Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito

Salah satu proyek Adhi Karya. Foto: Joanito

Tahun Ini Masih Berat, Adhi Pulih Tahun Depan

Selasa, 13 Oktober 2020 | 05:46 WIB
Parluhutan Situmorang

JAKARTA, investor.id - PT Adhi Karya Tbk (ADHI) menghadapi tantangan berat sampai akhir tahun ini, karena rendahnya realisasi kontrak baru dan perubahan nilai kontrak yang ada. Kinerja keuangan perseroan diharapkan mulai bangkit pada 2021.

Analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Joshua Michael mengungkapkan, pihaknya memangkas target kinerja keuangan Adhi Karya tahun ini, seiring penurunan kontrak bawaan tahun 2019 setelah dilakukan revisi kontrak.

Sedangkan kinerja keuangan perseroan tahun depan direvisi naik, sejalan dengan perkiraan besarnya perolehan kontrak baru tahun ini yang diharapkan berdampak pada kinerja perseroan tahun 2021.

“Adanya penyesuaian terhadap kontrak bawaan tahun 2019 membuat kami menurunkan target kinerja keuangan Adhi Karya tahun ini. Sedangkan target tahun depan direvisi naik,” tulis Joshua dalam risetnya, baru-baru ini.

PT Adhi Karya (Persero) Tbk, turut menyelesaikan pekerjaan pembangunan Jalan Tol Ruas Sigli-Banda Aceh Seksi 4 (Indrapuri-Blang Bintang) sepanjang 74,2 Km.
PT Adhi Karya (Persero) Tbk, turut menyelesaikan pekerjaan pembangunan Jalan Tol Ruas Sigli-Banda Aceh Seksi 4 (Indrapuri-Blang Bintang) sepanjang 74,2 Km.

Mirae menaikkan target kontrak baru Adhi Karya tahun ini menjadi Rp 23,6 triliun dibandingkan perkiraan semula Rp 9,4 triliun, sehingga total order book perseroan sampai akhir 2020 diestimasi mencapai Rp 54,2 triliun.

Sedangkan realisasi kontrak baru hingga September 2020 mencapai Rp 6,2 triliun. Perseroan sebelumnya memperkirakan perolehan kontrak baru dari sisa tahun ini hingga Rp 22,8 triliun.

Kontrak baru diharapkan berasal dari empat proyek tol, seperti Binjai- Langsa, Solo-Jogja-Kulonprogo, tol Jakarta Dalam Kota, dan Cikunir-Ulujami. Perseroan juga memiliki 35% saham pada perusahaan MMN-Adhi-Acset.

Namun, Mirae merevisi turun target pendapatan Adhi Karya tahun ini menjadi Rp 13,07 triliun dibandingkan perkiraan semula Rp 13,49 triliun. Begitu juga dengan bottom line perseroan direvisi dari laba bersih Rp 3 miliar menjadi rugi bersih Rp 5 miliar.

Adhi Karya. Foto: IST
Adhi Karya. Foto: IST

Adapun pendapatan perseroan tahun 2021 direvisi naik dari Rp 15,13 triliun menjadi Rp 15,33 triliun.

Begitu juga dengan perkiraan laba bersih direvisi naik dari Rp 331 miliar menjadi Rp 375 miliar.

Terkait penerimaan realisasi pembayaran keenam untuk pekerjaan proyek light rapid transit (LRT) Jabodebek Fase I senilai Rp 1,8 triliun dari pemerintah melalui PT Kereta Api Indonesia,

Joshua menegaskan bahwa itu menjadi katalis positif. Pembayaran tersebut dilakukan berdasarkan progress pekerjaan dari Oktober 2019 sampai Desember 2019.

Secara keseluruhan, Adhi Karya telah menerima pembayaran atas pembangunan prasarana LRT Jabodebek sebesar Rp 10,8 triliun. Hingga 25 September 2020, progress pelaksanaan LRT Jabodebek tahap I telah mencapai 77,3%.

Sedangkan pembayaran ketujuh yang sebesar Rp 2 triliun ditargetkan pada Desember tahun ini. Klaim pembayaran berdasarkan hasil progress pengerjaan proyek LRT periode Januari-Maret 2020.

Adapun progres pengerjaan proyek tersebut sudah mencapai 77,3% hingga September 2020, yaitu lintas pelayanan 1 yakni Cawang-Cibubur 91,2%, lintas pelayanan 2 yaitu Cawang-Kuningan-Dukuh Atas 73%, dan lintas pelayanan 3 adalah Cawang-Bekasi Timur 70,7%.

“Kami menargetkan progres pengerjaan proyek tersebut bisa mencapai 80-85% sampai akhir tahun ini. Faktor tersebut mendorong kami untuk mempertahankan rekomendasi trading buy saham ADHI dengan target harga Rp 600,” jelas Joshua.

Salah satu kegiatan konstruksi Adhi Karya. Investor Daily/DAVID GITAROZA
Salah satu kegiatan konstruksi Adhi Karya. Investor Daily/DAVID GITAROZA

Sementara itu, analis Danareksa Sekuritas Maria Renata mengungkapkan, Adhi Karya telah menerima pembayaran pengerjaan konstruksi dari dua proyek senilai Rp 3,2 triliun pada September 2020. Pembayaran berasal dari proyek LRT dan tol Sibanceh.

“Dana masuk tersebut akan memperkuat neraca keuangan perseroan dan menambah cadangan kas internal,” tulis dia dalam risetnya.

Terkait perolehan kontrak baru, Maria menegaskan bahwa Adhi Karya telah menandatangani perubahan dua kontrak tahun ini. Perubahan itu membuat nilai kontrak perseroan turun dari Rp 23,3 triliun menjadi Rp 22,8 triliun. Perubahan kontrak lainnya adalah perubahan mekanisme pembayaran menjadi turnkey payment.

Perseroan juga sedang menunggu pengumuman beberapa tender proyek, yaitu proyek pembangunan jalan tol Binjai-Langsa, proyek Solo-Jogja- Kulonprogo, proyek tol dalam kota Jakarta segmen 6, proyek tol Cikunir-Ulujami, serta beberapa proyek air bersih dan pengelolaan sampah.

Meski sedang mengikuti tender sejumlah proyek, kinerja keuangan perseroan diperkirakan tetap rendah tahun ini, namun diharapkan bangkit pada 2021. Laba bersih Adhi Karya tahun depan diharapkan melonjak menjadi Rp 514 miliar dibandingkan perkiraan tahun ini senilai Rp 67 miliar.

Begitu juga pendapatan tahun 2021 diharapkan melonjak menjadi Rp 14,43 triliun dibandingkan perkiraan tahun ini Rp 10,92 triliun.

Danareksa Sekuritas memangkas turun target harga saham ADHI dari Rp 900 menjadi Rp 730. Target harga tersebut mengimplikasikan perkiraan PE tahun depan 5 kali. Target tersebut juga mempertimbangkan rencana perseroan untuk menerbitkan surat utang senilai Rp 2 triliun pada kuartal IV-2020.

Sebelumnya, Sekretaris Perusahaan Adhi Karya Parwanto Noegroho mengatakan, pihaknya membukukan perolehan kontrak baru sebesar Rp 6,2 triliun hingga akhir September 2020 atau naik sebesar 32% dari perolehan kontrak baru bulan sebelumnya sebesar Rp 4,7 triliun.

Hal ini membuat nilai total kontrak yang ditangani (order book) perseroan menjadi sebesar Rp 36,7 triliun. Realisasi perolehan kontrak baru per September berasal dari pembangunan gedung LIPI senilai Rp 284,7 miliar dan pembangunan gedung UPI di Bandung senilai Rp 203,6 miliar.

“Kontribusi per lini bisnis pada perolehan kontrak baru September, meliputi lini bisnis konstruksi dan energi sebesar 89%, properti sebesar 10%, dan sisanya merupakan lini bisnis lainnya,” katanya.

Sedangkan pada tipe pekerjaan, lanjut Parwanto, perolehan kontrak baru terdiri atas proyek gedung sebesar 37%, mass rapid transit (MRT) sebesar 23%, jalan dan jembatan sebesar 20%, serta proyek infrastruktur lainnya, seperti pembuatan bendungan, bandara, dan proyek-proyek engineering procurement construction (EPC) sebesar 20%.

Berdasarkan segmentasi kepemilikan, realisasi kontrak baru dari pemerintah sebesar 74%, BUMN sebesar 20%, serta swasta dan lainnya sebesar 6%.  

Editor : Gora Kunjana (gora_kunjana@investor.co.id)

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN