Menu
Sign in
@ Contact
Search
×

Email

Password

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Email

Password


×

Nama

Email

Password

Ulangi Password


×

Pencarian


×

INVESTOR DAILY


Alamat Redaksi :
BeritaSatu Plaza 11th Floor, Suite 1102 Jl. Jend. Gatot Subroto Kav. 35-36 | Jakarta 12950

Telpon:
+6221-29957555 | Fax: +6221-5200072

Email:
subscription.services@beritasatumedia.com
Bank BCA. Foto: DEFRIZAL

Bank BCA. Foto: DEFRIZAL

Tahun yang Menantang bagi BCA

Parluhutan Situmorang, Kamis, 25 Juni 2020 | 04:43 WIB

JAKARTA, investor.id - PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) masih menghadapi tantangan berat tahun ini, seiring potensi penurunan kinerja keuangan perseroan dan daya beli masyarakat. Terlebih, sektor perbankan di Tanah Air juga dibayangi oleh penurunan margin bunga bersih (NIM) dan kenaikan biaya kredit di tengah pandemi Covid-19.

Kondisi tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas Indonesia untuk memangkas proyeksi kinerja keuangan sektor perbankan di Indonesia. Pihaknya juga menurunkan proyeksi pertumbuhan kredit, NIM, biaya pendanaan, dan penurunan kualitas aset sektor hingga akhir tahun ini.

Analis Mirae Asset Sekuritas Lee Young Jun mengungkapkan, pandemi Covid-19 yang berkepanjangan bakal berimbas terhadap ketidakpastian ekonomi, khususnya sektor perbankan.

“Kami memperkirakan laba perusahaan dan daya beli masyarakat kemungkinan tetap melemah hingga semester II tahun ini. Penurunan tersebut tentu akan berimbas terhadap pelemahan kredit perbankan dan menaikkan biaya kredit,” tulis dia dalam risetnya, baru-baru ini.

Meski demikian, menurut Young Jun, bank-bank besar diprediksi tetap memiliki daya tahan yang kuat untuk tetap bertahan di tengah kondisi tersebut. Berdasarkan data hingga kuartal I-2020, bank memiliki CAR berkisar 16,1- 23,5%.

“Berdasarkan kalkulasi kami, bank-bank masih mampu untuk menanggung tambahan biaya kredit hingga 2,5-9,6%,” ungkap dia.

Karyawan Bank menghitung uang dolar Amerika Serikat saat penukaran mata uang tersebut di Bank BCA Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia, di Jakarta, Kamis (19/3/2020).  Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal
Karyawan Bank menghitung uang dolar Amerika Serikat saat penukaran mata uang tersebut di Bank BCA Kantor Cabang Bursa Efek Indonesia, di Jakarta. Foto: BeritaSatu Photo/Mohammad Defrizal

Kenaikan biaya kredit turut serta menekan margin keuntungan hingga semester II tahun ini. Penurunan itu sejalan dengan perkiraan peningkatan biaya kredit 294 basis poin (bps) pada 2020 dan 217 bps pada 2021.

Penurunan NIM juga dipengaruhi atas restrukturisasi kredit. Diperkirakan, NIM akan turun mendekati 90 bps pada 2020 dan cenderung mendatar pada 2021. Namun, dalam jangka pendek, emiten sektor perbankan didukung oleh sentimen positif pelonggaran pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dan ekspektasi rebound performa operasional sejumlah perusahaan pada kuartal III-2020 setelah terpuruk pada kuartal II-2020.

Yang jelas, sentimen tersebut hanya bersifat jangka pendek, karena sektor perbankan belum menunjukkan peningkatan fundamental sejak pandemi Covid- 19 dan tingkat atraktif saham bank lebih rendah dibandingkan sektor lainnya.

Sebab itu, Mirae Asset Sekuritas mempertahankan rekomendasi netral untuk saham perbankan. Rekomendasi tersebut juga mempertimbangkan bahwa laba emiten sektor ini tetap melambat pada 2020 dan diperkirakan berlanjut hingga semester I tahun depan.

Rekomendasi netral tersebut juga menggambarkan belum adanya tanda-tanda berakhirnya wabah Covid-19 di Indonesia. Hal ini akan menekan belanja masyarakat dan berimbas terhadap penurunan investasi sejumlah perusahaan.

Paling Kuat

Bank BCA. Foto ilustrasi:  IST
Bank BCA. Foto ilustrasi: IST

Sementara itu, Mirae Asset Sekuritas menyebutkan BCA sebagai bank dengan proyeksi penurunan laba bersih paling rendah tahun ini dibandingkan perusahaan sejenis. Namun, Mirae tetap memangkas target kinerja keuangan BCA tahun ini.

“Kami meyakini bahwa wabah Covid-19 yang berkepanjangan akan berimbas negative terhadap kualitas aset BCA dan menaikkan biaya kredit. Pertumbuhan kredit dan NIM diperkirakan jatuh yang berimbas terhadap koreksi laba bersih tahun ini dibandingkan tahun lalu,” jelas Young Jun.

Mirae Asset Sekuritas menurunkan target laba bersih BCA tahun ini dari Rp 28,95 triliun menjadi Rp 24,13 triliun. Perkiraan pendapatan bunga perseroan juga dipangkas dari Rp 52,55 triliun menjadi Rp 48,75 tahun ini. Perkiraan pertumbuhan kredit juga dipangkas dari 3,1% menjadi 2,6%. Sedangkan biaya kredit (credit cost) direvisi naik dari 1,1% menjadi 1,8%.

Menurut Young Jun, pertumbuhan kredit segmen korporasi BCA diprediksi lebih tinggi dibandingkan emiten bank lainnya tahun ini. Hal ini didukung oleh likuiditas yang kuat dan telah mempertimbangkan penerapan risiko.

Sedangkan kredit konsumer diperkirakan cenderung bearish sejalan dengan pelemahan daya beli masyarakat.

Bank BCA. Foto: Investor Daily/DOK
Bank BCA. Foto: Investor Daily/DOK

Adapun NIM BCA diperkirakan turun sebesar 71 bps tahun ini akibat besarnya restrukturisasi kredit dan penurunan bunga kredit segmen korporasi.

Sedangkan biaya dana (funding cost) diperkirakan turun sejalan dengan estimasi peningkatan CASA bank-bank besar.

Beberapa faktor tersebut mendorong Mirae Asset Sekuritas untuk mempertahankan rekomendasi hold terhadap saham BBCA, dengan target harga direvisi naik menjadi Rp 29.270. Target harga tersebut juga mempertimbangkan PBV tahun ini berkisar 3,8 kali.

Di lain pihak, analis Samuel Sekuritas Suria Dharma mengungkapkan, restrukturisasi kredit BCA akibat pandemi Covid 19 diperkirakan meningkat hingga mencapai Rp 122- 183 triliun tahun ini. Hingga pertengahan Mei 2020, total restrukturisasi kredit yang sudah masuk mencapai Rp 65- 82,6 triliun.

Total kredit yang direstrukturisasi bisa mencapai 20-30% dari total kredit yang telah disalurkan perseroan. Restrukturisasi dalam bentuk perpanjangan jangka waktu, penundaan pokok, penundaan pokok dan bunga. Untuk kredit consumer, mayoritas restrukturisasi KPR dan KKB adalah perpanjangan jangka waktu.

“Meski demikian, kami tetap merekomendasikan beli saham BBCA dengan target harga Rp 32.000. Target harga tersebut merefleksikan perkiraan PBV tahun 2021 3,8 kali,” tulis Suria dalam risetnya.

Target harga tersebut juga mempertimbangkan penurunan laba bersih BCA menjadi Rp 24,17 triliun tahun ini dibandingkan perolehan sepanjang 2019 senilai Rp 28,56 triliun. Pendapatan bunga perseroan diperkirakan turun tipis dari Rp 50,47 triliun menjadi Rp 50,39 triliun.

Sumber : Investor Daily

BAGIKAN