Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Kebun Sawit. Foto ilustrasi: DEFRIZAL

Tahun yang Menantang bagi Astra Agro

Parluhutan Situmorang, Selasa, 17 Maret 2020 | 06:00 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) diperkirakan melanjutkan peningkatan pembelian tandan buah segar (TBS) dari pihak ketiga di tengah masih rendahnya volume produksi kebun perseroan. Sementara itu, peningkatan beban bunga juga akan berimbas terhadap penurunan margin keuntungan perseroan.

Kedua faktor tersebut mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi turun target laba bersih Astra Agro tahun 2020 dan 2021. Perkiraan laba bersih direvisi turun dari Rp 940 miliar menjadi Rp 846 miliar.

Sedangkan penjualan direvisi naik dari Rp 20,35 triliun menjadi Rp 20,96 triliun.

Revisi turun laba juga dipicu oleh revisi naik perkiraan beban pokok penjualan perseroan tahun ini mencapai Rp 17,43 triliun dibandingkan estimasi semula Rp 16,98 triliun. Peningkatan beban dipengaruhi atas ekspektasi kenaikan volume penjualan TBS dari pihak ketiga menjadi 3,54 juta ton tahun ini dibandingkan perkiraan semula 3,41 juta ton.

Meski proyeksi laba bersih dipangkas, realisasi kinerja keuangan Astra Agro tahun 2019 hasil revisi masih menunjukkan pertumbuhan. Laba bersih diperkirakan bertumbuh menjadi Rp 846 miliar tahun ini dibandingkan raihan tahun lalu senilai Rp 211 miliar. Pendapatan juga diperkirakan bertumbuh dari Rp 17,45 triliun menjadi Rp 20,96 triliun tahun ini.

Danareksa Sekuritas memperkirakan peningkatan volume produksi CPO juga diharapkan meningkat menjadi 1,7 juta ton tahun ini, volume penjualan minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) sebanyak 1,49 juta ton tahun ini, dan volume penjualan kernel juga diharapkan mencapai 299 ribu ton.

Sedangkan rata-rata harga jual CPO perseroan tahun ini diperkirakan berada dalam kisaran Rp 14.200 per kilogram. Meski volume produksi diharapkan mengalami pertumbuhan, volume produksi TBS perseroan diperkirakan mencapai 4,84 juta ton tahun ini.

Hal ini mendorong perseroan akan meningkatkan pembelian TBS dari pihak ketiga untuk mendongkrak volume produksi perseroan tahun ini. Kinerja keuangan tersebut akan dipengaruhi ekspektasi pergerakan harga jual minyak yang mencapai level terendah beberapa hari terakhir. Harga jual CPO juga dipengaruhi atas pandemik global Covid-19 yang telah menyebar ke banyak negara.

Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana
Panenan sawit di sebuah pabrik. Foto ilustrasi:: Investor Daily/Gora Kunjana

“Pandemik global oleh Covid-19 telah menekan harga jual semua komoditas, termasuk CPO. Apalagi, selama ini Tiongkok menjadi consumer minyak nabati terbesar di dunia,” sebut Danareksa Sekuritas dalam risetnya.

Revisi turun perkiraan laba bersih Astra Agro Lestari tahun ini ditambah pandemik global Covid-19 mendorong Danareksa Sekuritas untuk merevisi turun target harga saham AALI dari Rp 15.000 menjadi Rp 13.500 dengan rekomendasi dipertahankan beli.

Pandangan berbeda diungkapkan analis Mirae Asset Sekuritas Indonesia Andy Wibowo Gunawan. Menurut dia, ekspektasi kenaikan harga jual CPO menjadi mesin pertumbuhan kinerja keuangan emiten perekebunan kelapa sawit, khususnya Astra Agro tahun ini.

“Kami memilih untuk merevisi naik target CPO tahun 2020 dan 2021 masing-masing 16,3% menjadi MYR 2.500 per ton dan 18,2% menjadi MYR 2.600 per ton. Peningkatan tersebut bisa berimbas terhadap harga-harga saham emiten perkebunan tahun ini,” ungkap dia dalam risetny

Andy menyebutkan bahwa faktor utama pendongkrak harga jual CPO berasal dari perkiraan penurunan produksi CPO Malaysia yang bisa berimbas terhadap penurunan suplai global, sehingga memicu kenaikan harga jual. Apalagi Malaysia tercatat sebagai produsen CPO terbesar kedua di dunia.

Adapun produksi CPO Malaysia diperkirakan turun sekitar 500 ribu ton menjadi 19,4 juta ton tahun ini. Penurunan dipengaruhi oleh El Nino dan penurunan penggunaan pupuk tahun lalu. Sedangkan volume produksi CPO di Negeri Jiran tersebut diperkirakan meningkat menjadi 19,6 juta ton pada 2021.

Terkait perkiraan suplai CPO Indonesia, dia memproyeksikan meningkat menjadi 44 juta ton tahun 2020 dan kembali tumbuh menjadi 44,5 juta ton pada 2021. Begitu juga dengan konsumsi CPO dalam negeri diperkirakan meningkat didukung pemberian insentif melalui mandatori biodiesel.

“Kami memperkirakan pro- gram B30 biodisel Indonesia akan mencapai 8,5 miliar liter tahun 2020, di bawah perkiraan pemerintah sebanyak 9,4 juta ton. Program tersebut berpotensi mendongkrak konsumsi CPO domestik menjadi 12,5 juta ton tahun 2020 dan 2021,” jelas Andy.

Kedua faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk merevisi naik target harga saham AALI dari Rp 11.800 menjadi Rp 15.350 dengan rekomendasi beli. Peningkatan target harga tersebut juga mempertimbangkan faktor lain, seperti revisi naik target kinerja keuangan perseroan tahun ini, berjalannya penanaman kembali (replanting) lahan, dan posisi neraca keuangan perseroan yang kian positif.

Mirae Asset Sekuritas Indonesia menargetkan pertumbuhan laba bersih Astra Agro menjadi Rp 803 miliar tahun ini dibandingkan perkiraan tahun 2019 senilai Rp 320 miliar dan realisasi tahun 2018 mencapai Rp 1,43 triliun. Pendapatan diperkirakan meningkat menjadi Rp 15,73 triliun tahun 2020 dibandingkan proyeksi tahun 2019 senilai Rp 13,84 triliun dan perolehan tahun 2018 mencapai Rp 19,08 triliun.

Kinerja dan Dampak Korona

Terkait realisasi kinerja keuangan Astra Agro tahun 2019, Andy menegaskan bahwa hasilnya jauh di bawah ekspektasi Mirae Asset Sekuritas dan konsensus analis.

“Perolehan laba bersih tersebut hanya merefleksikan 65,9% dari perkiraan kami dan 46,5% dari ekspektasi konsensus analis,” ungkap dia.

Astra Agro membukukan penurunan laba bersih sebesar 8,5% dari Rp 19,08 triliun menjadi Rp 17,45 triliun tahun lalu. Laba bersih juga anjlok 85,3% dari Rp 1,43 triliun menjadi Rp 211 miliar. Anjloknya laba bersih sejalan dengan penurunan drastis margin keuntungan kotor (gross margin) perseroan dari 18,5% menjadi 12,3%. Begitu untungan Astra Agro sepanjang tahun lalu.

CEO PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) Santosa. Foto: IST
CEO PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) Santosa. Foto: IST

Sebelumnya, Presiden Direktur Astra Agro Lestari Santosa mengatakan, adanya wabah Virus Korona di Tiongkok tidak terlalu mempengaruhi Astra Agro karena Tiongkok bukan pasar utama ekspor. Pasar utama ekspor perusahaan adalah negara di Asia Selatan terutama di India, permintaan CPO di India terus tumbuh dalam 3 tahun terakhir ini.

“Tiongkok kena virus korona tidak ada masalah, justru kami lebih banyak melakukan ekspor ke India,” ujar dia.

Santosa menambahkan, memasuki tahun 2020, perseroan tetap optimistis melihat pasar karena harga tandan atau buah segar kelapa sawit mulai naik. Namun, dia belum bisa memperkirakan berapa harga minyak mentah untuk tahun ini tetapi sudah ada gambaran, harganya akan membaik karena perekonomian global sudah stabil.

Santosa menjelaskan pasar global memang misteri karena tidak bisa ditentukan apakah membaik atau krisis, kunci agar perusahaan bertahan yaitu dengan melakukan inovasi.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN