA
Bank BRI. Foro: Investor Daily/DAVID GITA ROZA

Nilai rights issue itu terdiri atas inbreng saham Pegadaian Rp 48,67 triliun dan PNM senilai Rp 6,1 triliun. Totalnya mencapai Rp 54,77 triliun. Sisanya Rp 41,74 triliun merupakan potensi dana yang bisa diperoleh BRI dari investor publik.

Mega aksi korporasi ini akan mempermudah BRI bersama dengan Pegadaian dan PNM untuk menggarap 30 juta ultramikro dan UMKM yang selama ini belum tersentuh bank. Pembentukan holding ultramikro ini berpeluang mendongkrak pendapatan BRI hingga 23%. Laba bersih diperkirakan tumbuh 13%.

Begitu juga dengan total aset diperkirakan tumbuh 12,22% menjadi Rp 1.583,55 triliun. “Tidak hanya itu, penggabungan Pegadaian dan PNM ke dalam holding yang dipimpin BRI akan tercipta sinergi dan efisiensi biaya dalam membangun ekosistem ultramikro,” jelas dia.

Harga saham BBRI dalam satu dekade terakhir
Harga saham BBRI dalam satu dekade terakhir

Dalam jangka panjang, sinergi ini akan memberikan keuntungan besar bagi BRI, yaitu terbentuknya sumber pertumbuhan baru dalam penyaluran kredit, yang bakal berdampak pada penurunan biaya kredit (cost of credit/CoC), efisiensi belanja operasional, penurunan biaya dana (cost of fund/CoF), dan rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) diprediksi terkendali dengan baik.

Sebab itu, MNC Sekuritas memberikan pandangan positif terhadap mega aksi korporasi BRI.

MNC Sekuritas mempertahankan rekomendasi beli saham BBRI dengan target harga Rp 4.800. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PBV tahun 2021 sekitar 2,8 kali dan 2,62 kali pada 2022.

Adapun laba bersih BRI tahun ini diproyeksikan bertumbuh menjadi Rp 28,03 triliun dibandingkan realisasi tahun lalu Rp 18,65 triliun. Begitu juga dengan pendapatan bunga perseroan diperkirakan bertumbuh dari Rp 116,93 triliun menjadi Rp 129,46 triliun.

Terbesar di Asia Tenggara

Nasabah Bank BRI keluar dari ATM Galeri usai menarik uang di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR
Nasabah Bank BRI keluar dari ATM Galeri usai menarik uang di Jakarta. Foto ilustrasi: Beritasatu Photo/Uthan AR

Pandangan positif juga diungkapkan analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Handiman Soetoyo, Hariyanto Wijaya, dan Rizkia Darmawan.

Menurut mereka, rights issue dalam rangka mengakuisisi Pegadaian dan PNM akan menjadi katalis positif bagi BRI dalam jangka panjang. Sebab aksi tersebut akan menjadikan BRI  sebagai grup perbankan paling besar di Asia Tenggara dan paling baik dalam penerapan inklusi keuangan.

Konsolidasi tersebut juga mempermudah fokus segmen ultra mikro dan bisnis kecil untuk menjadi sumber utama pertumbuhan kinerja keuangan dalam jangka panjang.

Segmen ultra mikro, menurut Handiman, Hariyanto, dan Rizkia, mencapai 63 juta usaha atau setara dengan 99% dari total usaha di Indonesia. Angka tersebut berdasarkan data Kementerian Koperasi dan UKM pada 2018.

“Dengan sinergi tersebut, populasi penduduk yang belum tersentuh perbankan bisa terlayani dengan baik dengan mengandalkan jaringan BRI dan perusahaan yang terkonsolidasi di dalamnya. Hal ini tentu akan mendongkrak penyaluran kredit dan efisiensi dari sisi belanja operasional dan biaya dana ke depan,” tulis Handiman, Hariyanto, dan Rizkia dalam risetnya.

Selain faktor tersebut, BRI akan mendapatkan tambahan modal dalam jumlah signifikan dengan asumsi pemegang saham publik mengeksekusi haknya. Hal ini tentu memperkuat permodalan perseroan, sehingga kemampuannya untuk menyalurkan kredit dalam jangka panjang jauh lebih besar dibandingkan saat ini.

Market Cap

Kinerja Keuangan Bank Rakyat Indonesia
Kinerja Keuangan Bank Rakyat Indonesia

Sementara itu, dengan potensi market cap Rp 600 triliun setelah rights issue, BRI bakal semakin mendekati PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) di posisi puncak nilai kapitalisasi pasar terbesar di Bursa Efek Indonesia (BEI).

Menurut Head of Research Samuel Sekuritas Indonesia Suria Dharma, selain mendongkrak market cap, CAR BRI berpotensi meningkat menjadi 23% dibandingkan posisi pada kuartal I-2021 sekitar 19,8%.

Di lain pihak, Equity Analyst Sucor Sekuritas Edward Lowis juga mengungkapkan bahwa rights issue berpotensi besar mengangkat market cap BRI menuju Rp 600 triliun.

Market cap saat ini sudah Rp 480 triliun. Dengan ditambah rights issue sebesar Rp 96 triliun, maka akan mendekati Rp 600 triliun,” ujarnya.

Sebelumnya, BRI mengumumkan skema penerbitan saham baru sebanyakbanyaknya 28,7 miliar saham atau setara dengan 23,2%. Pemerintah akan mengeksekusi haknya melalui inbreng saham PNM dan Pegadaian. Sedangkan dana yang dihimpun dari masyarakat dalam rights issue tersebut akan dimanfaatkan sebagai belanja modal untuk mengembangkan ekosistem ultra mikro dan bisnis kecil.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN