Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Ilustrasi apartemen. Foto: summareconserpong.com

Ilustrasi apartemen. Foto: summareconserpong.com

Summarecon Mulai Menggeliat

Kamis, 10 September 2020 | 04:27 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) menunjukkan pemulihan penjualan pemasaran (marketing sales) unit properti dalam beberapa bulan terakhir, seiring pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) di sejumlah daerah. Peningkatan marketing sales juga bakal didukung oleh peluncuran proyek kota mandiri Summarecon Bogor.

Perseroan melalui unit bisnis investasi properti, yaitu pengelolaan mal, hotel, dan pusat rekreasi, diharapkan mulai pulih pada paruh kedua tahun ini atau setelah PSBB dilonggarkan.

Hal ini diharapkan berdampak positif terhadap kinerja keuangan Summarecon pada semester II tahun ini.

Analis Trimegah Sekuritas Farah Rahmi Oktaviani mengungkapkan, marketing sales Summarecon telah mencapai Rp 1,27 triliun hingga Juli 2020. Angka tersebut setara dengan 51% dari target manajemen yang mencapai Rp 2,5 triliun sepanjang tahun ini.

Sedangkan realisasi marketing sales pada Juli 2020 senilai Rp 166 miliar atau naik 51% dari bulan sebelumnya.

“Kenaikan penjualan bulan tersebut sejalan dengan dibukanya kembali aktivitas perekonomian dan peningkatan indeks tingkat kepercayaan konsumen. Namun, rata-rata harga jual produk perseroan masih menunjukkan penurunan,” tulis Farah dalam riset terbaru.

Summarecon Bogor
Summarecon Bogor

Menurut dia, peningkatan marketing sales tersebut diproyeksikan berlanjut hingga akhir tahun ini, seiring dengan rencana perseroan untuk meluncurkan sejumlah proyek properti dengan harga jual di bawah Rp 1,5 miliar.

Di antaranya, peluncuran klaster Magenta di Bekasi, Serpong, Bandung, dan Bogor. “Peluncuran produk baru tersebut diharapkan menopang lonjakan marketing sales perseroan pada paruh kedua tahun ini,” terangnya.

Terkait pengembangan proyek Summarecon Bogor, dia menyebutkan bahwa proyek tersebut kemungkinan diluncurkan pada kuartal terakhir tahun ini.

Kawasan tersebut dinilai prospek didukung lokasi pengembangan yang strategis. Pengembangan hunian baru di kawasan tersebut bertujuan untuk menyasar pembeli yang menginginkan rumah berharga di bawah Rp 1,5 miliar dengan lingkungan yang baik

“Kami memperkirakan bahwa Bogor Township akan menjadi menjadi sentiment positif bagi perseroan untuk menopang marketing sales pada semester dua tahun ini. Apalagi, hunian yang dijual di kota mandiri ini cukup menarik, yaitu akses yang baik, menawarkan kenyamanan lingkungan yang baik, dan hanya perseroan yang baru mengembangkan kota mandiri di daerah tersebut,” ungkap Farah.

Hal tersebut mendorong Trimegah Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham SMRA dengan target harga Rp 750. Target tersebut merefleksikan diskon 73% terhadap nilai aset bersih (RNAV) perseroan.

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Victor Stefano mengungkapkan, pelonggaran PSBB diharapkan berdampak positif terhadap segmen bisnis investasi properti, seperti pengelolaan mal, hotel, dan pusat perbelanjaan, pada paruh kedua tahun ini, meski raihan belum bisa kembali seperti kondisi normal.

Summarecon Agung. Foto ilustrasi: Investor Daily/Emral
Summarecon Agung. Foto ilustrasi: Investor Daily/Emral

Sebagaiman diketahui, segmen bisnis ini menjadi pemicu utama Summarecon mencatat rugi bersih sebesar Rp 27 miliar pada kuartal II-2020. Berdasarkan data perseroan terungkap bahwa segmen investasi properti mencatatkan rugi kotor senilai Rp 76 miliar pada kuartal II-2020 dibandingkan dalam kondisi normal dengan laba kotor sebanyak Rp 200-300 miliar.

“Rugi kotor dipengaruhi oleh penerapan PSBB di Jakarta dan Bali yang berimbas negatif terhadap bisnis invesasi properti perseroan, seperti mal, hotel, dan pusat rekreasi. Semua bisnis tersebut mencatkan rugi kotor,” tulis Victor dalam risetnya.

Sedangkan kinerja keuangan dari bisnis pengembangan properti, Summarecon berhasil meraup pendapatan senilai Rp 1,14 triliun pada kuartal II-2020 atau naik dari kuartal I-2020 mencapai Rp 1,03 triliun. Hal ini menunjukkan dalam kondisi PSBB, perseroan masih berhasil mencetak penjualan dengan baik, meskipun realisasi di bawah pencapaian kuartal II-2019.

Perseroan juga berhasil menurunkan belanja operasional dipengaruhi atas pelemahan segmen bisnis investasi properti. Hal ini membuat belanja operasional perseroan turun sebanyak 13% pada semester I-2020.

Berbagai faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi beli saham SMRA dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 800.

Target harga tersebut menggambarkan perkiraan nilai aset bersih (RNAV) perseroan senilai Rp 2.361. Target harga tersebut juga mempertimbangkan perkiraan penurunan laba bersih Summarecon menjadi Rp 155miliar tahun ini dibandingkan raihan tahun lalu Rp 515 miliar.

Sedangkan pendapatanperseroan diperkirakan turun dari Rp 5,94 triliun menjadi Rp 5,26 triliun. Hingga semester I-2020, perseroan membukukan penurunan pendapatan sebanyak 18% dari Rp 2,67 triliun menjadi Rp 2,18 triliun. Laba bersih juga turun dalam hingga 93% dari Rp 149 miliar menjadi Rp 10 miliar. Raihan laba bersih tersebut menunjukkan margin keuntungan bersih 0,5%, dibandingkan semester I-2019 sebanyak 5,6%.

Sebelumnya, Direktur Utama Summarecon Agung Adrianto P. Adhi mengatakan, pihaknya memangkas target marketing sales unit properti tahun ini dari Rp 5,4 triliun menjadi Rp 2,5 triliun. Hal itu dilakukan sebagai antisipasi penurunan daya beli masyarakat seiring pelemahan ekonomi akibat pandemi Covid-19. Hingga semester I-2020, Summarecon Agung membukukan marketing sales sebanyak Rp 1,1 triliun. “Kami memproyeksikan marketing sales sebanyak Rp 2,5 triliun berasal dari penjualan sektor rumah 60%, ruko 17%, apartemen 16%, dan kantor 7%.

Sedangkan target pendapatan dan laba bersih sendiri masih dihitung,” jelasnya, baru-baru ini. Perseroan, menurut Adrianto, menyiapkan berbagai strategi untuk tetap meraih laba bersih di tengah pandemi, seperti penerapan efisiensi biaya dan menjaga cash flow agar tetap stabil.

Sedangkan upaya untuk meningkatkan penjualan, perseroan akan menerapkan sistem pembayaran yang lebih mudah sebagai daya tarik yang disesuaikan dengan kemampuan para konsumen pada pasar yang dituju perseroan. “Kami juga memanfaatkan teknologi digital, seperti yang sudah kami lakukan pada saat peluncuran proyek di Bekasi, Serpong, Makassar dan visualproyek kami secara digital,” kata dia.

Tahun ini, Summarecon sedang memfokuskan pengembangan properti di Bogor, Jawa Barat yang direncanakan rilis pada Oktober mendatang. Pada proyek ini perseroan berniat melepas properti dengan kisaran harga Rp 1,4 miliar hingga Rp 1,9 miliar. Pada proyek ini, perseroan berharap dapat menyumbang pemasukan hingga Rp 400 miliar.

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN